Yang Tersisa dari Piala Dunia 2018: Memori Perang Suku dan Kebangkitan Multikulturalisme

Kolinda Grabar-Kitarović, Presiden Kroasia, tampaknya memahami betul arti perjuangan timnya menjadikan sepakbola sebagai pemersatu dan jendela informasi publik internasional yang baru berdiri 1991 itu, meskipun, timnya kalah dari Prancis. Pict by EPA/MAHMOUD KHALED

Yang Tersisa dari Piala Dunia 2018: Memori Perang Suku dan Kebangkitan Multikulturalisme

Piala Dunia 2018 memberikan banyak catatan menarik, salah satunya kemenangan Prancis yang sebagian besar pemainnya imigran

Tim sepak bola Prancis membawa pulang trofi Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan Kroasia di babak final dengan skor 4 – 2. Air mata suka dan duka, teriakan gembira, tangisan kecewa, dan berbagai ekspresi emosi manusia yang terlibat dalam perhelatan turnamen paling akbar sejagat itu, menjadi karnaval yang mempertontonkan betapa kompleksnya manusia beserta dunia dan seisinya ini.

Kompetisi olahraga antar bangsa paling gegap gempita itu bukan saja menegaskan kesahihan tesis homo ludens, namun juga menyibak tabiat paling purba dari kawanan manusia: menaklukkan sang liyan. Dan entah kapan serta bagaimana mulanya, peradaban umat manusia menemukan permaian ajaib bernama sepak bola, dan sejak 1938 mulai membangun sebuah tradisi global nan sakral bertajuk Piala Dunia.

Sangat mungkin itu merupakan rangkaian upaya naluriah umat manusia untuk menciptakan medan laga edisi main-main, sebagai tandingan dari medan laga betulan bernama survival of the fittest yang kerap menguras bukan saja air mata, melainkan darah.

Read More

Dalam ukuran tertentu, dengan Piala Dunianya, FIFA boleh dibilang merupakan sebuah organisasi internasional yang mampu membentangkan senarai arena di mana satuan-satuan manusia berbentuk negara (bangsa, ras, agama), setiap empat tahun sekali bisa melampiaskan dorongan arkaik untuk saling bertempur menjadi yang terkuat, dengan cara yang sopan dan menyenangkan.

Itulah versi “syantik” dari manifestasi homo homini lupus dan zoon politicon. Dan medan perang-perangan itu terbukti berjaya menjadi teluh modern, menghipnotis sekian banyak manusia seolah-olah mereka dengan riuh sedang keluar dari gua-gua batu dan ramai-ramai menyerbu sekawanan manusia lain, padahal mereka tengah duduk di tribun stadion atau di sebuah bar yang penuh sesak, sembari berteriak-teriak.

Dengan begitu, Piala Dunia bukan lagi sekadar kejuaraan olahraga belaka, melainkan bayang-bayang terang dari ingatan kolektif manusia yang diwariskan dari masa yang paling awal. Ia memang berbentuk pertandingan antara sebelas laki-laki dari satu bangsa melawan sebelas laki-laki dari bangsa lainnya, berlomba paling banyak memasukkan bola ke gawang lawan dengan cara dan seperangkat aturan tertentu.

Namun, di balik itu sesungguhnya ia mengemban amanat prasejarah: perkelahian antar kawanan manusia yang kemudian kita mengenalinya sebagai “perang suku”. Suku yang satu bergelut melawan suku yang lainnya, memperebutkan apa saja yang dipandang perlu direbut. Maka para “kepala suku” modern yang terlibat merasa terpanggil untuk keluar dari “gua-gua batunya”, dan mendatangi medan perebutan menyemangati anggotanya.

Baca juga: Homo Ludens, Piala Dunia Non-Syariah

Puluhan kepala negara hadir dan menyaksikan langsung pertandingan-pertandingan di Piala Dunia 2018, mulai dari presiden Rusia Vladimir Putin selaku tuan rumah, putra mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman, putri Jepang Hisako Takamado, presiden Perancis Emmanuel Macron hingga presiden Kroasia Kolinda Kitarovic yang cantik dan atraktif.

Dengan demikian menjadi muskil mengharapkan Piala Dunia dilihat sebagai pertunjukan olahraga semata. Aspek lain, terutama politik, senantiasa ikut melirik ke arah bergulirnya bola. Pemihakan seseorang kepada tim-tim yang bertanding sering kali dilandasi sentimen-sentimen di luar mutu permainan itu sendiri.

Faktor kesamaan ras, agama, sejarah, ideologi dan pandangan politik, turut menjadi pertimbangan bagi sebagian orang untuk menentukan kesebelasan yang akan dibela. Kelindan antara satu sentimen dengan sentimen lainnya saling beriringan dan beririsan.

Sebagai contoh mungkin kita dapat mendedahnya dari isu sampingan yang menyeruak di tengah-tengah kemeriahan Prancis merayakan keberhasilan timnya menjadi juara dunia, yaitu multikulturalisme dan imigran.

Jutaan orang Islam, warga Afrika, dan para imigran di banyak tempat di dunia, bersorak demi kemenangan Prancis  melawan Kroasia dengan alasan bahwa sejumlah orang muslim dan Afrika (baik Afrika hitam seperti Pogba maupun Afrika Arab seperti Fekir) menjadi bagian dari skuat Les Blues.

Di tengah-tengah meruyaknya arus Islamphobia sebagai dampak dari aksi-aksi teror di Prancis, dan menjulangnya gelombang anti imigran akibat membanjirnya pengungsi dari Suriah dan Afrika, kemenangan tim Prancis yang ditaburi bintang muslim dan Afrika itu diharapkan akan membuahkan manfaat yang bisa ikut dipetik oleh masyarakat keturunan imigran yang hidup di Prancis.

Baca juga: Mo Salah dan Upaya Mengubah Cara Pandang Barat terhadap Islam

Mereka yang selama ini merasa sering mendapat perlakuan diskriminatif dan rasis serta menjadi korban ujaran kebencian,  mendamba kebagian percikan anggur penghargaan dari pesta pora perayaan yang hingga sekarang masih menggila di seantero Prancis, sebuah negara yang pernah diguncang sejumlah kerusuhan rasial beberapa tahun yang silam.

Kemenangan Prancis dirayakan sebagai kebangkitan kehidupan multikultural dan imigran, khususnya yang memiliki akar dari Afrika. Banyak artikel ditulis di media-media utama dunia menyangkut kemenangan tim Prancis dan kaitannya dengan isu tersebut. Salah satunya oleh Paniel Joseph, profesor sejarah di University of Texas.

Tulisan yang dimuat di laman CNN (12/7) misalnya memajang judul yang sangat optimistik: Kemenangan Perancis di Piala Dunia Merupakan Kemenangan Seluruh Imigran di Mana Saja. Dan memang sudah seharusnya seoptimis itu. Sebab, sekompleks apa pun dunia ini, ia berkembang ke arah yang lebih baik. Bukankah peradaban manusia kian hari kian maju?

Dan penyelenggaraan Piala Dunia yang kolosal itu, boleh dianggap sebagai salah satu tanda evolusi kesadaran manusia dalam penghargaan dan penghormatan terhadap kehidupan sang liyan: lihat, sekarang permusuhan dan penaklukan antar bangsa dilakukan dengan cara yang menghibur, bukan dengan jalan yang berdarah-darah dan mematikan.

Mungkin juga semua itu terasa sebagai optimisme dan cara pandang yang berlebihan, saat di beberapa wilayah kita menyaksikan perang mengerikan masih saja berkecamuk dan konflik komunal tetap saja mengamuk, atau saat tokoh-tokoh politik yang mengibarkan bendera sentimen etnis dan agama memenangi pemilihan umum di sejumlah negara.

Namun kita boleh yakin, banyak orang diam-diam berharap bahwa wajah multikulturalisme Prancis yang terpancar melalui penampakan komposisi kesebelasan sepak bola nasionalnya, dan kegemilangan mereka membawa pulang gelar juara dunia, melalui satu dan lain cara dapat mengobati orang-orang yang terluka hatinya akibat ujaran kebencian, perlakuan diskriminatif dan rasis, baik itu di Prancis maupun di tempat lainnya.

Bagaimanapun, ujaran kebencian, laku diskriminatif dan sikap rasis, bisa begitu mudah dilakukan oleh siapa saja terhadap siapa saja. Termasuk oleh kita di sini terhadap lawan politik yang berbeda etnis, mazhab, dan agama, misalnya.[]