Nabi yang Pemarah Cuma Ada di Kepala Mereka

Nabi yang Pemarah Cuma Ada di Kepala Mereka

Bagaimana bisa sosok Nabi ditafsirkan sedemikian rupa, bahkan ditafsirkan pemarah.

Nabi yang Pemarah Cuma Ada di Kepala Mereka

Nabi yang pemarah cuma ada di kepala mereka. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib yang bermuka sangar hanyalah gambar yang lalu lalang di dalam pikiran mereka sendiri. Tapi, siapa sebenarnya yang berperan membangun gambar itu di otak mereka? Bukankah kita? Kita sendiri, ya, kita. Sadar tak sadar, kita diam-diam telah, sedang, dan masih saja berniat melukis Rasulullah dengan sketsa raut wajah garang.

Kita tahu, dan percaya seutuhnya, Rasulullah tak pernah dikenal sebagai lelaki yang pemarah. Banyak yang mencoba mengejek, menyakiti dan melukai, tapi Rasulullah tidak menanggapi dengan api amarah. Rasulullah kadang malah membalas dengan kasih berlebih. Begitu pun ketika si Badui kurang ajar itu mengasarinya. Rasulullah tengah berjalan bersama Anas bin Malik, ketika tiba-tiba Arab Badui itu menarik selendang Najran di kalungan lehernya.

Begitu kerasnya tarikan si Badui, Nabi pun tercekik. Anas, seperti tercatat dalam Shahih al-Bukhari, sempat melihat bekas guratan di leher Nabi. “Hai Muhammad, beri aku sebagian harta yang kau miliki!” teriak si Badui, masih dengan posisi selendang mencekik Rasul. Apakah Nabi marah dengan sikap si Badui yang mirip preman Tanah Abang ini: berbuat kasar untuk minta ‘jatah’? Hati Nabi terlalu sejuk untuk sekadar diampiri letikan rasa gusar. Tidak, Nabi justru tersenyum, dan bilang ke Anas, “Berikanlah sesuatu.”

Itu masih belum seberapa. Nabi bahkan pernah ‘dihadiahi’ kotoran hewan, pada punggung, di saat Nabi sedang sujud dalam shalat. Abdullah bin Mas’ud jadi saksi, yang kemudian direkam pula dalam Shahih al-Bukhari. Ibnu Mas’ud melihat Nabi tengah bersembahyang di dekat Ka’bah, dan pada saat yang sama Abu Jahl dan gerombolannya duduk-duduk tak jauh dari situ.

“Siapa mau membawa kotoran-kotoran kambing, yang disembelih kemarin, untuk ditaruh di atas punggung Muhammad, begitu dia sujud?” Abu Jahl berseru pada punakawannya. Satu dari mereka, yang tak lain adalah Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, serta Uqbah bin Abi Mu’ith, itu bergerak mengambil kotoran. Mereka tunggu hingga Nabi sampai pada sujud.

Dan benar, sampai ketika Nabi sujud, ditaruhlah kotoran itu di antara dua bahu Nabi. Abu Jahl, punggawa Quraisy yang selalu berupaya menghancurkan Nabi itu, dan gerombolannya menyaksikan dengan tawa keras. Nabi tetap dalam sujud hingga Fatimah az-Zahra membersihkan sembari meneteskan air mata. Tapi Nabi bukan sosok pemarah, bukan pendendam. Nabi tidak memerintahkan Sahabat-Sahabat untuk membalas balik perlakuan Abu Jahl Cs. Nabi hanya berdoa, “Allahumma alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy.” Ya Allah, binasakan mereka, bangsa Quraisy yang pongah itu.

Terlalu mulialah Nabi untuk sekadar dihinggapi kesumat. Bukankah al-Quran sendiri menyebut Nabi sesosok yang ra’uf dan rahim, sosok pembelas kasih dan penyayang? Nabi pun seolah tak mampu untuk sekadar membekap rasa sayangnya pada tetangga yang rutin menghina dan melecehkannya itu, seorang perempuan tua. Setiapkali lewat di samping rumah perempuan tua itu, Nabi mendapat ‘sambutan’: kadang sampah busuk, kadang pecahan beling. Begitu selalu, berhari-hari.

Suatu ketika ‘sambutan’ itu absen. Nabi bertanya-tanya, kenapa perempuan yang biasa memberinya ‘sambutan rutin’ itu berhenti. Dari tetangga si perempuan tua itu, Nabi mendapat kabar bahwa perempuan itu sedang sakit. Nabi masuk ke rumah perempuan tua itu. Untuk membalas? Atau sekadar melontarkan kata pedas untuk bikin jera? Ah, tanya-duga macam ini hanya lahir dari kepala berimajinasi murah. Tidak, Nabi justru memperlakukan perempuan itu seperti sahabat, melayani, dan bahkan memasakkan air untuknya.

Nabi yang seram hanya ada di kepala mereka. Dan siapakah yang menanamkan ingatan seram di sinyal memori mereka? Bukan Nabi, tapi kitalah yang menggambar sosok menakutkan itu di kanvas ‘dunia dalam’ mereka. Yang meruntuhkan menara kembar di pagi yang sibuk itu bernama depan Muhammad pula, juga Ahmad—nama-nama Nabi Saw. Mengambil alih setir pesawat, dengan kalimat takbir pula—kalimat ajaran Nabi. Pun, mereka yang memasang badan dengan bubuk maut itu, menyulut sumbu sembari memekikkan kalimat tauhid—kalimat wejangan Rasul.

Masih juga, kita terus memahat gambar seram. Yang telah terduduk di meja hijau, atas ratusan tubuh lumat akibat bubuk maut olahannya, tetap keukeuh tidak bertindak salah. Dia merasa telah berlaku lurus, searah dengan semangat jihad—semangat yang diajarkan Nabi. Ia bahkan menyebut rentetan ayat-ayat al-Quran—ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi. Untuk menunjuk diri telah berlaku lurus, dia bahkan juga mengujarkan sederet laku-tutur Nabi sendiri.

Tanpa sadar, atau justru sengaja, kita menguatkan garis-garis skesta itu, secara ajeg: sebulan, seminggu, sehari, setiap waktu. Di depan mikropon, kita gemakan kata-kata ‘hancurkan’, ‘laknat’, ‘halal darahnya’, di sela-sela kita menyebut nama agung Rasulullah. Di atas mimbar, kita teriakkan ‘medan jihad’, ‘pedang’, ‘bedil’, sembari dengan nada kuat kita panggil nama Nabi. Begitu pun pekikan-pekikan yang kita tempel di dinding-dinding, di kain-kain pertigaan jalan, juga di media terhebat zaman ini: Internet. Kita memahatkan sosok seram Nabi di kepala mereka setiap detik. Ya, setiap detik.

Dan, ketika gambar-gambar yang semula hanya ada di kepala itu benar-benar lahir di atas kertas, kita malah tidak berupaya menghapus. Kita justru mengukuhkan warna-warna yang masih samar, garis-garis yang putus, latar belakang yang kabur. Kita teriakkan lagi lebih kencang nama Nabi, sembari meletikkan geretan di depan mata mereka. Kita semburkan asap hitam-tebal, bersama dengan mengeja nama Rasul, di hadapan rumah mereka. Kita remukkan perkakas mereka, juga dengan masih mewiridkan panggilan kepada Nabi. Warna yang samar di gambar itu telah kita buat sempurna, sempurna dalam seram.

Gambar Nabi yang welas asih benar-benar telah kita lumatkan, hingga mereka tak sempat sekadar membayangkan apa yang disebut ‘welas asih’ itu sendiri. Kita telah, dan masih, memoles lukisan garang itu. Seperti asap hitam-tebal itu sendiri, kita diam-diam telah melenyapkan wajah agung Sang Nabi.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Syir’ah