Mudik ya Mudik aja, Tidak Usah Pake Dalil atau Sok Nuduh Bidah

Mudik ya Mudik aja, Tidak Usah Pake Dalil atau Sok Nuduh Bidah

Mudik itu biasa aja, yang susah cuma kalau dituduh bidah.

Mudik ya Mudik aja, Tidak Usah Pake Dalil atau Sok Nuduh Bidah

Lucu rasanya ketika orang tidak suka mudik dengan alasan tradisi itu tidak ada dalilnya. Padahal ngopinya saja yang kurang kental, ngajinya kurang banyak dan mbahnya si google tidak mengajarkan hal mendasar, bahwa tidak semua hal dijelaskan secara tekstual dalam dalil, tetapi segala hal bisa disesuaikan dengan konteks dalil.

Anas bin Malik meriwayatkan Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi. (HR Muslim).

Selain itu Rasulullah pun bersabda “Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, lalu Allah berwasiat agar berbuat baik kepada ibu-ibumu, kemudian Allah berwasiat kepada bapak-bapakmu, dan kemudian Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu (HR Ibnu Majah).

Inilah satu dalil mengapa mudik perlu dilakukan. Meski tidak ada secara tekstualis, tapi tujuan mudik dilakukan untuk bersilaturahmi sekaligus berkumpul dengan sanak saudara hingga memuliakan orang tua karena seringkali dijadikan momentum sungkem pada orang tua.

Mudiklah untuk Rehat

Saya selalu memaknai mudik sebagai pengobat hati setelah lelah kerja lembur bagai kuda. Tidak peduli berapa mahal harga tiket, berapa banyak tugas yang ditinggalkan sementara waktu dan meski akan canggung ditanya “Kapan nikah?” mudik tetap amboy rasanya.

Maka jagalah kebaikan dan ketenangan ritual mudik. Tidak usah saling nyinyir lagi karena beda pandangan politik. Tidak usah minta klakson 3x dan tidak usah beri ucapan ” Selamat Anda berada di tol Jokowi”.

Tidak usah saling balas untuk hal-hal tidak subtansial. Ingatlah firman Allah dalam QS. Asy-Syura, ayat 40

“Dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan pula. Namun, siapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungannya), pahala baginya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Asy-Syura : 40).

Penjelasan Prof. Quraish Shihab ayat tersebut yaitu meski Allah membolehkan balasan orang yang berbuat buruk adalah keburukan semisal (qishash) demi terwujudnya keadilan. Tetapi barangsiapa, atas dasar cinta, memaafkan orang yang berbuat buruk kepadanya–jika ia mampu–dan memperbaiki kembali hubungannya dengan orang itu, akan memperoleh pahala dari Allah. Dia semata yang mengetahui besarnya pahala itu. Sesungguhnya Allah tidak menyayangi orang-orang yang melanggar hak- hak asasi manusia dengan melanggar syariat Allah.

Sudahlah. Rehatkanlah sejenak hati dan jemari kita, mari nikmati mudik untuk berkumpul dan berbahagia bersama.

Penutup, pulang adalah perjalanan yang selalu menggembirakan, begitu kata Prof. Komarudin Hidayat. Walaupun berulang kali kita lakukan, pulang tetap memiliki nilai lebih yang mampu membahagiakan. Maka mudik kali ini, kita jadikan sebagai momentum pulang sebagai manusia Indonesia yang utuh. Bertuhan, mampu memanusiakan manusia, menjaga persatuan, bijaksana dan mampu bermusyawarah bukan saling lapor, dan bersikap adil kepada siapapun. Wallahu’alam bishawab.