Suku Baduy Kirim Surat Terbuka untuk Jokowi, Minta Dicoret dari Destinasi Wisata

Suku Baduy Kirim Surat Terbuka untuk Jokowi, Minta Dicoret dari Destinasi Wisata

Pencemaran lingkungan menjadi salah satu alasan kuat bagi masayarakat adat Baduy untuk menutup kawasan mereka menjadi destinasi wisata.

Suku Baduy Kirim Surat Terbuka untuk Jokowi, Minta Dicoret dari Destinasi Wisata

Di tengah derasnya arus modernisasi dengan segala aktivitas yang serba deadline, rutin, dan masuk pagi lalu balik sore (belum lagi kalau lembur), tingkat kejenuhan manusia tampaknya semakin signifikan. Itulah kenapa alternatif pariwisata menjadi penting.

Hanya saja, kegiatan menyegarkan pikiran dengan piknik itu terkadang merupakan mimpi buruk bagi destinasi yang hendak dituju. Urusan sampah, umpamanya, adalah persoalan yang cukup krusial.

Maka, menjadi masuk akal apa yang dilakukan oleh masyarakat adat Baduy di Kecamatan Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten sewaktu melayangkan surat untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (6/7). Dalam surat tersebut, mereka meminta Jokowi untuk menghapus kawasan adat Baduy sebagai destinasi wisata dan menggantinya sebagai cagar budaya.

Keputusan ini dicetuskan oleh Lembaga Adat Baduy dalam pertemuan di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (4/7) untuk membahas surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Dalam surat itu disebutkan bilamana tantangan melawan kuatnya arus modernisasi yang dibawa para wisatawan dianggap terasa semakin berat bagi para tokoh adat dalam menanamkan aturan adat yang diberlakukan. Hal ini pun membuat para tetua adat khawatir akan runtuhnya tatanan nilai adat pada generasi berikutnya.

Salah satu Pemangku Adat di Baduy Jaro Saidi merasa khawatir akan terjadi pencemaran lingkungan di wilayah Baduy. Banyak pedagang dari luar Baduy berdatangan ke dalam, sebagian besar menjual produk makanan minuman berkemasan plastik sehingga mendatangkan persoalan baru.

”Ini terjadi karena terlalu banyaknya wisatawan yang datang, ditambah banyak dari mereka yang tidak mengindahkan dan menjaga kelestarian alam. Sehingga, banyak tatanan dan tuntunan adat yang mulai terkikis dan tergerus oleh persinggungan tersebut,” kata Jaro Saidi dalam keterangan resmi seperti dikutip Kumparan.

Surat terbuka untuk Presiden Jokowi itu kemudian dititipkan Jaro Tangtu Cikeusik, Alim, kepada Heru Nugroho dan tiga rekannya, Henri Nurcahyo, Anton Nugroho, dan Fajar Yugaswara. Mereka dipercaya oleh para Lembaga Adat Baduy untuk bisa menyampaikan aspirasi dan mengirimkan surat terbuka kepada presiden, beberapa kementerian dan perangkat daerah wilayah Banten.

Heru Nugroho selaku ketua Tim, mengaku sangat antusias dan siap menjadi narahubung aspirasi masyarakat Baduy ke Presiden Joko Widodo. Dengan adanya surat terbuka tersebut, Heru berharap pemerintah dapat mendengarkan aspirasi masyarakat adat Baduy agar mereka tetap menjalani tatanan budaya dengan tenteram.

“Karena kedekatan saya kepada masyarakat Baduy yang sudah terjalin sekian lama, mungkin saya diberikan kepercayaan oleh mereka (Pemangku Adat Baduy) untuk bisa menyampaikan aspirasinya kepada Bapak Presiden melalui surat terbuka ini,” ujar Heru.

Meski begitu, masyarakat Badui tidak menutup diri secara total dalam berinteraksi dengan komunitas luar. Juga, pihak lembaga adat pada dasarnya tidak keberatan dengan keberadaan wisatawan yang berkunjung ke Baduy.

Hanya saja, kebiasaan pengunjung yang dirasa tidak sesuai dengan nilai-nilai adat Baduy, membuat masyarakat setempat tidak nyaman.

”Pada dasarnya, lembaga adat tidak keberatan ada orang non-Baduy (masyarakat umum) berkunjung dan bersilaturahmi dengan mereka. Mereka menghargai tali persaudaraan atau silaturahmi denga masyarakat luar,” ungkap Heru.

Pencemaran lingkungan menjadi salah satu alasan kuat bagi masayarakat adat Baduy untuk menutup kawasan mereka menjadi destinasi wisata. Akibat derasnya arus pariwisata di Baduy, banyak sampah plastik yang ditinggalkan oleh para wisatawan.

Padahal bagi warga Kampung Baduy Dalam, lingkungan tersebut setiap hari dipakai untuk beraktivitas seperti mandi, mencuci, dan mengambil air minum. Lebih jauh, bagi warga Baduy Dalam, lingkungan tempat tinggal mereka setiap hari dipakai untuk beraktivitas seperti mandi, mencuci, dan mengambil air minum.

“Ini terjadi karena terlalu banyaknya wisatawan yang datang, ditambah banyak dari mereka yang tidak mengindahkan dan menjaga kelestarian alam, sehingga banyak tatanan dan tuntunan adat yang mulai terkikis dan tergerus oleh persinggungan tersebut,” keluh Jaro Saidi.

Yah, dari dulu begitulah manusia. Jangankan mengindahkan atau menjaga kelestarian alam, sesederhana menyiram toilet sehabis buang air saja, orang modern masih sering alpha. Akibatnya, bau pesing pun tak terhindarkan. Begitulah mereka mewarisi modus eksistensi yang sangat eksploitatif seperti direkam Q.S. al-Baqarah [2]: 30. Duh, kok jadi berat!! (AK)