Permusuhan Abadi Tiga Agama Samawi: Menafsirkan Ceramah KH. Yahya Cholil Staquf

Permusuhan Abadi Tiga Agama Samawi: Menafsirkan Ceramah KH. Yahya Cholil Staquf

Permusuhan Abadi Tiga Agama Samawi: Menafsirkan Ceramah KH. Yahya Cholil Staquf

Permusuhan ‘abadi’ tiga agama samawi (Islam, Yahudi, dan Nasrani) berangkat dari prasangka yang tak jelas lagi bagi kita kapan semuanya dimulai. Kita mewarisinya berabad-abad seakan permusuhan itu telah menjadi takdir bagi kita yang kita warisi dan wariskan secara turun-temurun.

Nabi saw membuat konstitusi yang disebut piagam Madinah, menaungi berbagai bangsa termasuk Yahudi dan Nasrani. Secara umum hubungan antar agama dan bangsa berjalan baik. Yahudi berdagang di pasar muslim demikian juga banyak muslimah yang berjual beli di pasar-pasar Yahudi. Sayidah Aisyah mengabadikan hubungan harmonis itu dalam riwayatnya,

عن عائشة رضي الله عنها: (أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ‏اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ)

“Nabi saw membeli makanan dari orang Yahudi dengan menjaminkan (gadai) baju perangnya dengan tempo”.

Suatu waktu Nabi saw belum membayar utangnya, kemudian Yahudi menagih Nabi saw dengan kasar. Waktu itu Nabi saw sedang duduk bersama para sahabat. Yahudi menagih:

أوفِ ما عليك من الدين يا محمد، فقام عمر بن الخطاب رضي الله عنه، وطلب من الرسول عليه الصّلاة والسّلام قتله، فقال الرّسول عليه الصلاة والسلام لعمر بن الخطاب: مُرْهُ بحسن الطلب ومرني بحسن الأداء، فردّ اليهودي: والذي بعثك بالحق يا محمد ما جئت لأطلب منك ديناً إنما جئت لأختبر أخلاقك، فأنا أعلم أنّ موعد الدين لم يحن بعد، فأشهد أن لا إله إلا الله وأنك محمد رسول الله. وحسُن إسلام ذلك اليهودي.

“Muhammad lunasi pinjamanmu”, kata si Yahudi. Umar bin Khatab menghunuskan pedang meminta ijin menyelesaikan urusan itu. Nabi berkata pada Umar, ” Umar perintahkan Yahudi menagih dengan baik dan ‘ingatkan’ Aku membayar dengan baik.” Yahudi menjawab, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq wahai Muhammad, aku datang padamu bukan untuk menagih melainkan untuk menguji akhlakmu. Aku tahu yang menghutang tidak perlu membayarnya”. Kemudian Yahudi itu bersyahadat dan menjadi muslim yang baik.

Dari hubungan sosial kemasyrakatan itu muncul simpatik yang mendorong banyak Yahudi menjadi muslim, termasuk Ubay bin Kaab, rahib Yahudi yang menjadi sahabat dekat Nabi saw.

Nabi saw memberi kebebasan Yahudi menerapkan kurikulum agama mereka dalam mendidik anak-anak di komunitasnya. Nabi juga memberi hak milik kepada Yahudi. Suatu ketika Ustman bin Affan meminta ijin kepada Nabi untuk memberi sumur Rumah milik Yahudi untuk kemaslahatan kaum muslimin. Ustman membeli 50% hak guna sumur itu. Akhirnya disepakati sumur itu digunakan umat Islam sehari dan hari berikutnya oleh Yahudi. Demikian seterusnya. Nabi berkuasa bisa saja umat islam mengambil paksa tapi Nabi saw menghormati hak milik Yahudi.

 

منح اليهود حق التملك أجاز الرسول عليه الصّلاة والسّلام لليهود بالتملّك، ولم يُصادر أملاكهم يوماً، ولم يجبرهم على التّنازل بها للمنفعة العامة؛ فعندما اشترى عثمان بن عفان رضي الله عنه بئر رومة من يهودي، وكان هذا البئر يخدم المدينة ومرافقها، كان من الممكن إجبار اليهودي بالتّنازل عن البئر لصالح المنفعة العامة، إلاّ أنّ الرسول عليه الصّلاة والسّلام حافظ على مُلكيّات اليهود، ولم يجبرهم على التنازل بها للمسلمين، وإنّما تمّت عملية البيع والشراء، وقد ورد أنّ عثمان بن عفان رضي الله عنه اشترى من اليهودي نصف البئر، ثمّ قال لليهودي: (اخترْ إمَّا أن تأخذَها يوماً وآخذَها يوماً، وإمَّا أن تنصب لك عليها دلواً، وأنصب عليها دلواً. فاختارَ يوماً ويوماً)

Nabi saw juga menegakan hukum yang sama antara kaum muslim dan Yahudi dengan adil.

Suatu ketika seorang muslim mencuri pakaian perang milik seorang muslim dan menyembuyikan baju itu di rumah Yahudi, kemudian si pemilik baju menuduh Yahudi yang mencuri. Kemudian Nabi saw berdasarkan bukti memutuskan Yahudi bersalah.

كان الرّسول عليه الصّلاة والسّلام يُعاملهم بعدل، ويرفع الظّلم عنهم، ويدفع الديّة لهم، ولو كان على حساب المسلمين. سرق رجل مسلم أنصاري درعاً من جارٍ له مسلم، وخبّأها عند رجل من اليهود، ثم اتّهم صاحب الدّرع اليهودي بسرقتها، وكاد الّرسول عليه الصّلاة والسّلام أن يصدّقهم بسبب الدلائل، ويعاقب اليهودي،

Kemudian Allah mengingatkan Nabi saw bahwa keputusannya tidak tepat.

  فأنزل الله تعالى هذه الآيات من سورة النساء: (إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا * وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا * وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا) إلى قوله تعالى: (وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا)،[]

Setelah ayat ini turun Nabi membebaskan Yahudi dan menghukum muslim yang mencuri.

ثم قام الرسول عليه الصّلاة والسّلام أمام الملأ، وأعلن براءة اليهودي، وأنّ السّارق مسلم

Jadi kata siapa Yahudi tidak akan rela kecuali umat Islam mengikuti agama mereka? Kata al-Quran surat al-Baqarah ayat 120?

ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم

“Tidak akan rela selamanya padamu orang Yahudi, tidak juga Nasrani sampai engkau mengikuti agama merek”.

Ayat ini dipahami oleh sebagian orang bahwa Yahudi tidak akan rela selamanya. Kata selamanya karena pada ayat tersebut Allah menggunakan kata negatif, nafiy dengan لن. Padahal yang berpendapat demikian hanya Muktazilah dan Syiah untuk membela keyakinan mereka bahwa diakhirat Allah tidak dapat dilihat. Dalilnta menggunakan kata

لن ترانى

“Kalian tidak akan melihatku.” Maksud ayat ini hanya di dunia tapi karena mereka meyakini di akhirat juga Allah tidak akan dapat dilihat maka mereka mengatakan لن dalam kata itu لتأبيد, bermakna abadi.

 

Menurut Ibn Malik dalam al-Kafiyah, kitab Nahwu sebelum beliau rangkum menjadi Alfiyah Ibn Malik mengatakan.

قال ابن مالك في الكافية الشافية :

و من رأى النفي بلن مؤبدا

فقوله اردد و سواه فاعددا

“Ulama yang berpendapat kata “لن” bermakna negasi abadi, pendapatnya tertolak. Karena pendapat yang kuat justru kebalikan dari itu.

Ayat 120 diatas dalam konteks Yahudi Madinah dan Nasrani Najran. Dan bermakna general karena banyak dari Yahudi Nasrani menjadi muslim yang baik. Silahkan cek tafsir muqatil, Bagawi, Khazin, Tabari, Al-Razi dll.

Jadi siapa yang memulai dan menganggap permusuhan dan saling curiga antara tiga agama samawi itu adalah takdir yang dilegitimasi kitab suci?

Ini baru satu mengurai penggalan ceramah Kiai Yahya Cholil Staquf dimana beliau mengatakan:

“Saya tidak tahu, apakah masih ada diantara kita yang menyaksikan sendiri, bagaimana semua ini dimulai. Yang jelas, kita semua adalah anak-anak dari sejarah yang penuh masalah (troubles). Sejarah yang diwarnai curiga, kebencian, rasa sakit dan amarah. Sejarah yang bergulir diluar kendali kita. Rangkaian sebab-akibat dari tindakan-tindakan diluar keputusan kita. Sejarah yang mewariskan kepada kita permusuhan dan ikatan saling menyakiti seolah perjanjian takdir.”

Kalau untuk memahami keseluruhan ceramah beliau, Anda harus banyak baca.

 

Permusuhan dan kebencian bukan takdir melainkan rekayasa yang entah siapa pertama kali memulainya. Tapi kita bisa mengubahnya.