Dewi dan Puasanya

Dewi dan Puasanya

Perlu adanya pelurusan niat dari lubuk hati kita, bahwa puasa semata-mata untuk mencari keridhaan Allah. Kepadanya kita serahkan segala amal ibadah……

    Dewi terkejut kala ibunya menepuk-nepuk pipinya. Tubuhnya menggeliat. Matanya riyep-riyep oleh pendaran lampu kamarnya.
    “Ada apa sih, Bu, pake bangunin Dewi segala.”
    “Lo, katanya anak ibu mau sahur. Tu alarmnya masih teriak-teriak. Ayo bangun dong, sayang,” bujuk Ibunya. Perlahan Dewi bangun dengan malasnya. Ibunya keluar. Diraihnya jam weker lalu dihempaskan begitu saja.
    “Sayur gudeg kesukaanmu sudah Ibu angetin lo, Wi. Lekas kemari.” Suara ibu Dewi di kejauhan.
    Paginya Dewi kesiangan ke sekolah. Ibu Dewi menggeleng melihat putri tunggalnya.
    “Lho, Dewi kok gak sarapan dulu to, Bu?. Tanya Bapak Dewi
    “Anak kita lagi progam puasa senin-kamis, Pak.” Bapak Dewi mengangguk agak keheranan. Tumben Dewi mau puasa senin-kamis. Dapat pencerahan dari mana kok cespleng gitu efeknya, batinnya.
    “Tu kan, Pak, kalau memang sudah waktunya Dewi akan ngerti sendiri kok ajaran-ajaran agama yang memang harus menjadi hak dan kewajibannya sebagai muslimah.”
    “Ya, seharusnya memang harus sejak dulu to, Bu. Sebagai orang tua Bapak hanya ingin Dewi rajin beribadah sebagai kewajiban sebagai hamba-Nya sekaligus menjadi benteng dirinya di tengah kehidupan anak muda yang tak karuan ini.”
    “Iya, tapi bapak jangan terlalu keras dong membimbingnya. Pelan-pelan sesuai perkembangan jiwanya.”
    “Dewi itu bukan anak-anak lagi, Bu. Bahkan wajib memukulnya jika mbalelo dan lalai menjalankan perintahNya, terutama yang diwajibkan itu. Dan bapak bukan keras pada Dewi, tapi tegas.”
    “Sudah-sudah, bapak kok jadi bersemangat sekali. Hampir jam tujuh lho, pak”
    “Bapak pergi ke kantor dulu ya, Bu. Assalamu’alaikum.”
    “Waalaikum salam…, hati-hati ya, Pak.” Ibu Dewi senyum-senyum, sembari melepas pandang pada suaminya.
    Di sekolahnya, sebuah Madrasah Aliyah yang berada di sebelah desanya, Dewi terlihat tak banyak polah dan lebih memilih mengunci mulutnya. Kontras  seperti kebiasaannya. Dewi lebih popular sebagai gadis lincah dan banyak celoteh. Segudang prestasi telah disabetnya. Mulai lomba baca puisi, memerankan lakon teater sampai lomba pidato Arab-Inggris dan debat ilmiah remaja, semunya Dewi menjuarainya. Kedua orang tua Dewi bangga kala mendapat ucapan dari pihak sekolah. Lalu dengan mantap ayah Dewi selanjutnya berkata, “Itu semua juga tak terlepas dari bimbingan  bapak-ibu semua.” Lalu sesampainya di rumah Dewi langsung ketiban kado dari mereka untuk memacu semangatnya dalam menggapai prestasi.
    Temen-temen geng Dewi agak keheranan menanggapi perubahan sikap Dewi. Istirahat hampir habis. Mereka mengerubungi Dewi yang lagi duduk di bawah pohon beringin samping kelas.
    “Hai, hai…sepertinya jagoan kita lagi jutek nih,” sindir mereka serentak.
    Dewi senyum-senyum sendiri, malu-malu. Semua interograsi gengnya mulai dari’ kok di kelas tadi bisu aja’, kok gak nongol di kantin, aku cari di perpustakaan juga gak ada batang hidungmu’, atau lagi marahan sama Rafi ya’. Pertanyaan yang terakhir itu langsung di samber Dewi.
    “Siapa yang lagi marahan, kita baik-baik aja kok”
    “Trus kalau gak kenapa-kenapa, ngapain gak gabung sama kita-kita,” sosor salah satunya.
    “Emang, saban hari aku harus gabung terus sama kalian, sekali-kali boleh kan sendirian,” kilahnya. Temen-temennya melongo, saling lempar pandang. Kali ini Dewi lolos dari sergapan selidik gengnya.
    “Apa aku harus berterus terang sama mereka kalau aku lagi njalanin puasa senin-kamis. Lalu mereka terbengong dan menyambar dengan banyak pertanyaan atau sindiran. Tumben nih, lagi ikut pengajian mana? Mau jadi calon bu Nyai ya? Atau yang lebih parah lagi, lagi tirakat ya?. Lalu aku harus jujur pada mereka, kalau sebenarnya aku njalanain puasa karena……, ah tidak. Tidak mereka pasti akan menertawakanku, dan sepuas-puas mereka menyindirku.” Batinnya  dalam hati, berlalu dari pohon beringin bersama gengnya karena lonceng tanda istirahat selesai berbunyi.
    Senja segera tiba. Dewi males-malesan waktu ibunya mengajaknya ikut pengajian muslimat di masjid.
    “Kan sekalian nunggu bedug maghrib, nyari pahala.”
    “Tapi kan ini untuk pengajian ibu-ibu” elaknya.
    “Siapa bilang, di sana juga ada Mbak Sarah, Mbak Fany, Mbak Sari…”
    “Iya iya, Dewi ikut,” Dewi nurut juga bujukan ibunya meski rautnya cemberut.
    Dewi merasa canggung dihadapan jemaah pengajian yang memang diperuntukkan bagi ibu-ibu.
    “Kalau sudah terbiasa nanti juga ketagihan, Dewi,” hibur ibunya.
    Dewi hanya mesem saja, ia berpikir, kalau hanya ingin mendengar siraman rohani ngapai juga susah-susah berdesakan disini, tinggal nyalain TV, pilih progam kuliah subuh atau apalah kan enak, sambil duduk nyantai. Toh realitanya nantinya materi dari penceramah paling masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri. Buktinya selepas pengajian juga masih suka ngerumpi, padahal mereka tahu hukum bagi seseorang yang suka ngerumpi tetangganya. Menghabiskan waktu saja.
    “Dewi, itu namanya Ustadzah Umi Khalsum, selain suaranya yang merdu kala melantunkan ayat, ia juga menguasai betul masalah agama.” Ujar ibunya memperkenalkan tokoh idolanya.
    Dewi hanya mengangguk.
    Suara si penceramah mulai menguasai ruangan. Dewi mengakui sendiri memang betul kata ibunya, suaranya, gaya dan performencnya sangat lihai. Tapi tetep aja masih jempolan Uje alias Ustadz Jefri Al-Bukhori, batinnya. Namun lambat laun Dewi mulai tertarik juga dengan materi si penceramah.
    Kata si penceramah,  puasa pada hakekatnya adalah untuk menahan segala nafsu manusia. Nafsu yang bersifat lahir seperti hasrat untuk makan, minum, berhubungan seks, dsb. Juga nafsu batin yang bersumber pada hati kita seperti membenci, prasangka buruk, menipu,membohongi, perasaan dengki. Puasa adalah sebagai obat penawar untuk menghapus nafsu-nafsu tersebut. Selain itu puasa juga berdimensi social, artinya puasa dapat mendekatkan kepekaan kita terhadap sesama manusia yang mungkin hidupnya kekurangan dan berkubang dalam kemiskinan. Sehingga untuk makanpun kesulitan. Manusia sekarang telah lupa makna puasa yang dianjurakan Tuhan, dan sering kita menemui kala menjelang buka malah berlomba mencari berbagai makanan sesegar dan seenak mungkin. Perlu adanya pelurusan niat dari lubuk hati kita, bahwa puasa semata-mata untuk mencari keridhaan Allah. Kepadanya kita serahkan segala amal ibadah yang telah kita jalani. Bukan karena factor maupun alasan lain. Kalau kita berpuasa dengan niatan selain Allah maka yang kita dapat hanyalah lapar dan dahaga saja.
    Dewi tercengang mendengar kata-kata teakhir yang di sampaikan si penceramah. Ia mulai menginterospeksi diri.
    Bedug magrib dipukul. Adzan berkumandang. Dewi ogah-ogahan menyantap buka puasa. Ia masih terngiang ceramah barusan tadi. Ini yang membuat nafsu makannya mengendur. Makanan tak dihabiskannya.
    “Pak, Bu, apa benar tubuh Dewi makin gemuk dan lemak menumpuk.” Bapak dan Ibu Dewi hanya saling pandang, terbengong.
    “Menurut Ibu, biasa-biasa aja tuh. Ya kan, Pak.”
    Bapak Dewi mengangguk. Dewi  langsung ngeloyor ke kamar.
    “Aneh, ada-ada saja anakmu itu, Bu.”
    “Ya, namanya juga remaja, Pak. Penampilan juga bagian dari kebanggan pribadi, jadi wajar kalau anak kita nanya seperti itu.”
    Bapak dewi manggut-manggut.
    Malam terus merayap. Mata Dewi masih terang. Ia berpikir, kalau aku puasa karena niat untuk menurunkan berat badanku berarti aku hanya dapat lapar dan haus saja. Bukan pahala. Tapi apa masih mungkin kedua niat bisa disatukan? Dapat pahala dari puasa dan juga efeknya; berat badanku turun?
    Ia terus memutar otaknya. Mencoba meraba kemungkinan-kemungkinan. Tapi apa mungkin hukum Tuhan dapat ditawar-tawar?. Akhiranya Dewi lelah sendiri dan membawanya  pada tidur.
    Saat isrirahat sekolah dewi menghabiskannya di perpustakaan. Lama ia memutar-mutar, membolak-balik buku, sampai akhirnya serius pada satu buku karya cendekiawan muslim. Ia mengambil tempat duduk. Dibacanya buku hasil pencariannya tanpa bergeming. Seulas senyum muncul, keceriaan wajah timbul dalam sekejap.
    Yap! Ini dia. Soraknya dalam hati. Memperhatikan satu persatu kata-kata dari buku nyang dibacanya. “Salah satu efek dari puasa yang diwajibkan maupun yang disunahkan adalah untuk menjaga kesehatan badan kita. Misalnya kita gak usah pakai progam diet atau lain sebagainya. Karena dengan puasa kita dapat mengurangi jumlah lemak yang menumpuk. Itu salah satunya dari segi kesehatan. Tapi sebagai sikap kepasrahan kita dalam menjalankan ibadah puasa adalah karena niat keridhaan dari Allah semata.
    Dewi keluar perpustakan dengan wajah penuh kemenangan. Ya, menemukan sebuah jawaban atas kegelisahannya. Niat dalam ibadah adalah hal yang paling utama. Seperti dalam Hadist Nabi, sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.
*****
    Cerita di atas disampaikan Dewi saat ceramah di depan siswa-siswi Madrasahnya dulu. Sejak  menjadi menantu seorang Kyai kondang di kota, Dewi lebih dikenal sebagai seorang Ustadzah yang mengisi ceramah di berbagai pengajian, dengan bahasa, gaya dan performance yang tak kalah lihai dari Ustadzah Umi Khulsum idola ibunya.

Bantul, Juni 2007

 

Read More