Tafsir Surat Yasin Ayat 38-39: Garis Edar Matahari dan Bulan

Tafsir Surat Yasin Ayat 38-39: Garis Edar Matahari dan Bulan

Tafsir Surat Yasin Ayat 38-39: Garis Edar Matahari dan Bulan
Kitab-kitab yang disusun rapi.

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan mengenai pergantian siang dan malam sebagai bentuk kuasa Allah SWT. Ayat berikut ini memperinci kandungan ayat tersebut. Allah SWT berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ () وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ 

Wa al-Syamsu tajrii limustaqarrin lahaa dzaalika taqdiiru al-‘azizi al-‘aliim. Wa al-qamaru qaddarnaahu manaazila hattaa ‘aada kal’urjuuni al-qadiim.

Artinya:

“Dan matahari beredar pada garis edarnya (secara amat teratur sejak penciptaannya hingga kini). Itulah pengaturan (Allah SWT) Yang Mahaperkasa, lagi Maha Mengetahui. Dan bulan (pun demikian); Kami menakdirkannya (menetapkan kadar dan sistem peredarannya) di posisi-posisi tertentu (mulai dari bentuk sabit, purnama) hingga kembali menjadi bagaikan tandan yang tua.” (QS: Yasin [36]: 38-39).

Mengenai penjelasan kalimat “peredaran matahari pada garis edarnya (Wa al-syamsu tajrii limustaqarrin laha),” Ibnu Jarir al-Thabari menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Kuraib dari Jabir bin Nuh dari al-A’masy dari Ibrahim al-Taimi dari Bapaknya dari Abu Dzar al-Ghifari, ia berkata: “Tatkala aku sedang duduk bersama Rasulullah SAW dalam masjid, matahari terbenam, kemudian Rasul bertanya, “Wahai Abu Dzar, tahukah engkau kemana matahari pergi?” Lalu aku menjawab, Allah SWT dan Rasul SAW lebih tahu. Rasul kemudian memberikan penjelasan, “Matahari pergi dan bersujud di hadapan Tuhannya, kemudian ia meminta izin untuk kembali, Allah SWT pun mengizinkan, seolah-olah Allah SWT berfirman kepada matahari, “kembalilah dari tempat engkau berangkat. Kemudian terbitlah matahari dari tempat terbenamnya. Inilah yang dimaksud dengan garis edar (wa dzalika mustaqarrihaa).”

Imam al-Qusyairi dengan pendekatan tasawufnya, menafsirkan ayat 38 dengan menerangkan bahwa peredaran matahari adalah buah dari keteraturan yang tidak akan melenceng dari sunnatullah. Setiap harinya, bagi matahari merupakan timur baru dan juga barat baru (wa kula yawmin laha masyriq jadid wa laha maghrib jadid). Artinya, setiap hari posisi matahari tidak sama. Dalam hal ini, penulis memahami bahwa Imam al-Qusyairi pada waktu itu telah mengetahui konsep heliosentris yaitu bahwa matahari sebagai pusat galaksi, yang ia pun ikut berputar sebagai satu dari jutaan bintang di alam semesta.

Terkait ayat 39, al-Qusyairi mengambil ibrah dari perjalanan bulan, bahwa seorang hamba saat thalab (mencari/suluk) ia belum memahami Tuhan dengan baik dan belum memahami dirinya sendiri. Setelah hamba ini bertafakur hingga mencapai tingkat terbukanya mata matin (bashirah) terbukalah cahaya hatinya. Keadaan ini seperti rembulan yang perlahan-lahan menjadi bulan utuh dari yang awalnya gelap. Kemudian terangnya pun semakin redup seiring mendekatnya bulan kepada Matahari, lalu secara bertahap ia hilang dan tidak melihat apa pun selain kuasa Allah SWT.

Menurut Quraish Shihab kata tajri makna awalnya dipakai untuk menunjuk perjalanan cepat bagi sesuatu yang memiliki kaki dengan kata kerja berlari. Dalam ayat 38 kata ini dipakai untuk menggambarkan perpindahan benda secara cepat dari satu tempat ke tempat lain. Kata tajri dalam ayat ini dapat dipahami untuk menunjukkan perjalanan yang amat jauh yang ditempuh dengan waktu yang relatif singkat.

Huruf lam yang terdapat pada kata mustaqarrin menurut Quraish dipahami berbeda oleh para ulama. Sebagian memahaminya dalam arti ila yaitu menuju atau batas akhir. Sebagian yang lain memaknainya dengan makna agar/supaya. Adapun kata mustaqarr berasal dari kata qarar yang bermakna kemantapan/perhentian. Sedang kata mustaqarr sendiri pada ayat ini bermakna tempat atau waktu.

Dari beberapa kemungkinan makna ini, pada ayat 38 di atas menurut Quraish dapat dipahami dengan beberapa makna. Pertama, dapat berarti matahari bergerak/beredar menuju ke tempat/waktu perhentiannya. Yang dimaksud dengan tempat/waktu perhentian disini, ungkap Quraish adalah peredarannya setiap hari di garis edarnya dalam keadaan sedikit pun tidak menyimpang hingga matahari terbenam. Kedua, bergerak secara terus menerus sampai waktu yang ditetapkan Allah SWT untuk berhenti bergerak, yaitu ketika dunia kiamat.

Kata taqdir, lanjut Quraish, digunakan dalam arti menjadikan sesuatu dalam kadar dan sistem tertentu dengan ketelitian yang presisi. Kata ini juga dapat dipahami bahwa Allah SWT menetapkan kadar sesuatu, baik yang berkaitan dengan materi maupun waktu. Menurut Quraish Shihab, kata taqdir dalam ayat ini mengandung kedua makna tadi. Allah SWT menetapkan bagi matahari kadar sistem perjalanannya dengan sangat teliti, sekaligus mengatur dan menetapkan pula kadar waktu bagi peredarannya itu.

Terkait dengan ayat ke-39, Quraish Shihab berpendapat bahwa perjalanan bulan sebagaimana digambarkan dalam ayat juga dapat merepresentasikan perjalanan hidup mausia. Ia beranjak sedikit demi sedikit dari mulai bayi, remaja, dewasa, lalu kemudian menurun kekuatannya, melengkung, dan membungkung hingga akhirnya mati.