Karakter Fizi dalam Serial Upin-Ipin dan Realitas Beragama Kita

Karakter Fizi dalam Serial Upin-Ipin dan Realitas Beragama Kita

Menyalahkan orang yang belum tahu bukanlah tindakan yang arif dalam beragama. Kita harus tetap mengutamakan adab di atas ilmu.

Karakter Fizi dalam Serial Upin-Ipin dan Realitas Beragama Kita

Baru-baru ini lini masa Twitter menjadi ramai karena ada cuplikan menggelitik tayangan Upin & Ipin di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Dalam sebuah pecakapan, karakter Ismail menjelaskan bahwa ia sedang membantu ibunya mempersiapkan hidangan hari raya. Sikap Mail pun dipuji oleh Ipin yang menyebutnya sebagai anak saleh.

“Mestilah. Surge kan berada di bawah telapak kaki ibu (jelas dong, surga kan berada di bawah telapak kaki ibu),” ujar Mail.

Upin pun bertanya, bagaimana kalau sudah tidak punya ibu? Dengan polosnya, Fizi menjawab ya tidak akan mendapat surga.

“Gitu saja tidak tahu!” seru Fizi.

Jawaban itu tentu saja membuat Upin dan Ipin bersedih karena mereka sudah tidak lagi memiliki ibu. Di serial tersebut, Upin Ipin diceritakan tinggal bersama nenek dan kakak perempuannya.

Di masa kanak-kanak, sebagian besar di antara kita pasti kerap mendengar petuah ini. Kalimat surga berada di bawah telapak kaki ibu merupakan sabda Nabi yang sering dijadikan sebagai bahan lomba menulis kaligrafi di madrasah diniyah semasa penulis sekolah. Bisa jadi, banyak anak-anak yang sadar untuk menghormati orang tua—terutama ibu—karena dirinya takut tidak mendapat surga jika durhaka.

Guru TK dan SD pun sering menyampaikan untuk menghormati ibu karena surga berada di bawah telapak kakinya. Bagaimana cara menghormati? Dengan tidak menyakitinya, sekali pun dengan kata sederhana seperti “Ah.”

Ketika saya mengenal hadis tersebut, saya dibesarkan bersamaan dengan cerita-cerita banyaknya orang yang dikutuk karena durhaka terhadap ibunya. Mulai kisah Malin Kundang yang dikutuk jadi batu, kisah seorang perempuan yang dikutuk jadi ikan pari manusia tikus, dan cerita-cerita lain di majalah Hidayah.

Ada pula cerita lokal yang cukup populer di kalangan anak-anak seusia saya waktu itu. Seorang anak lelaki karena menyiram ibunya menggunakan kolak singkong, ia kemudian berubah jadi naga. Saat itu ibunya sedang salat. Tanpa mengutuk, ‘kesaktian’ ibu terjadi dengan sendirinya. Konon, naga itu dikurung di bawah sungai.

Apakah kisah-kisah itu efektif dalam membentuk akhlak seorang anak? Tentu memerlukan sebuah riset khusus. Namun berkat cerita, saya sampai benar-benar ketakutan untuk menyakiti hati ibu. Meski ketakutannya waktu itu didasarkan pada hal-hal yang mengerikan seperti dikutuk atau berubah jadi wujud tertentu sebagaimana cerita yang saya dengar. Berdasar pengalaman tersebut, cerita memang menjadi salah satu media yang kuat dalam menyampaikan pesan bagi anak-anak.

Namun cerita juga punya kelemahan apabila setting dan konteksnya tidak sesuai dengan audiens tertentu. Contohnya ya apa yang ditampilkan dalam serial Upin dan Ipin tersebut. Bagaimana jika tidak punya ibu? Sebuah pertanyaan yang sangat dalam bagi seorang bocah piatu.

Fizi adalah gambaran sebagian masyarakat kita yang melihat sesuatu berdasar teksnya saja. Ia tidak salah, namun juga tidak tepat dalam menjawab satu persoalan. Ketidaktepatan ini justru membuat agama menjadi sesuatu yang tidak ramah pada realitas.

Salah seorang ustaz saya pernah menjelaskan, untuk memahami kitab fikih, seseorang setidaknya bisa membaca situasi sosial. Dalam bab zakat fitrah, misalnya, seseorang diwajibkan membayar zakat dengan gandum. Apakah ini berlaku di Indonesia yang mayoritas menggunakan beras sebagai makanan pokoknya?

Jika ada yang ngotot harus pakai gandum karena dicontohkan Nabi dan difatwa para ulama fikih, ya dia tidak salah, dalam arti teksnya memang begitu. Namun tidak tepat karena konteks sosial masyarakat Indonesia yang berbeda dari masyarakat Arab di mana Nabi dan para ulama kitab kuning hidup.

Untuk itulah kita harus memahami bahwa teks agama selalu terkait dengan konteks. Tanpa memahami maksud suatu teks, kita akan terjebak pada cara beragama yang kaku, keliru, tapi seolah-olah baku.

Apakah fikih boleh diubah? Justru fikih harus terus berubah. Lha wong Imam Syafi’i saja bisa memiliki pendapat lama (qaul qadim) dan pendapat baru (qaul jadid), kok. Mengapa fikih Imam Syafi’i berubah? Karena ia melihat perbedaan karakter geografis dan sosio-kultural masyarakat di Irak dan Mesir. Jika tidak berubah, fikih akan membuat seseorang beragama dengan penuh kesulitan.

Padahal ada ungkapan bahwa agama itu mudah, jangan dipersulit. Tentu saja kemudahan beragama ini memiliki mekanisme pengambilan hukum.

Riset yang dilakukan oleh Alvara Research Center saat Ramadan menarik untuk disimak. Sebanyak 50 persen lebih masyarakat kita menyukai tema-tema fiqhiyah ketika mendengarkan ceramah. Di satu sisi ini kabar baik karena masyarakat banyak yang sadar pentingnya mengetahui tata cara beribadah. Namun di sisi lain kita berharap agar masyarakat tidak mendadak pakar setelah mendengar ceramah.

Sebab banyak ceramah-ceramah tentang fikih yang seperti memasang kaca mata kuda, memberi satu perspektif dengan menyalahkan perspektif yang lain. Di era saat ini, perlu kiranya para penceramah untuk memberikan gambaran bahwa ada fikih-fikih yang berbeda.

Orang-orang yang sudah dewasa dalam beragama pun tak perlu memusuhi kalangan yang masih ‘Fizi’ dalam beragama. Malahan kita bantu ingatkan dengan lembut. Menyalahkan orang yang belum tahu bukanlah tindakan yang arif dalam beragama. Kita harus tetap mengutamakan adab di atas ilmu. Wallahua’lam.