Tuna Pustaka

Tuna Pustaka

Apakah benar, kita merupakan manusia tuna pustaka?

Keterlibatan orang dengan pustaka kian aus di zaman ini. Durasi waktunya makin minim. Produk Guttenberg ini terus tergerus oleh produk Zuckerberg, Jobs dan Gates — ke arah sinilah gelombang waktu kini tertuju.

Di stasiun dan di bandara, di kereta dan di kafe, bahkan nyaris di mana pun, setiap orang asyik dengan gadget di tangan. Koran, majalah dan apalagi buku telah terasing dari jemari.

Jangan buru-buru pesimis memandang itu semua. Tak ada jaminan mereka seburuk yang disangka. Siapa tahu mereka membaca tulisan di situs-situs berita, menekuni e-book atau tulisan di situs jurnal ilmiah. Mereka bisa menjaga diri dari godaan media sosial atau chatting.

Read More

Tapi benarkah mereka semulia itu kenyataannya?

Jika rata-rata orang membaca tuntas satu judul buku dalam seminggu, maka dalam setahun orang bisa membaca sekitar limapuluh judul buku. Ini presentase curahan waktu yang kikir jika dibandingkan alokasi waktu untuk kegiatan yang tak produktif semisal menekuni media sosial.

Berapa judul pustaka di rak kita, mari kita hitung, dan berapa judul yang sudah terbaca. Waktu seminggu untuk membaca hingga rampung satu judul buku berarti dalam satu hari waktu untuk membaca kurang dari satu jam.

Tolong, simpan dulu rasa ingin tahu tentang kadar keutuhan pemahaman atas bacaan sebagian besar orang agar dunia pustaka saat ini tak makin tampak suram dan menyedihkan.

Tentu daya beli buku kian tak menjadi kendala. Namun daya ini tak menjamin bisa sepadan dengan daya baca. Maka tak ada alasan berlaku congkak bagi para pemborong pustaka. Memiliki banyak buku tak menjamin terhindar dari tuna-pustaka.

Gadget di tangan hampir sepadan dengan irama nafas di luar jam tidur manusia zaman ini. Tindak komunikasi dan arus informasi bergerak bersama gadget. Lalu apa hasilnya?

Opini yang beredar di publik seperti dengung lebah marah. Komunikasi makin gelap lantaran pesan tak layak tercerna. Konfrontasi merajalela tanpa solusi yang memadai, hanya reda oleh rasa letih dan kemudian akan membuncah kembali.

Tatkala ruang opini publik dikuasai oleh ego dan bukan oleh nalar yang terlatih oleh disiplin pengetahuan, dunia ini akan menjadi medan tawuran massal, menjadi ajang perang semua melawan semua.

Nalar tak cukup pernah terlatih pada masa lalu dan kemudian pensiun selamanya. Nalar bisa berkarat jika tak dirawat oleh pengetahuan.
Inilah pentingnya mengamalkan metafor satu ajaran untuk seumur hidup: belajarlah sejak dari ayunan hingga kuburan.

Adakah media lain yang bisa merawat pikiran dan kesadaran selain pustaka? Tradisi dialog atau diskusi mungkin bisa menjadi alternatif. Namun alternatif ini akan berubah menjadi musibah jika yang terlibat di dalamnya tuna-pustaka.

Saya teringat seorang teman yang budiman yang bercita-cita masuk surga dengan cara tekun membaca — agaknya ia terilhami oleh wahyu pertama yang diterima kanjeng nabinya: Bacalah!

*) Binhad Nurrohmat, penyair, tinggal di Jombang.