Dalam Pembuangan di Padang Pasir

Dalam Pembuangan di Padang Pasir

Palestina, Palestina itu teratak hijau, bunganya seperti sulaman gaun perempuan, perbukitannya memeluk bulan Maret dengan harapan bunga semak dan bakung,

Musim bunga telah menggulung musim bunga lagi, dalam pembuangan di suatu tumpak padang pasir lalu beringsut ke tumpak padang pasir lain, apa kabar kecintaan kami, sementara kelopak mata ditetesi embun beku dan debu?

Palestina, Palestina itu teratak hijau, bunganya seperti sulaman gaun perempuan, perbukitannya memeluk bulan Maret dengan harapan bunga semak dan bakung, bulan April dengan ledakan kembang yang merekah bak pengantin hari kemarin, Mei penuh sipongang lagu pedusunan yang dinyanyikan tengah hari di bawah teduh bayang agak kebiru-biruan di antara batang zaitun di lembah, dan sementara ladang-ladang menjanjikan tuai kita nanti, pula janji bulan Juli dengan tari, di tengah suasana gembira panen.

Wahai tanah masa kanak, kini kau seperti impian di bawah naungan pohon jeruk di antara batang-batang badam di lembah – ingatlah pada kami yang mengembara di antara jerat duri di padang pasir, mendaki karang-karang pegunungan, ingatlah kami kini walau kau dipasung hiruk pikuk kota jauh dari padang dan laut, ingatlah kami yang bermata penuh debu, tak sempat terbersihkan dalam pengembaraan yang tak habis-habis ini.

Read More

Mereka kunyah-kunyah padang kembang di lereng perbukitan sekitar sini, mereka ledakkan rumah demi rumah sebelum sempat berbenah, di antara bata berserak potongan jenazah, di depan kami terbuka gulungan padang pasir dan lembah yang menggeliat kelaparan, dan bayang-bayang biru yang berantakan jadi serpihan duri merah, terbungkuk sepanjang onggokan jenazah yang terlantar jadi makanan tengah hari burung elang dan gagak.

Dari bukit kaukah itu malaikat bernyanyi pada para gembala tentang damai atas bumi dan budi pekerti asri antara manusia? Hanya maut yang gelak-gelak melihat ada tulang rusuk orang yang terapung dalam jeroan binatang buas, dan dalam tingkah-meningkahnya tawa bahak kekeh-kekeh, peluru sang maut menari gembira di atas deretan kepala wanita yang nangis tersedu-sedu.

Tanah kami Zamrud

Cuma dalam pembuangan di padang, sesudah musim bunga menggulung musim bunga lagi, debu menggasak muka kami, jadi, apa kabar kecintaan kami? Sementara kelopak mata dan mulut kami diliput embun beku dan debu?

Oleh: Jabra Ibrahim Jabra

Diterjemahkan oleh Taufiq Ismail