Tafsir Surat An-Nur Ayat 35: Apakah Tuhan adalah Cahaya?

Tafsir Surat An-Nur Ayat 35: Apakah Tuhan adalah Cahaya?

Yang paling mungkin dan paling dekat untuk menjelaskan Allah sebagai dzat yang transenden adalah simbol cahaya.

Tafsir Surat An-Nur Ayat 35: Apakah Tuhan adalah Cahaya?
ini baiknya bulan intropeksi

Hari ini ketika saya membuka Youtube, saya menemukan judul “Sholawatun Nur” karya Cak Nun 2020. Setelah saya buka dan saya dengarkan isinya, sholawat tersebut berbicara tentang Nur Muhammad sebagai manifestasi dari Allah. Sebenarnya ada apa sih Allah sering menyimbolkan diri-Nya atau manifestasi diri-Nya dengan simbol nur atau cahaya? Saya kemudian teringat dengan surah an-Nur ayat 35, yang berbunyi:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاء وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ٣٥

Artinya: Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Surah An-Nur merupakan surah yang istimewa, karena Allah menjelaskan diri-Nya dalam surah tersebut. Ibn ‘Arabi menginterpretasikan “nur” sebagai sifat Allah dengan istilah ruh al-a’lam, suatu padanan makna dari term Nur Muhammad. Ruh al-a’lam merupakan istilah yang dipakai Ibn ‘Arabi untuk menunjukkan cahaya, tetapi bukan cahaya yang sebagaimana kita ketahui. Dalam tafsir Mulla Sadra dikatakan bahwa Allah itu dijelaskan seperti cahaya di dalam hati orang-orang mu’min dan Allah juga dijelaskan dengan mengaitkannya dengan cahaya lampu yang pada kegunaannya untuk mendekatkan cahaya lampu menuju cahaya yang hakiki, yaitu Allah SWT. Kemudian dalam tafsir Misykat al-Anwar karya Imam Ghazali dijelaskan bahwa nur-Nya Allah yang dicontohkan seperti cahaya lampu itu dimaksudkan sebagai daya-daya pada diri manusia sebagai jalan untuk meraih cahaya Tuhan.

Cak Nun juga pernah menjelaskan bahwa di dalam surah tersebut terdapat metode untuk menuju Tuhan. Menurut Cak Nun, Surat An Nur 35 ini merupakan satu “metode penelitian” yang ditawarkan Allah kepada manusia secara luar biasa. Metode ini tentu dapat mengatasi berbagai metode penelitian yang ditawarkan manusia. Dalam surat An Nur ayat 35 ini, Allah adalah cahaya itu sendiri, dan manusia diperintahkan untuk mencarinya. Bukankah proses mencari adalah “ruh” utama sebuah penelitian? Karena itu, tentu ayat ini lebih lengkap lagi dibanding metode kualitatif-kuantitatif ataupun yang lainnya yang ditawarkan manusia, karena pencarian yang dimaksud di surat ini sampai kepada puncak tertinggi, yakni Allah.

Dalam tafsir muqaatil ibn Sulaiman dijelaskan bahwa matsalu nuurihi dalam ayat an-Nur tersebut adalah Nabi Muhammad. Di dalam tafsirnya tersebut juga dijelaskan bahwa contoh dalam ayat ini juga bisa diambil dari penyerupaan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthalib dengan Nabi Muhammad sebagai anaknya. Dilihat dari serupa jasadnya Abdullah diibaratkan Nur, sedangkan Nabi Muhammad seperti zujajah (cerminan dari ‘Abdullah).

Dalam buku Ensiklopedia al-Qur’an karya Prof. Quraish Shihab dijelaskan bahwa “Allahu nur as-samawat wa al-ardh” untuk menunjukkan bahwa nur adalah sifat/nama Allah. Akan tetapi, dalam maksud ayat tersebut ulama’ berbeda pendapat. Menurut Quraish Shihab, kata nur jika dikemukakan dalam konteks uraian tentang manusia, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat, maka mengandung makna hidayah dan petunjuk Allah. Kemudian, jika kata nur menyifati benda-benda langit, maka ia mengandung makna cahaya. Ia juga menjelaskan seperti cahaya matahari berasal dari dirinya sendiri, bukan pantulan sebagaimana bulan.

Dalam Tafsir Ibn Katsir bahwa “Allahu nur as-samawat wa al-ardh” dijelaskan dengan riwayat ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a bahwa Allah pemberi petunjuk bagi penduduk langit dan bumi. Ibnu Juraij berkata, Mujahid dan ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a berkata tentang firman Allah “Allahu nur as-samawat wa al-ardh” yaitu, yang mengatur urusan di langit dan di bumi, mengatur bintang-bintang matahari, dan bulan. Dalam tafsir al-Maraghi dijelaskan bahwa “Allahu nur as-samawat wa al-ardh” yaitu Allah pemberi petunjuk kepada penghuni langit dan bumi dengan dalil-dalil yang Dia pancangkan di dalam alam, dan dengan ayat-ayat yang jelas yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya. Dengan cahaya-Nya yang menerangi jalan yang haq, mereka mendapat petunjuk, dan dengan petunjuk-Nya mereka selamat dari kebingungan kesesatan.

Dalam kitab Tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb surah an-Nur ayat 35 ini dijelaskan bahwa tafsiran dari “Allahu nur as-samawat wa al-ardh” adalah cahaya yang darinya tiang-tiang langit dan bumi, juga sistemnya. Cahaya itulah yang memberikan inti kebenarannya. Tersimpan di dalamnya hukum-hukumnya. Yang akhirnya manusia dapat mengetahui sedikit dari hakikat besar itu dengan ilmu mereka. Sayyid Quthb juga menjelaskan bahwa hati manusia telah mengetahui hakikat besar sebelum revolusi ilmu seperti mampu membelah atom menjadi molekul-molekul yang tidak bertopang kecuali kepada cahaya. Hati itu mengetahui setiap ia bersih dan bertolak ke ufuk cahaya. Dan yang paling mengetahuinya secara sempurna adalah hati Rasulullah saw.

Dalam buku Tafsir al-Qur’an karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di surah an-Nur ayat 35 ini dijelaskan bahwa Allah adalah pemberi cahaya kepada langit dan bumi, yang inderawi dan non inderawi. Demikin itu karena Dzat Allah sendiri adalah cahaya, tirai-Nya merupakan cahaya itu juga. Dalam tafsir Hamka surah an-Nur ini dijelaskan “Bilakah mata hati ini bisa melihat Nur itu? Hati yang masih diperbudak benda, hati yang masih menganggap hidup ini hanya makan dan minum, dan hati yang belum lepas dari penggemblengan derit, payahlah akan sampai kepada suasana melihat Nur itu. Dalam buku Tafsir al-Wasith surah an-Nur ayat 35 dijelaskan bahwa cahaya Allah menerangi jiwa dan alam semesta. Karena itu dekatilah Zat-Nya dengan jalan seperti perumpamaan-perumpamaan dalam ayat.

Dari semua pemaparan yang saya temukan di atas, saya kemudian mendapatkan kesimpulan bahwa alternatif yang paling mungkin dan paling dekat untuk menjelaskan Allah sebagai dzat yang transenden adalah simbol cahaya. Karena itu dalam alquran kita temukan bahwa Allah sendiri menjelaskan diri-Nya melalui simbol cahaya agar manusia mudah memahami, sesuai daya fikir dan ilmunya. Perumpamaan simbol cahaya dalam ayat tersebut, yang Allah kembalikan lagi ke  bumi seperti cahaya pelita/lampu, yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, supaya manusia tetap berfikir dan mendiskusikan rahasia dan ilmu Allah.

Wallahhu a’lam.