Kitab Suci dan Kisah Penggandrung Buku (Bagian 2-Habis)

Ilustrasi al-Kitab

Kitab Suci dan Kisah Penggandrung Buku (Bagian 2-Habis)

Kisah para pemburu kitab suci dan mereka yang mencintai buku hingga akhir hayat

Pegangan ampuh Daoed Joesoef menjalani hidup adalah kitab suci. Sejak bocah sampai tua, ia berpegangan pada perintah “bacalah”. Tafsir atas kitab suci itu lazim disampaikan dalam pidato, percakapan, dan tulisan. Di buku-buku garapan Daoed Joesoef, “bacalah” itu keutamaan. Buku berjudul Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran (2006), ia malah mengawali dengan gambar-kaligrafi bertema “bacalah”. Pegangan untuk mereda sedih dan mengingat Tuhan adalah buku saku pemberian bapak. Buku itu berisi Surat Yasin. Sejak remaja sampai tua, ia rajin mengaji Surat Yasin: pilihan untuk tak jatuh dalam ratapan dan pantang jera menjalani hidup bergelimang makna.

Sejak bocah, Daoed Joesoef mendefinisikan diri sebagai pembaca dan penulis. Pada saat menjadi  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983), ia sering berpidato dalam pelbagai acara. Teks-teks untuk pidato tak ditelantarkan tapi diterbitkan jadi buku dokumentatif delapan jilid. Daoed Joesoef dalam sambutan Pameran Buku-Buku India, 9 Mei 1980, memberi penjelasan agak klise: “Buku pada hakekatnya rekaman pengetahuan, pengalaman, dan imajinasi kultural bangsa.” Urusan buku masih berlanjut pada upacara pembukaan Pameran Buku Nasional IKPI, Jakarta, Senin 12 Mei 1980. Daoed Joesoef mengatakan: “Pendidikan sebagai proses yang secara sadar dan sengaja diciptakan manusia sebagai usaha membantu perkembangan yang sehat dari manusia, semakin lama semakin banyak menggunakan buku di samping alat-alat peragaan lainnya.”

Dulu, kalimat itu mujarab dalam impian pemajuan pendidikan dan perbukuan di Indonesia. Kini, Daoed Joesoef mustahil meralat. Beliau mewariskan pidato-pidato itu agar kita mau membandingkan dengan situasi mutakhir.

Read More

Daoed Joesoef rajin berpidato. Pada 17 Juni 1980, Daoed Joesoef berpidato dalam upacara penyerahan hadiah Yayasan Buku Utama, Jakarta, 17 Juni 1980. “Saya telah mendapat laporan dari pihak kepolisian bawah pada waktu diadakan razia dalam rangka mengatasi kenakalan remaja, telah ditemui banyak sekali buku-buku porno, baik berupa stensilan maupun tercetak bagus, yang beredar di antara pelajar.”

Ajakan rajin membaca buku malah mendapatkan kasus kaum remaja menggandrungi buku porno. Daoed Joesoef prihatin tapi tetap menganjurkan remaja membaca buku-buku bermutu agar terhindar dari paham mesum atau cabul. Beliau memberitahukan buku-buku gubahan Homerus, Sophocles, Euripides, Aristophanes, Virgilius, Montaigne, Shakespeare, Cervantes, Voltaire, Firdausi, Goethe adalah berkhasiat bagi keilmuan dan imajinasi. Kini, beliau berpamit dari dunia saat kaum remaja Indonesia memilih membaca novel berjudul Dilan 1990 gubahan Pidi Baiq. Novel remaja itu sudah muncul sebagai film. Remaja abad XXI mungkin malas membaca buku-buku dalam daftar ajuan Daoed Joesoef.

Predikat menjadi menteri memiliki masa jabatan. Daoed Joesoef selesai menjalankan tugas-tugas selaku menteri dengan sekarung pujian dan sekarung kritik. Beliau dianggap pernah membuat geger dalam lakon pendidikan Indonesia tapi memberi gairah dalam perbukuan. Kita bisa membuka koran dan majalah lama untuk mengingat segala polemik bermula dari kebijakan Daoed Joesoef. Masa itu berlalu meninggalkan jejak-jejak sejarah. Daoed Joesoef menunaikan tugas-tugas baru dalam penelitian, penulisan buku, dan mengajukan gagasan di halaman-halaman opini pelbagai koran. Beliau malu menganggur dan memilih tetap menjadi manusia buku sembari mendengarkan musik klasik. Daoed Joesoef tak menggemari rock. Musik rock itu mirip “suara kucing berkelahi” (Tim Tempo, Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia, 1985-1986, 1986).

Dulu, ia rajin berpidato dengan tema buku. Kini, kita berhak membuka ingatan menghormati Daoed Joesoef sebagai penulis buku. “Kerjaku sehari-hari pada pokoknya adalah menulis dan dengan sendirinya membaca,” pengakuan Daoed Joesoef di buku berjudul Rekam Jejak Anak Tiga Zaman (2017). Pengakuan ditulis saat ia berusia 91 tahun. Tua mustahil jadi penghambat kemauan membaca dan menulis. Semua berhenti dengan kematian. Buku itu pembuktian keampuhan Daoed Joeoef tetap turut mengisahkan dan mengurusi Indonesia melalui peran sebagai penulis.

Pada alinea terakhir tapi mengharukan: “Maka, usia senja ini akan kujalani dengan kegiatan menulis. Aku akan tetap menulis dan berusaha terus menulis, ecrire c’est vivre. To live is to write. Bagiku menulis adalah hidup itu sendiri. Menulis menjadi asupan par excellence bagi hidup.” Pembaca tulisan-tulisan Daoed Joesoef sebelum dikirim ke koran dan terbit menjadi buku adalah istri tercinta, Soel.

Kita mending mengingat Daoed Joesoef adalah manusia-buku ketimbang menteri pada masa Orde Baru dan pernah kisruh pendapat dengan Soeharto. Ingatan sebagai menteri tentu mengarah ke foto atau lembaran kertas pada masa Orde Baru berisi daftar menteri di Kabinet Pembangunan. Foto dan nama para menteri malah lazim dilombakan di sekolah-sekolah. Daoed Joesoef terhormat sebagai pembaca dan penulis buku, bermula saat bocah sampai usia menua, 91 tahun.

* * *

Pembaca sudah bertemu Emak: Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne (2003), sebelum merampungkan buku Rekam Jejak Anak Tiga Zaman (2017). Di sampul, foto bocah mengaji dibimbing emak. Gambar itu buatan Daoed Joesoef. Semula, Daoed Joesoef masih bocah diajari membaca kitab suci oleh bapak dan emak. Tahun-tahun berlalu, si bocah itu berhasil khatam Al Quran dan berani berpidato di muka umum meski taraf kampung. Undangan demi undangan menjadi pembicara dipenuhi dengan mendapat honor berupa uang. Daoed Joesoef ingat protes emak. Dakwah tak pantas diberi imbalan uang.

Emak pun memberi usulan bijak ke Daoed Joesoef agar menggunakan rezeki untuk belanja buku. “Kau sekarang sudah duduk di kelas tiga. Sudah bisa membaca buku-buku berhuruf Latin yang mengungkapkan berbagai ilmu duniawi di samping buku-buku berhuruf Jawi yang membahas soal-soal keagamaan, yang selama ini kau tekuni di madrasah,” kata emak. Daoed Joesoef patuh dan membuktikan usulan itu memberi girang tiada tara selama hidup. Emak diingat sebagai penuntun jalan ke buku, sejak bocah sampai tua. Kita pun bisa menafsirkan pesan emak adalah memberi imbalan buku ke para pendakwah itu terhormat ketimbang amplop berisi uang. Pemberian uang tak terlalu bermasalah asal si pendakwah mau menggunakan untuk belanja buku agar materi-materi dakwah bermutu dan menularkan gandrung buku ke umat.

Sejak bocah sampai tua, pegangan Daoed Joesoef adalah kitab suci. Pesan emak saat masih bocah selalu terbawa sampai tua: iqra’ atau bacalah. Pada buku-buku dan percakapan bersama orang-orang bijak, ia belajar pelbagai hal untuk mendapatkan kebenaran ajaran-ajaran dalam kitab suci. Biografi itu mungkin kuno atau kolot saat detik-detik pertambahan usia dan perubahan cara berpikir senantiasa disahkan dengan membaca dan menulis buku. Semua ikhtiar itu bermula dari kitab suci.

Kini, pembaca dan penulis itu mohon pamit dan meninggalkan buku-buku pada kita agar turut menjadi pembaca. Pilihan menjadi penulis tentu memerlukan pertimbangan melampaui lima detik. Begitu.  [Habis]