Kultum Ramadan: Ibadah-ibadah Ringan di Bulan Ramadan

Kultum Ramadan: Ibadah-ibadah Ringan di Bulan Ramadan

Beberapa orang menganggap bahwa ibadah Ramadan perlu dilaksanakan dengan giat, jika perlu dengan begadang semalaman dan libur bekerja. Hal ini tentu anggapan yang kurang tepat.

Kultum Ramadan: Ibadah-ibadah Ringan di Bulan Ramadan

Ibadah di bulan Ramadan bukan hanya puasa, tarawih, dan itikaf qiyamul lail, tapi juga masih ada beberapa ibadah ringan yang bisa kamu lakukan. Berikut kultum ramadan seputar beberapa ibadah ringan yang bisa dikerjakan di bulan Ramadan.

Kultum Ramadan: Ibadah-ibadah Ringan di Bulan Ramadan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ بَعْدَ الشِّدَّةِ فَرَجاً، وَمِنَ الضَّيْقِ سِعَةً وَمَخْرَجاً. وَأصَلَّيْ وَأسَلَّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah

Ramadahan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan pahala berlimpah. Makanya, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Namun sering kali di kepala kita sudah terbayang bahwa ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan harus ibadah yang berat dan menguras tenaga, seperti salat tarawih, salat malam, membaca Al-Quran hingga khatam, dan lain sebagainya.

Padahal dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan, tidak selalu harus melakukan amalan yang berat dan memakan waktu lama. Allah Swt juga telah menyiapkan amalan-amalan ringan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang kesusahan dan berat dalam menjalankan ibadah-ibadah biasa.

Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah

Berikut beberapa amalan ringan namun tetap dihitung sebagai ibadah yang besar pahalanya di sisi Allah Swt pada bulan Ramadan.

Pertama, mengerjakan amalan-amalan yang ringan namun konsisten. Misalnya salat rawatib. Salat ini ringan sekali, karena bisa dilakukan di waktu yang sama sebelum/setelah salat fardu, tanpa harus menyediakan waktu lain.

Amalan ringan lain yang bisa dilakukan secara konsisten adalah membaca Al-Quran di setiap salat fardu. Tak perlu banyak-banyak, berjuz-juz, cukup setiap salat fardu satu lembar, asalkan konsisten, kita bisa khatam 30 juz selama bulan Ramadan.

Allah SWT mencintai setiap amalan yang konsisten, sekalipun itu adalah amalan yang ringan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ

Artinya, “Perbuatan yang paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Dari hadis tersebut, kita bisa memahami bahwa Allah Swt lebih menghargai konsistensi dalam ibadah meskipun dalam jumlah yang sedikit. Yang paling penting saat beribadah di bulan Ramadan adalah istiqamah, maka insyaAllah Allah akan mencatatnya sebagai bagian dari menghidupkan bulan Ramadan.

Rasul Saw. bersabda yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah RA,

مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ.

Artinya, “Orang yang menghidupkan bulan Ramadan, dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt., maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari)

Dalam hadis lain dijelaskan,

إن الله فَرَضَ صيامَ رمضانَ، وسَنَنْتُ لكم قِيامَه،فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِه كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

Artinya, “Sesungguhnya Allah Swt. mewajibkan puasa Ramadan dan aku men-sunnahkan untuk menghidupkan malamnya. Orang yang puasa dan menghidupkan bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah Swt. maka ia akan diampuni dosanya seperti pada hari ia dilahirkan.” (HR an-Nasai)

Para ulama menyebutkan bahwa ibadah apapun yang dilakukan pada bulan Ramadan, baik itu puasa, salat sunnah, termasuk salat tarawih, membaca Al-Quran, maka dihitung sebagai amalan yang termasuk dalam hadis tersebut.

Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah

Kedua, adalah bekerja seperti biasa pada bulan Ramadan, tentu disertai dengan puasa di siang harinya bagi yang mampu.

Beberapa orang menganggap bahwa ibadah Ramadan perlu dilaksanakan dengan giat, jika perlu dengan begadang semalaman dan libur bekerja. Hal ini tentu anggapan yang kurang tepat. Karena ibadah di malam hari hukumnya sunnah, sedangkan bekerja adalah suatu kewajiban. Sebuah kewajiban tidak boleh dikalahkan oleh sunnah.

Dalam sebuah kaedah fikih disebutkan,

الوَاجِبُ لاَ يُتْرَكُ لِسُنَّةٍ

Artinya, “Suatu perkara yang wajib tidak bisa ditinggalkan karena perkara sunnah.”

Bahkan ada salah satu ayat dalam Al-Quran yang turun untuk memperingatkan umat Nabi Muhammad Saw. terkait hal ini. Saat itu Nabi dan para sahabat beribadah pada malam hari, namun pada paginya para sahabat letih sehingga tidak bekerja, ada sebagian yang sakit pula. Maka Allah SWT menurunkan sebuah ayat:

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil : 20)

Maasyiral Muslimin,

Maka dari itu, bekerja saat bulan Ramadan masih dihitung ibadah, jika diniatkan untuk menghidupi keluarga dan mengharap ridha Allah Swt, serta mengharap pahala darinya. Jangan salah, menurut Quraish Shihab, bekerja juga bagian dari kewajiban karena itu berkaitan dengan hifz nafs, menjaga nyawa, apalagi jika kita bekerja untuk menjadi tumpuan keluarga. Jika kita tidak bekerja, ibadah kita dan keluarga tidak akan tenang karena kelaparan.

Rasul Saw bahkan menganjurkan agar kita makan dari hasil jerih payah kita. Rasul bersabda,

 عَنِ الْمِقْدَامِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ:مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ  كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.

Artinya, Dari Miqdam Ra., dari Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada makanan yang lebih baik dimakan oleh seseorang kecuali makanan yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud As., makan dari jerih payahnya sendiri.” (HR. al-Bukhari)

Mari kita niatkan untuk menjadikan pekerjaan kita wasilah beribadah kepada Allah Swt. dengan memperbaharui niat tersebut, insya Allah, akan dihitung sebagai ibadah dan dicatat sebagai bagian dari amalan untuk menghidupkan bulan Ramadan. Amin, ya Rabbal Alamin.

Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah

Sekian yang bisa kami sampaikan. Mohon maaf jika terdapat kekurangan.

Hadanallahu wa iyyakum ajmain.

Wallahul muwaffiq ila aqwamiththariq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

 

Referensi
Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-Adzim, (Riyadh: Dar Taybah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999 M)

al-Suyuthi, al-Ashbah wa al-Nadhair, (Beirut: Dar al-Kutub, 1983 M)

Al-Bukhari, al-Jami’ al-Sahih, (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1993)

An-Nasai, Sunan al-Kubra, (Beirut: Maktabah al-Risalah, t.t)

Muslim, Sahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya Turats, t.t)