Catatan Untuk Pendakwah Salafi: Benarkah Doa Setelah Shalat Tidak Ada Dalilnya?

Catatan Untuk Pendakwah Salafi: Benarkah Doa Setelah Shalat Tidak Ada Dalilnya?

Catatan Untuk Pendakwah Salafi: Benarkah Doa Setelah Shalat Tidak Ada Dalilnya?

Salah seorang penceramah dalam sebuah video yang beredar di media sosial mengatakan tidak ada hadis shahih tentang dalil berdoa sesudah shalat wajib. Yang ada adalah doa di dalam shalat itu sendiri. Sebab kata “Dubura kulli shalat” artinya adalah akhir dari shalat sebelum salam.

Benarkah demikian? Ah kayak lebih alim dari pada Imam Bukhari saja ustadz ini. Mari simak dengan seksama Bab yang ditulis oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya:

ﺑﺎﺏ اﻟﺪﻋﺎء ﻓِﻲ اﻟﺼَّﻼَﺓِ

“Bab berdoa dalam shalat”

Setelah bab tersebut Imam Bukhari menulis lagi:

ﺑﺎﺏ اﻟﺪﻋﺎء ﺑَﻌْﺪَ اﻟﺼَّﻼَﺓِ

“Bab berdoa setelah shalat”

Kemudian Imam Bukhari dengan sanadnya meriwayatkan hadis:

ﻛَﺘَﺐَ اﻟﻤُﻐِﻴﺮَﺓُ، ﺇِﻟَﻰ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥَ: ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﺩُﺑُﺮِ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ ﺇِﺫَا ﺳَﻠَّﻢَ:ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ اﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ، ﻟَﻪُ اﻟﻤُﻠْﻚُ، ﻭَﻟَﻪُ اﻟﺤَﻤْﺪُ، ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْءٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ، اﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﻣَﺎﻧِﻊَ ﻟِﻤَﺎ ﺃَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﻻَ ﻣُﻌْﻄِﻲَ ﻟِﻤَﺎ ﻣَﻨَﻌْﺖَ، ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﺫَا اﻟﺠَﺪِّ ﻣِﻨْﻚَ اﻟﺠَﺪُّ

Mughirah menulis surat kepada Muawiyah bin Abi Sufyan bahwa Rasulullah shalallahu alahi wa sallam selesai setiap shalat JIKA SUDAH SALAM membaca: “Laa ilaaha Illa Allah … ”

Dalam riwayat Imam Muslim lebih tegas lagi:

ﻛَﺘَﺐَ اﻟْﻤُﻐِﻴﺮَﺓُ ﺑْﻦُ ﺷُﻌْﺒَﺔَ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ، ﺇِﺫَا ﻓَﺮَﻍَ ﻣِﻦَ اﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻗَﺎﻝَ: ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ اﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ، ﻟَﻪُ اﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ اﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْءٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ، اﻟﻠﻬُﻢَّ ﻻَ ﻣَﺎﻧِﻊَ ﻟِﻤَﺎ ﺃَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﻻَ ﻣﻌﻄﻲ ﻟِﻤَﺎ ﻣَﻨَﻌْﺖَ، ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﺫَا اﻟْﺠَﺪِّ ﻣِﻨْﻚَ اﻟْﺠَﺪُّ

Mughirah menulis surat kepada Muawiyah bin Abi Sufyan bahwa Rasulullah shalallahu alahi wa sallam jika SELESAI SHALAT DAN SALAM membaca: “Laa ilaaha Illa Allah … ”

Maka betul apa yang dikatakan di masa ulama Salaf bahwa Mufti memiliki kriteria hafalan hadis. Berapa jumlahnya? Abu Dharir bertanya kepada Imam Ahmad berapa hafalan hadis seorang Mufti? Apakah 100.000 hadis? Imam Ahmad menjawab: “Belum!!!” Apakah 200.000 hadis? Imam Ahmad menjawab: “Belum!!!” Apakah 300.000 hadis? Imam Ahmad menjawab: “Belum!!!” Apakah 400.000 hadis? Imam Ahmad menjawab: “Belum!!!” Apakah 500.000 hadis? Imam Ahmad: “Saya harap begitu”. Kriteria ini juga disampaikan oleh ulama lain seperti Yahya bin Ma’in.

Jadi kalau masih belum hafal Shahih Bukhari yang berisikan 7000-an hadis jangan berfatwa dulu.