Zikir & Doa Setelah Magrib, Hikmahnya Malaikat Bakal Menjagamu dari Setan Hingga Fajar

Ilustrasi perempuan berdzikir (Freepik)

Zikir & Doa Setelah Magrib, Hikmahnya Malaikat Bakal Menjagamu dari Setan Hingga Fajar

Bagaimana jika Malaikat menjagamu dari setan hingga pagi tiba, baca doa dan zikir ini

Imam Nawawi dalam al-Azkar menjelaskan, selain dianjurkan membaca zikir yang Rasul contohkan setiap shalat lima waktu, terdapat zikir yang khusus dibaca setiap selesai shalat maghrib.

Disunnahkan menambah zikir yang dijelaskan oleh Ibnu Sunni dari Ummu Salamah ra, dia berkata; Rasulullah Saw ketika selepas shalat maghrib beliau masuk ke dalam rumah, melakukan shalat dua rakaat dan membaca

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ والأَبْصَارِ ثَبِّتْ قَلْبَنَا عَلَى دِينِكَ

Read More

Yaa muqalibal quluubi wal abshaar, tsabbit quluubanaa ‘alaa diniik

Artinya; “Wahai Zat yang membolak balikkan hati dan penglihatan, tetapkanlah hati kami atas agamamu.”

Kemudian dilanjutkan dengan dengan zikir yang diriwayatkan Tirmizi dari Amarah bin Syabib ra, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja yang membaca

لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ

laa ilaaha illaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa ‘alaa kullii syai’in qadiir.

Artinya; “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian, dia Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa.”

Dibaca sepuluh kali setelah maghrib maka Allah akan mengutus malaikat penjaga yang menjaga dari setan hingga pagi hari, Allah akan menganugerahkan sepuluh pahala yang menghantarkannya masuk surga, Allah akan menghapus sepuluh sepuluh dosa yang mencelakakan, dan bacaan tersebut senilai memerdekakan sepuluh budak mukmin.

Imam Tirmizi mengatakan, “Aku tidak pernah mendengar Amarah mendengar langsung dari Nabi Saw.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Nasai dalam Sunan-nya dalam kitab Amalu Yaumin Walailah dari dua jalur perari, pertama sebagaimana di atas, dan yang kedua dari riwayat sahabat Anshar, Abu Qasim bin Asyakir mengatakan, “Riwayat yang kedua ini yang benar.”.

*Bisa juga dibaca di sini