Jika Perempuan Menjadi Fitnah Laki-Laki, Bagaimana dengan Laki-Laki?

Jika Perempuan Menjadi Fitnah Laki-Laki, Bagaimana dengan Laki-Laki?

Perempuan sering dianggap fitnah bagi laki-laki, lalu bagaimana dengan laki-laki, apakah ia menjadi fitnah bagi perempuan?

Perempuan seringkali disebut sebagai fitnah bagi laki-laki, mereka dianggap penggoda dan penguji iman. Anggapan ini semakin diperkuat dengan dukungan dari teks-teks hadis, misalnya sabda Rasulullah Saw:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah perempuan. (HR Muslim)

Read More

Kata fitnah dalam bahasa Arab berarti cobaan atau ujian. Perempuan dianggap sebagai ujian karena laki-laki sekuat apapun bisa bertekuk lutut di hadapan perempuan. Meskipun demikian, tidak tepat rasanya bila perempuan dianggap sebagai sumber fitnah yang menyebabkan berbagai kemaksiatan.

Ternyata laki-laki pun bisa menjadi fitnah bagi perempuan. Allah Swt dengan jelas menceritakan hal ini. Dalam surah Yusuf, dikisahkan bagaimana Zulaikha mabuk kepayang dengan ketampanan dan kebaikan hati Nabi Yusuf As, hingga ia tak mampu berfikir jernih dan berani menjatuhkan harga dirinya.

Padahal Zulaikha digambarkan sebagai perempuan cantik yang memiliki kedudukan, bahkan ia juga merupakan istri dari seorang laki-laki terhormat. Sebagai perempuan yang berkedudukan, Zulaikha tentu saja akan sangat menjaga prilaku dan harga dirinya karena ia akan selalu menjadi sorotan publik.

Bertahun-tahun Zulaikha memendam rasa cintanya kepada Yusuf, hingga suatu hari ia tak mampu lagi menahan hawa nafsunya. Zulaikha benar-benar dibutakan setan hingga akhirnya melakukan perbuatan tercela kepada Nabi Yusuf As.

Nabi Yusuf tentu merasakan godaan Zulaikha sebagai ujian atas keimanannya. Namun bukankah Zulaikha pun merasakan hal yang sama? Bertahun-tahun ia harus menjaga hawa nafsunya ketika begitu mabuk kepayang dengan ketampanan Nabi Yusuf As.

Tidak hanya Zulaikha, fitnah itu juga dirasakan oleh kawan-kawannya. Ketika mereka mencela Zulaikha atas perbuatan buruknya, Zulaikha pun mengundang mereka untuk datang ke rumahnya agar melihat secara langsung keelokan Nabi Yusuf. Mereka dihidangkan buah apel beserta pisau untuk memotongnya, saat melihat Nabi Yusuf, tanpa disadari mereka bukan memotong apel yang dihidangkan, melainkan tangan mereka sendirilah yang dipotong.

Adanya pemikiran bahwa perempuan adalah sumber fitnah justru terkadang digunakan sebagai perisai oleh kaum laki-laki. Misalnya ketika terjadi sebuah kasus pemerkosaan, perempuan seringkali disalahkan dengan berbagai alasan, seperti pakaian yang ketat, pergi sendirian, pulang malam dan lain sebagainya. Sedangkan sang pelaku justru menganggap dirinya sebagai “korban” dari fitnah perempuan.

Bukankah banyak pula laki-laki yang menggoda perempuan? Bukankah perempuan juga merasakan fitnah tersebut ketika digoda oleh laki-laki? Lalu mengapa hanya perempuan yang seringkali dianggap sebagai sumber fitnah? Bukankah setan selalu menggoda manusia baik laki-laki maupun perempuan?

Bahkan Rasulullah Saw pun tidak serta merta menyalahkan perempuan. Sebagaimana tergambar dalam kisah antara Rasulullah Saw dan keponakannya, Fadhl bin Abbas. Dalam suatu perjalanan, Rasulullah Saw membonceng Fadhl di atas untanya, tiba-tiba seorang perempuan dari Khoitsam mendatangi Nabi Saw untuk bertanya. Fadhl pun menatap perempuan itu dan perempuan itu juga menatap Fadhl. Rasulullah Saw lalu memalingkan wajah Fadhl ke sisi lain agar ia berhenti memandang perempuan itu. Perempuan itu kemudian mulai berbicara kepada Nabi.

Dalam kisah tersebut, Nabi Saw tidak menyalahkan perempuan tersebut, tidak pula memerintahkan si perempuan untuk menundukkan wajahnya, justru beliau memalingkan wajah Fadhl agar tak lagi menatapnya.

Meskipun terdapat banyak teks-teks hadis yang menyatakan bahwa perempuan adalah fitnah bagi laki-laki, namun alangkah baiknya kita lebih bijak lagi dalam memaknai hadis-hadis tersebut. Bukan justru menyalahkan dan menyudutkan perempuan.

Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya harus saling menjaga pandangan dan kemaluannya, bukan hanya laki-laki saja, atau perempuan saja, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah An-Nur 30-31:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”

Wallahu a’lam bisshowab