Nyepi di Tengah Wabah Corona

Nyepi di Tengah Wabah Corona

Ini sisi lain di tengah wabah Corona yang menyelimuti dunia belakangan ini

Nyepi di Tengah Wabah Corona

Beberapa hari ini, imajinasi saya sering terbang ke masa lalu. Adakalanya saya teringat akan nikmatnya ngangkring dan minum jahe susu anget saat kuliah di Jogja. Ketika leyeh-leyeh saya teringat naik vapur, menyeberangi kapal saat melintasi selat bosphorus Istanbul. Tiba-tiba teringat saat memandangi jembatan Sydney Harbour yang berbentuk lengkung dan enak dipandang. Teringat dengan serunya main sepak bola di kampung hingga adzan maghrib tak hanya sebagai paggilan sholat, melainkan sebagai tanda berakhirnya permainan.

Semua ingatan itu muncul di saat saya harus berdiam diri di rumah. Bisa jadi saya ingin menjadi warga negara yang patuh dengan mengikuti nasihat pemimpinnya untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Juga bisa jadi karena saya takut dengan virus yang namanya terdengar cantik itu; Corona. Namun, dibalik kecantikan namanya, ternyata wabah jahanam ini mampu memeluk erat badan kita hingga berhenti bernafas. Lebih dari 18.000 korban meninggal di seluruh penjuru dunia. Tidak ada satupun negara yang merasa aman dengan virus ini. Meminjam istilah Presiden Prancis, Emmanuelle Macron “Le virus n’a pas de passeport”, “virus tidak punya paspor.” Kita bak perahu oleng di tengah samudera. Semua sepakat bahwa virus corona yang menyebarkan pandemi Covid-19 harus segera dilenyapkan dari muka bumi.

Khawatir itu berbeda dengan panik. Orang panik bisa jadi dia khawatir, namun tidak berlaku sebaliknya. Panik bisa membuat imunitas rendah. Pemerintah harus terbuka dalam membuka data dan memberikan pelayanan terbaiknya agar masyarakat tidak panik, tapi cukup khawatir. Meskipun, keduanya sangat manusiawi. Intinya manusia ada rasa takut untuk mati. Bisa jadi karena merasa setelah mati tak bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat dekat. Termasuk takut mati sementara utang masih menumpuk, tidak tega setelah dikubur melihat keluarga dikejar-kejar utang. Jadi, ada banyak motif orang takut mati. Namun, ada juga orang yang sudah siap mati karena yakin memiliki bekal yang cukup untuk menghadap sang Maha Pencipta.

Sepi

Rasa khawatir dan panik membuat ruang gerak manusia menyempit. Tempat-tempat yang bisanya penuh desakan orang, terlihat lenggang. Colosseum sebagai simbol sejarah keagungan bangsa Romawi sepi. Vatikan menutup lapangan Santo Petrus dan Basilika Santo Petrus. Arab Saudi juga menghentikan umroh sementara. Masjid di Kuwait mengubah kalimat adzan yang awalnya berbunyi Hayya ‘ala al-Salah (marilah sholat) diganti dengan al-Salatu fi buyutikum (sholatlah di rumah kalian). Gereja, kuil, sinagog dan pure juga banyak yang tutup. Semuanya memiliki satu tujuan yang sama, demi keselamatan.

Bumi sedang sakit dan ingin menyembuhkannya sendiri. Bisa jadi bumi ngambek, karena sering dipaku dengan pondasi, disemen hingga tak ada rongga tanah untuk bernafas dan dicabut pohonnya kemudian diganti dengan gedung-gedung tinggi berupa mall dan pusat bisnis. Maka, bumi mengingatkan kita untuk berhenti merusaknya. Pelajaran akbat yang tua menyayangi yang muda, namun yang muda tidak menghormati yang tua.

Nyepi

Sang bijak bestari berpesan: “tidak ada kata terlambat.” Saya rasa pesan itu sangat cocok sekali dengan situasi sekarang. Sudah saatnya kita berhenti sejenak. Memberikan kesempatan udara agar tidak kotor dipenuhi polusi yang disembur dari knalpot dan pabrik industri. Mengistirahatkan pikiran terutama hati untuk nyepi bersama semesta. Mungkin rutinitas pekerjaan membuat kita sibuk hingga lupa akan hakikat kehidupan. Mungkin kita terlalu angkuh merasa menjadi sang pemilik tunggal. Namun ketika berhadapan dengan virus super kecil yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang ini, baru sadar siapa diri kita sebenarnya.

Tanggal 25 Maret, ummat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi ditemani hampir seluruh manusia. Lebih tepatnya ikut pada level paling awam untuk sekedar diam di rumah, tidak bepergian kemana-mana. Karena ini levelnya paling awam, maka nyepinya masih menggunakan listrik, nonton TV, menggunakan internet bahkan dengan bumbu saling hujat di jagad sosial media. Sangat disayangkan, disaat negara lain sibuk bersatu melawan corona, kita malah sibuk dengan sinisme berorientasi pada syahwat kekuasaan. Padahal WS Rendra sudah mengingatkan dalam Maskumambangnya: “Meskipun hidup berbangsa perlu politik, tetapi politik tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal…” .

Sudah saatnya kita merefleksikan diri. Sadar bahwa hidup ini butuh keseimbangan. Alam mampu hidup tanpa manusia, namun manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Ada hal yang bisa dilakukan manusia namun jika dilakuakan secara serampangan efeknya akan buruk. Kemampuan menahan diri untuk tidak serakah menjadi puasa terberat di era disrupsi ini.

Ketika mentari bersinar normal, manusia sulit membedakan antara kebenaran hakiki dan kepalsuan yang fana. Saat-saat genting seperti ini paling mudah membuka watak manusia yang sering turtutup topeng. Mereka yang hatinya kotor dengan mudah memanfaatkan momentum ini untuk mengeruk kepentingan pribadi. Moral jatuh pada titik nadir. Masker ditimbun dan dijual dengan harga selangit. Panik dengan belanja sembako sampai tidak menyisakan orang lain.

Orang seperti ini tidak sadar, bahwa bisa jadi tetangganya mati bukan karena serangan corona melainkan akibat keserakahan yang membuat tetangganya mati karena kelaparan. Maka, bisa jadi manusia model begini lebih ganas dari corona. Sebaliknya, orang yang hatinya dipenuhi rasa kemanusiaan berusaha mengeluarkan segala daya upaya untuk membantu orang lain. Apalagi sebagai orang timur kita dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan suka gotongroyong. Kata sang sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi “damailah mereka yang berhati mulia. Manakala melihat tembok ruhmu hendak roboh, mereka menegakkannya.”

Saya yakin waktu nyepi akan segera berakhir. Selalu ada sisi terang dari gelap. Ilmuwan akan menemukan vaksinnya, rumah ibadah kembali dibuka dan tempat wisata kembali diramaikan turis. Hari-hari indah yang kita inginkan akan datang. Segala rencana yang tertunda akan dijalankan. Disitulah komitmen kemanusiaan kita diuji, apakah benar ingin semesta mendukung atau ingin semesta kembali mendung. Maka penting membaca kelanjutan kalimat Rendra: “dalam kewajaran hidup bersama di dunia, harus menjaga kedaulatan hukum alam, daulat hukum masyarakat dan daulat hukum akal sehat”.