Fiksi dan Fiktif: Penggunaan Bahasa yang Sembrono

Jadi, kitab suci itu fiktif atau fiksi, Pak Rocky?

Fiksi dan Fiktif: Penggunaan Bahasa yang Sembrono

Setelah ungkapan Rocky Gerung menyatakan Kitab suci adalah fiksi, Pecahlah keributan di media sosial.

Setelah ungkapan Rocky Gerung menyatakan Kitab suci adalah fiksi, Pecahlah keributan di media sosial. Bila ditinjau secara politis, diskusi akan terjebak pada lubang serangan berbalik dengan mengatakan “Tuh, Rocky Gerung menistakan Kitab suci, mana suaranya yang demo hingga berjilid-jilid itu?.

Sungguh, saya akan menjauhkan diri dari hal-hal yang semacam itu.

Sebagai seorang santri yang kuliah di jurusan filsafat, saya merasa geli. Saya melihat siaran ulang di ILC dan Rocky Gerung mengungkapkan bahwa adanya perbedaan pemahaman secara keliru oleh masyarakat yang menganggap bahwa fiksi adalah rekaan dan khayalan. Ia menjelaskan secara baik bahwa fiksi itu beda dengan fiktif, lawan kata fiksi bukanlah faktual. Begini ia menjelaskan:

Read More

“Orang seperti anda, sering salah kaprah menyandingkan kata fiksi dengan kata fakta. Padahal fiksi itu sandingannya dengan realita. Sesuatu dalam karya fiksi yang belum menjadi realita saat ini, bukan berarti itu bohong. Bisa jadi akan benar-benar terjadi di masa depan. Sedangkan kata fakta itu lawannya fiktif.”  

Ia melanjutkan:

Fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif. Kalau saya bilang kitab suci itu fiktif, saya besok bisa dipenjara itu. Tapi kalau itu dibilang fiksi, saya punya argumen karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci.

Baik. Mari kita telaah sebentar. Pertama, karena kita ini orang Indonesia, maka kita harus tahu bagaimana kata fiksi itu digunakan di dalam Bahasa Indonesia (kita abaikan dulu istilah-istilah filsafat, ontologi, telos, dan alinnya).

Kata fiksi adalah kata benda (noun), dalam KBBI menunjukkan arti: Pertama, cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya). Kedua, Rekaan; Khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Ketiga, Pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Sedangkan kata fiktif adalah bentuk sifat (adjective) dari kata fiksi.

Misalnya, dalam pernyataan “peristiwa cerita kancil nyolong timun adalah fiktif belaka” artinya peristiwa kancil nyolong timun yang lolos dari jebakan pak tani itu adalah khayalan belaka. Misalnya lagi, “cerita kancil nyolong timun merupakan cerita fiksi” artinya cerita tesebut adalah cerita khayalan.

Sampai di sini, beda nggak artinya fiksi dan fiktif?. Tentu saja sama. Bedanya cuma, kalau fiksi itu kata benda, kalau fiktif itu kata sifat.

Jadi, kalau merujuk kata fiksi dalam bahasa Indonesia, mengartikan kalimat “Kitab suci adalah fiktif.” Maka bagaimana artinya?. Siapa yang berani jawab? (sambil lirak-lirik).

Kedua, perbedaan istilah dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Ada yang mengatakan pernyataan Rocky bisa dianggap benar dan biasa ketika melihatnya dengan multi-perspektif.

Misalnya begini, kata sunnah dalam istilah fikih berarti perbuatan yang dilaksanakan mendapat pahala, ketika meninggalkan tidak apa-apa. Namun, sunnah dalam perspektif hadis tentu berbeda. Sunnah dalam penggunaanya sehari-sehari juga beda artinya. “Kamu kok nyunnah sekali.” Misalnya.

Sebentar sebentar. Tunggu dulu. Kalau kita sibuk dengan istilah-itilah yang bisa diartikan dengan multi-perspektif, kita akan capek sendiri. Misalnya:

“Ayo, Mas, makan, nanti kamu sakit lho.” Ajaknya.

Karena Masnya ini orang filsafat, jawabannya. “Sebentar, Dik. Sepengetahuan saya bahwa makan dan sakit itu korelasinya tidak signifikan, sebab banyak orang yang sakit justru karena makan, dan sebaliknya ada beberapa orang yang sehat-sehat saja meskipun ia tidak makan, seperti para pertapa yang mampu berpuasa berhari-hari.”

“Jadi, sakit apa yang adik maksud?. Sakit secara psikis atau secara fisik?. Kita harus membedakan keduanya biar tidak terjerumus pada jurang salah paham. Apa gunanya secara fisik sehat namun hatinya sudah sakit dengan sifat-sifat buruk?.”

Saya haqqul yakin. Mbaknya pasti sudah capek wal mumet dengerin penjelasan seperti demikian. Karena ajakan makan Mbaknya itu tidak lain adalah ungkapan perhatian belaka, seandainya jika jadi makan, tetap saja Masnya yang harus bayar.

Jadi tidak perlu repot-repot dengan istilah-istilah yang justru akan membingungkan dan jauh dari maksud sebuah bahasa, yakni memahamkan orang lain.

Ketiga, konteks yang tidak sesuai. Jika Rocky mengatakan hal tersebut di kelas perkuliahan dunia akademik dengan segala ke-eksklusifannya, silahkan saja. Namun jika hal tersebut diungkapkan di publik, maka yang terjadi adalah kontroversi yang akan mengakibatkan kesulitan demi kesulitan dan capek sendiri, sebab harus menjelaskan kepada seluruh audiens yang berbeda-beda dalam kapasitas dan kecenderungannya.

Ya seperti fiksi itu baik dan fiktif itu buruk. Bagaimana kita bisa membedakan kata benda dan kata sifat dengan arti yang kontras seperti itu baik-buruk.

Korupsi itu baik, yang buruk adalah sifatnya. Licik itu baik, yang buruk adalah kelicikannya. Jahat itu baik, yang buruk adalah kejahatannya.

Kiranya, ada benarnya kalimat Pram “Hidup itu sederhana, yang hebat hanyalah tafsiran-tafsirannya.” (Dan) Wa Rocky a’lamu bimuradihi. Dan kita tak perlu repot-repot melakukan aksi bela islam yang bersilid-silid itu, sebab Gus Dur dulu pernah mengatakan bahwa Alquran adalah kitab porno.

Coba yang hari ini ada yang ke toko buku, apakah kitab-kitab suci sudah dipindahkan ke rak fiksi?.