Amalan Anti Corona Berdasar Surat-surat Pilihan

Amalan Anti Corona Berdasar Surat-surat Pilihan

Di masa krusial seperti hari-hari ini, kita selayaknya punya senjata. Berikut amalan anti-Corona yang musti kita pegang sebagai bentuk perlawan terakhir (tawakal) dalam mencegah pandemi global.

Amalan Anti Corona Berdasar Surat-surat Pilihan

Fenomena virus Corona semakin menggila. Laksana tak kenal ampun, pesebarannya menembus batas geografis, ideologis, dan tentu saja sekat-sekat agama. Kini, Virus Corona telah menjelma sebagai ancaman bersama.

Segenap daya dan upaya telah dikerahkan. Para tenaga kesehatan pasang badan di garda depan. Mereka berjibaku dengan para pasien suspect d/a positif Covid-19, dan musti siap dengan segala risikonya, termasuk bergelut dengan maut.

Pemerintah juga tampak berpayah-payah mencurahkan upayanya, kendatipun masih belum maksimal. Sejauh ini himbauan resmi dari pusat adalah social distancing (pembatasan sosial), yang mengharuskan kita untuk mengurangi jam terbang kumpul-kumpul, baik dalam skala apapun.

Sinyal dari pemerintah pusat itu ternyata ditangkap dan diapresiasi oleh para tokoh, artis, dan orang-orang berpunya dengan menggalang donasi, semata untuk memberi dukungan kepada mereka yang layak didukung. Konser #dirumahaja yang disirakan Channel Narasi TV adalah satu dari bejibun bukti betapa masyarakat kita masih saling peduli. 

Beberapa daerah di Yogyakarta malah lebih heroik dan jenaka. Jika himbauan pemerintah sebatas social distancing, maka desa-desa di lereng Gunung Merapi dan beberapa daerah di Yogyakarta lainnya telah menerapkan lockdown.

Derasnya arus bawah ini sepertinya memang layak ditiru oleh daerah-daerah lain di tengah situasi yang makin tidak tentu ini. 

Tak ketinggalan, para ulama, kiai, serta ustaz pun membagi-bagi berbagai macam amalan keagamaan yang dipercaya bisa menjadi alternatif penangkal bala, bil khusus anti-virus Corona. Mulai dari doa ringan, wirid sedang, sampai hizb berat, semua itu beterbangan di lalu-lintas media sosial, semata dimaksudkan sebagai amalan anti-Corona.

Dan, ya, menggalakan membaca amalan di tengah gempita bencana merupakan tradisi dan kearifan lokal kita yang layak dilestarikan.

Hope is power,” begitu kata orang bijak.

Dengan “harapan” kita pun jadi punya alasan untuk bertahan (survive). Dengan “harapan”, orang jadi lebih optimis menatap masa depan. Dan, dengan “harapan” pula, agama mengajarkan agar kita melangitkan doa-doa setelah sebelumnya mengerahkan segenap upaya kasat mata untuk satu tujuan.

Di masa-masa krusial ini kita memang selayaknya punya senjata, atau paling-tidak telah mengantongi amunisi. Orang Jawa menyebutnya sebagai gaman. Nah, berikut gaman-gaman atau amalan anti-Corona yang insyaAllah aman dan musti kita pegang sebagai bentuk perlawan terakhir (tawakal) dalam menghadapi pandemi Corona.

Yak, here we go!!

#4 Surat Al-Isra ayat 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari al–Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al–Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Satu penggalan ayat dari surat al-Isra ini dipercaya sebagai obat yang mujarab. Mula-mula, Wahbah Zuhaili, misalnya, menerangkan ayat ini dengan mensinyalir turunnya wahyu kepada Nabi sebuah bacaan yang di dalamnya terdapat obat.

Dan, ya, al-Quran itulah obat bagi seluruh penyakit hati seperti iri, dengki, kafir, ragu-ragu, kebodohan, gelapan hati, dan lain sebagainya. Demikian versi Wahbah. Ini senada dengan penafsir lain, seperti  Tanthowi Jauhari, yang menafsirkan kata syifa’ dalam ayat di atas sebagai penyakit-penyakit hati.

Maka, sebagai umat Islam Indonesia yang terkenal di seantero dunia, kita memang seyogianya membaca dan merenungi ayat ini. Siapa tahu dengan begitu, kita lalu bisa sembuh dan tidak lagi memandang virus Corona sebagai problem akidah, melainkan sebagai sebuah pandemi atau wabah yang penyelesaiannya adalah mutlak berada di ranah tenaga medis dan kesehatan, alih-alih dengan beduyun-duyun ke rumah Allah sembari diam-diam turut menyebarkan virus Corona. 

#3 Surat Al-Hasyr

Kendati secara tekstual Surat al-Hasyr bermakna “pengusiran”, ia dipercaya umat Muslim sebagai amalan ampuh yang layak dibaca di tengah bencana. Mengingat status virus Corona telah resmi sebagai pandemi dan penanganannya pun menjadi kewenangan BNPB, maka cukup masuk akal jika kita pun turut membacanya, dengan harapan bahwa semoga Allah Swt menurunkan inayah-nya dan situasi segera kembali normal seperti biasanya.

Nah, melihat muatan al-Hasyr yang tidak begitu panjang, surat golongan Madaniyah ini memang sebaiknya dibaca utuh. Lagi pula, tidak ada salahnya juga kok kalau kita mendaras seluruh ayat al-Quran.

#2 Surat Al-Fatihah

Naini. Siapa yang tak kenal surat al-Fatihah? Pasti setiap umat Muslim paham betul ayat demi ayatnya. Lha gimana, al-Fatihah itu termasuk rukun sahnya shalat je.

Tapi yang terpenting, al-Fatihah ternyata bisa jadi amalan ampuh untuk megatasi segala persoalan, termasuk dalam hal ini pandemi Corona. Ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad yang mensinyalir bilamana Al-fatihatu lima quriat lahu (al-Fatihah itu sesuai dengan maksud pembacanya). Ringkasnya, al-Fatihah itu multi-tasking, bisa diajak kemana saja dan dipakai apa saja.

Jadi, tidak ada salahnya jika di masa-masa krisis ini kita galakan disiplin membaca al-Fatihah, tentu dengan niatan sebagai pertahanan diri terhadap mewabahnya virus Corona.

#1 Surat Himbauan

Masih butuh penjelasan?

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Virus Corona ATAU Artikel-artikel tentang Virus Corona lainnya