SHARE

Bulan Ramadhan lalu adalah bulan yang bermakna buat kami. Karena di bulan itu, tepatnya satu minggu sebelum lebaran 1 Syawal 1434 H, saya dan temen programer saya, Saeful Uyun, berhasil menyelesaikan versi mobile islami.co. Sejak saat itu, islami.co boleh dikata sudah launching, dengan sejumlah tulisan/artikel yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Kini 30 hari sudah terlewati, dan alhamdulillah islami.co mendapat respon dan dukungan dari banyak pihak. Sejumlah kontributor menyumbangkan tulisannya, seperti Hamzah Sahal, Irsyadul Ibad, Ghufron Mas'ud, Syafiq Syierozi serta Maghfurrodhi, dan banyak pembaca mendukung dengan menshare artikel di Facebook dan Twitter. Sehingga meski baru berumur satu bulan, islami.co telah mendapat kunjungan ribuan orang dan artikelnya rata-rata dibaca ratusan kali—bahkan ada yang ribuan kali. 

Situasi itu tentu menggembirakan. Saya tahu apa yang harus dikerjakan dengan islami.co, tapi jujur saya tidak tahu akan sanggup sampai di mana. Saya memimpin dua media, satu online dan satu cetak (majalah), dan butuh dukungan finansial yang tidak kecil untuk menghidupinya—mulai dari gaji staf, honor kontributor, desainer, IT dan seterusnya. Dengan islami.co, kami praktis tidak memiliki itu semua. Modal kami hanya satu: tekad yang bersumber dari kegelisahan atas maraknya kampanye kebencian berdasar Islam. Seperti saya ungkapkan di Catatan Redaksi pertama, ini tak ubahnya fardhu kifayah—harus ada yang melakukannya; harus ada yang membuat website untuk mengimbangi marak dan aktifnya web-web garis keras yang bisa menjerumuskan bangsa ini dalam jurang sentimen, lembah konflik dan ladang kekerasan.

Setelah 30 hari, kami bersyukur karena jalan sepertinya terbuka. Ada banyak orang yang satu visi dan punya kegelisahan sama dengan kami, sehingga membantu dengan caranya masing-masing. Saya berharap ke depan makin banyak orang yang mau menjadi kontributor islami.co, karena lazimnya dalam media, content is a king. Tanpa artikel-artikel yang memadai dan relevan dengan situasi, sulit islami.co bisa berkembang.

Saya juga berharap setiap pembaca bersedia men-share 1-2 artikel ke Facebook dan Twitternya, karena itu akan mempercepat islami.co dalam mendapatkan pembaca. Lebih dari itu, saya berharap artikel-artikel mencerahkan yang ada di islami.co dibaca oleh lebih banyak orang, menjangkau lebih banyak pikiran.

Hingga hari ini saya masih mencari kontributor-kontributor yang tepat untuk tiap rubrik yang ada di islami.co—mulai dari yang bersifat ubudiyah hingga kajian dan artikel sejarah dan kisah-kisah serta hikmah. Kami berharap islami.co bisa dibaca oleh mereka yang awam dan bisa dinikmati oleh mereka yang intelektual. Selama ini, artikel-artikel dari kalangan kampus sering terlalu diskursif dan intelektual, sehingga hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Islami.co tidak ingin terjebak dalam langgam yang seperti itu. Islami.co adalah media dakwah, kampanye, oleh karenanya mesti bisa menyentuh semua kalangan.

Tidak mudah memang untuk mencari orang yang konsisten menulis—apalagi tema-tema keagamaan. Rata-rata jaringan yang saya miliki memang menguasai persoalan keagamaan, baik yang dari kampus maupun pesantren, tapi tak banyak yang memiliki tradisi menulis yang baik. Namun dengan dukungan selama satu bulan ini, kami percaya islami.co bisa tumbuh dengan semestinya.

Saat ini masih banyak sisi islami.co yang harus kami benahi. Versi desktop masih acak-acakan, fitur “search” dan “indeks” juga belum ada. Berdasar laporan, beberapa kontributor yang sudah daftar juga mengalami kegagalan ketika login. Semua itu menjadi PR kami, yang akan segera kami perbaiki. Namun, karena kami masing-masing punya pekerjaan yang juga tidak bisa ditinggalkan, perbaikan islami.co mungkin akan relatif memakan waktu. Tapi semoga itu tak demikian mengganggu kenyamanan kontributor dan pembaca, karena versi mobile—yang kami tempatkan sebagai platform utama—sudah cukup nyaman dinikmati, baik dari BB, iPhone maupun Android.

Sekian, semoga semua yang kami kerjakan bisa menjadi berkah buat kita semua, kaum muslimin dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Mohamad Syafi' Ali

Jakarta, 1 Sept 2013