Ali Mustafa Yaqub & Quraish Shihab: Dua Ulama Indonesia yang Dituduh Wahabi dan Syi’ah

Ali Mustafa Yaqub & Quraish Shihab: Dua Ulama Indonesia yang Dituduh Wahabi dan Syi’ah

Ali Mustafa Yaqub dan Quraish Shihab, dua ulama Indonesia yang ahli hadis dan tafsir ini juga tidak pernah lepas dari tuduhan dan fitnah. Ali Mustafa Yaqub dituduh wahabi dan Quraish Shihab dituduh syiah.

Ali Mustafa Yaqub & Quraish Shihab: Dua Ulama Indonesia yang Dituduh Wahabi dan Syi’ah

Empat tahun lalu, tepatnya 28 April 2016, KH. Ali Mustafa Ya’qub, ulama ahli hadis Indonesia menutup usia. Kini genap sudah pendiri Pondok Pesantren Darus-Sunnah ini meninggalkan dunia, namun namanya masih terus disebut-sebut, tulisan-tulisannya masih dibaca dan dijadikan referensi para akademisi, bahkan doa-doa untuknya terus menerus dipanjatkan para santri.

Bapak, begitulah sapaan akrab para santri pada Kyai Ali Mustafa. Di mata kami, santrinya, melihat sosok Bapak bagaikan menyaksikan gambaran kehidupan Rasulullah Saw. Sebab Bapak tak hanya mendalami hadis-hadis Nabi Saw, melainkan juga menerapkan amalan sunah di kehidupan sehari-harinya. Paduan ilmu dan amal yang amat serasi. Hal yang cukup berat dilakukan kebanyakan orang.

Salah satu kekaguman penulis padanya adalah cara beliau menghadapi kritikan dan tuduhan tak berdasar yang ditujukan pada dirinya. Alm. Ali Mustafa pernah dituding sebagai Wahabi oleh segelintir orang.

Tuduhan ini menjadi semakin keras dilayangkan setelah tulisan berjudul Titik Temu Wahabi-NU diterbitkan di media massa, hingga kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama.

Namun laki-laki kelahiran 2 Maret 1952 ini tak ambil pusing dengan tudingan tersebut. Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal ini hanya berkata “Seandainya berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadis itu disebut Wahabi, maka manusia dan jin akan menyaksikan bahwa kami adalah Wahabi.”

Dalam buku berjudul “Titik Temu Wahabi & NU” beliau berkisah, seorang muadzin Masjid Istiqlal mengadukan kepadanya ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal (Ali Mustafa Yaqub) adalah seorang Wahabi.

Namun santri Kyai Idris Kamali ini sama sekali tak tersulut emosinya, beliau malah bertanya “Dari mana ia tahu bahwa kami (saya) adalah seorang Wahabi?”

“Katanya Imam Besar Masjid Istiqlal saat menyampaikan ceramahnya selalu berpegang pada al-Qur’an dan Hadis,” jawab si muadzin.

Mendengar jawaban tersebut, Ali Mustafa jadi teringat perkataan Imam Syafi’i saat dituduh sebagai Rafidhah (syiah) karena begitu mencintai keluarga Nabi Muhammad Saw. Imam Syafi’i berkata “Seandainya Rafidhah itu artinya mencintai keluarga Muhammad, maka manusia dan jin agar menyaksikan bahwa aku adalah Rafidhah.”

Maka, saat dituduh sebagai Wahabi, beliau pun dengan enteng menjawab “Seandainya berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadis itu disebut Wahabi, maka manusia dan jin akan menyaksikan bahwa kami adalah Wahabi.”

Selain karena upayanya mencari titik temu antara Wahabi dan NU, tuduhan ini juga dikarenakan beliau pernah menempuh pendidikan di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh dan belajar langsung dari beberapa tokoh Wahabi.

Akan tetapi Yai Ali bukanlah orang yang menelan segala informasi mentah-mentah. Dalam mempelajari sesuatu, beliau memang tak pandang bulu, berguru pada siapa saja. Namun beliau tetap bisa mengambil sikap dan memiliki pendirian sendiri.

Mengutip Nu.or.id, Prof KH. Yafie pernah mengatakan, “Meskipun tercatat sebagai salah seorang alumnus Timur Tengah, yang sering diklaim jumud (keras), statis, dan cenderung agak keras dalam menyikapi berbagai fenomena keagamaan, tak menjadikan beliau (Ali Mustafa) bersikap keras.”

Selain Ali Mustafa Yaqub, Quraish Shihab, pakar Tafsir Indonesia juga tak lepas dari tuduhan miring tentang dirinya. Tersebar isu yang menyebutkan bahwa beliau adalah seorang Syiah. Dakwaan ini lantaran dalam Tafsir al-Misbah, beliau turut mengutip kitab al-Mizan yang dikenal sebagai karya ulama Syiah. Selain itu beliau juga menulis buku “Sunnah Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?”

Sebetulnya bukan hanya Tafsir Al-Mizan yang beliau kutip dalam tafsirnya. Ayahanda Najwa Shihab ini juga menggunakan berbagai referensi kitab tafsir lainnya, serta mengutip pendapat-pendapat banyak ulama dari berbagai latar belakang.

Apa yang dikutip dalam Tafsir Al-Mizan juga bukan karena beliau setuju sepenuhnya. Apabila ada pendapat yang bersebrangan, Quraish Shihab akan mengomentarinya dan memberikan pandangan berbeda.

Mengutip pendapat seorang ulama Syiah bukan berarti menjadikan kita anggota Syiah. Belajar dari tokoh Wahabi belum tentu menjadikan muridnya seorang Wahabi, dan mencintai keluarga Rasulullah Saw tidak berarti membuat pencintanya menjadi seorang Rafidhah.

Terlebih Ali Mustafa dan Quraish Shihab memiliki misi mulia, menghalau perpecahan umat. Dari pada meributkan soal perbedaan, keduanya justru fokus pada persamaan dan kesatuan. Demikianlah tuduhan-tuduhan ini justru hanya muncul dari mulut ke mulut belaka. Bisa jadi para penuduh belum mengerti apa yang dimaksud Syiah, Wahabi atau Rafidhah. Bahkan bisa jadi penuduhnya pun belum pernah bertemu dan membaca karya-karya dari para intelektual yang dikritik mereka ini.