Agama dan Simbol, Bagaimana Cara Membedakannya?

Gisele Marie, seorang musikus asal Brasil, menjadi salah satu simbol hijab mental. Source: Al Arabiya News

Agama dan Simbol, Bagaimana Cara Membedakannya?

Bagaimana cara membedakan agama dan simbol di sekitar kita

Semua agama, termasuk yang disebut dengan “agama bumi”, pada dasarnya datang dari “langit”. Ketika diterima manusia, yang kata Yoval Noah Harari memiliki otak jumbo tapi punya daya tubuh minim sehingga memaksanya bersosial dan melahirkan budaya, di situlah agama hadir dalam bentuk “bumi”. Agama yang semula pesan-pesan Tuhan untuk manusia kini terwujud dalam bentuk karya karsa manusia, mulai dari institusi, bahasa, simbol hingga gaya hidup. Yang abstrak mewujud sebagai yang konkrit.

Ajaran yang abstrak dan produk karsa yang konkrit itu saling bertaut satu sama lain. Keduanya terhubung dalam suatu pertalian yang disebut Nurcholis Madjid dengan istilah “rasa kesucian”. Ikatan suci itu menjadikan institusi (organisasi, lembaga, kelompok agama, dan lain-lain), bahasa, simbol (logo, bendera dan lain-lain) dan gaya hidup (pakaian, cara berkomunikasi, gestur tubuh, dan lain-lain) dianggap sakral, sesakral agama yang direpresentasikannya.

Kesakralan itu menyamarkan garis batas antara agama sebagai ajaran Tuhan dengan agama sebagai hasil kreativitas manusia, sehingga generasi beragama tersilap-paham dan sulit membedakan keduanya. Akhirnya, institusi agama dan orang-orang di dalamnya dianggap suci, gerakannya juga gerakan suci, bahasa agama diresmikan, simbol-simbol agama tak boleh dihinakan dan gaya hidup agamis menjadi ukuran kesalehan.

Read More

Menurut Cak Nur, juga Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, keduanya harus dipisahkan dalam konsep untuk menaruhnya di tempat pemahaman yang tepat agar kita terhindar dari kesilap-pahaman itu, meski kita tidak bisa mengabaikan pertautan keduanya dalam ekspresi keberagamaan. Pemisahan itu penting agar institusi dan kelompok-kelompok agama tidak bersifat eksklusif, orang-orang berbahasa Arab tidak mesti lebih tinggi derajatnya, orang tidak lagi mudah merasa tersinggung karena simbol agamanya dihina, serta agar orang yang tidak tidak berjanggut tidak dianggap kurang saleh.

Posmodernisme menyediakan kerangka pemikiran yang cukup kuat dalam upaya pemisahan tersebut. Foucault misalnya menyebut bahwa segala sesuatu yang ada, yakni produk hukum, institusi, bahasa, simbol dan gaya hidup tadi, adalah wacana, suatu kumpulan pernyataan yang mempresentasikan sesuatu yang lain, sehingga wacana tidaklah identik dengan sesuatu yang diwakilinya.

Derrida juga menyatakan bahwa segala sesuatu yang hadir hanyalah bahasa yang terserak, meninggalkan remah-remah makna yang dilupakan dan disingkirkan, sehingga tugas kita adalah membongkar (dekonstruksi) bahasa tersebut. Akan tetapi, posmodernisme dianggap jatuh pada subjektivisme dan yang riil, yang benar, yang sejati, pada hakikatnya nihil – meski Derrida menyatakan kebenaran hanya tertunda.
Karena itu kita harus menengok prinsip wujud (ontologi) menurut al-Ghazali.

Dalam tulisannya, al-maqshad al-Asna Syarh Asma` Allah al-Husna, al-Ghazali menyebut bahwa wujud ontologis terbagi tiga, yaitu, wujud pada dirinya (wujud fi al-‘a’yan), wujud pada bahasa (wujud fi al-lisan) dan wujud pada pikiran (wujud fi al-adzhan). Meja sebagai benda adalah wujud pada dirinya yang terpisah dari manusia, kata “meja” adalah wujud pada bahasa dan konsep meja yang ada dalam ingatan kita adalah wujud dalam pikiran.

Baik posmodernisme maupun al-Ghazali sama-sama mengungkapkan ada keterpisahan antara masing-masing wujud itu. Wacana terpisah dari sesuatu yang diwakilinya, bahasa terpisah dari maknanya, bahasa dan konsep dalam pikiran terpisah dari yang riil dan yang sejati (al-a’yan), sehingga kedua wujud itu tidak identitik meski saling bertaut dan membutuhkan. Akan tetapi, berbeda dengan posmodernisme yang nihilistik, al-Ghazali mengatakan pengetahuan tentang yang riil, yang benar dan yang sejati bisa dicapai bukan melalui penalaran rasional, melainkan melalui penyingkapan (mukasyafah).

Dengan demikian, institusi agama tidak sama dengan agama itu sendiri, bahasa agama bukanlah agama sebenarnya, simbol-simbol agama juga bukan agama sebenarnya. Dalam kehidupan sosial kedua wujud itu saling bergandengan, tapi pada wujud fi al-‘yan keduanya terpisah. Agama dan produk keagamaan bersatu dalam ekspresi, tapi terpisah dalam konsep.

Karena itu, ketika al-Qur`an mengatakan “kemanapun kamu menghadap di sana ada wajah Allah”, apakah wajah Allah berupa alam semesta dan benda-benda di dalamnya adalah Allah? Jika ya, maka kita sudah jatuh pada syirik.

Ketika anda menuliskan nama anda di atas selembar kertas, apakah tulisan itu anda? Ketika kalimah tauhid ditulis di atas selembar kain lalu, apakah tulisan itu kalimah tauhid itu sendiri? Dan kalimah itu, apakah ia tauhid itu sendiri?
Sekali lagi, pemisahan di atas sungguh penting, seperti ajaran agama Islam yang memisahkan antara dunia (bentuk) dan akhirat (substansi).