Membincang Kajian Kedokteran Islam

Membincang Kajian Kedokteran Islam

Jika penyebutan “kedokteran Islam” adalah sebab petunjuk tekstual Al Quran dan hadis, maka hal itu bersifat doktrin dan teologis, bukan sesuatu yang ilmiah.

Membincang Kajian Kedokteran Islam

Ilmu kedokteran adalah satu bidang ilmu yang eksis sepanjang zaman. Pengobatan dikenal sepanjang peradaban manusia. Tiap kultur masyarakat memiliki metode pengobatan masing-masing yang diajarkan turun temurun. Sebagai bagian dari peradaban, ilmu kedokteran juga dikenal dalam masyarakat muslim.

Memahami kedokteran dalam sejarah Islam memerlukan sudut pandang tertentu. Sudut pandang ini bisa mencakup sejarah, budaya (dalam hal ini adalah kultur masyarakat Islam awal di Arab), metode saintifik yang digunakan, sampai sudut pandang geopolitik. Karena itu mendefinisikan “kedokteran Islam” tidaklah mudah.

Apakah kedokteran dalam Islam itu ajaran yang terkandung dalam Al Quran dan hadis secara tekstual? Anda tahu, Al Quran dan hadis tidak mengajarkan perihal cara pengobatan tertentu secara spesifik. Beberapa keterangan Nabi tentang makanan seperti faedah jinten hitam, madu dan kurma, lalu menjauhi arak, serta penyakit-penyakit sederhana seperti sengatan serangga, sakit perut, atau demam, kemudian cara menjauhi wabah dan kusta, tidak disebutkan mendetail. Belum lagi penyakit-penyakit lain yang belum tercatat.

Mengacu keterangan di atas, jika penyebutan “kedokteran Islam” adalah sebab petunjuk tekstual Al Quran dan hadis, maka hal itu bersifat doktrin dan teologis, bukan sesuatu yang ilmiah. Menarik kita simak pernyataan Ibnu Khaldun dalam karyanya yang kesohor, Muqaddimah, tentang bagaimana baiknya seseorang memahami kedokteran dalam Islam:

“…masyarakat Arab memiliki budaya beragam dalam pengobatan, yang digunakan berdasarkan pengalaman mereka kepada beberapa orang saja. Ajaran ini disampaikan secara turun temurun. Dalam beberapa kasus, ia bisa cocok. Namun ia bukanlah berdasarkan kajian ilmiah, serta belum diuji kembali kepada banyak orang…”

Lebih lanjut, Ibnu Khaldun menyebutkan bahwa orang Arab telah melakukan pengobatan sebelum datangnya Islam. Di kalangan sahabat dikenal dokter bernama al-Harits bin Kaladah. Karena Islam awal berkembang di Arab, maka cara pengobatan masyarakat banyak tercatat dalam sumber ajaran Islam, dan lebih populer dari kerja para dokter yang menggunakan metode ilmiah.

Tentu tidak ada bagian dari ajaran Nabi kecuali telah banyak dilakukan oleh orang-orang Arab, kata Ibnu Khaldun. Model pengobatan ini ada dalam kisah Nabi, dan bisa menjadi cara memahami keadaan sosiologis dan budaya orang Arab. Namun ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi Modern ini menyimpulkan, bahwa pengobatan dalam Islam tidak harus dipraktikkan dengan cara persis seperti itu.

Jika tolok ukur kedokteran dalam Islam adalah kejayaan yang dicapai di masa Abbasiyah, justru keilmuan para dokter di masa itu adalah hasil penelusuran filosofis dan kajian dari berbagai budaya pengobatan di dunia, bukan berasal dari Al Quran dan hadis. Bahkan tokoh dokter di masa Abbasiyah juga tidak terbatas pada muslim, melainkan tercatat non-muslim juga turut mengembangkan ilmu kedokteran, seperti sosok dokter dari kalangan Kristen, Jirjis Bakhtisyu dan putranya, Jibrail.

Tokoh-tokoh kedokteran dalam sejarah Islam banyak dikenal, seperti Ibnu Sina, Abu Bakar Ar Razi, Hunain bin Ishaq, Ibnu Masawaih, Ibnu Nafis, dan lainnya. Beberapa di antaranya menjadi rujukan luas di masa pencerahan Eropa. Karya-karya para pakar kedokteran ini memberikan keterangan yang mendasar mengenai diagnosis penyakit, pembuatan dan penggunaan obat, serta keterangan tentang makanan dan minuman untuk menjaga kesehatan. Sumbernya tentu bukan dalam kerangka doktrin dan teologis atas kitab suci.

Kejayaan ilmu pengobatan dalam peradaban Islam terjadi pada masa kepemimpinan Harun Ar Rasyid. Ia memulai gerakan penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani, Syria, China dan banyak lainnya melalui institusi Baitul Hikmah. Sekolah dan rumah sakit daerah Jundishapur yang sebelumnya dikuasai Persia, selanjutnya dikuasai oleh pemerintahan Abbasiyah. Karya-karya kedokteran di sana ditelaah dan diterjemahkan ke bahasa Arab, lalu dipergunakan sebagai basis kajian kedokteran masa itu.

Sebagai contoh, dalam bidang anatomi, mereka mempelajari karya Galen dan Hippokrates. Pengetahuan anatomi para dokter muslim ini dikembangkan dari kerja ilmiah sebelumnya. Masalah keagamaan tentang penggunaan mayat menjadi salah satu problem. Namun dari kajian mendalam tersebut para dokter mampu memperkaya konsep tentang fisiologi tubuh, seperti misalnya konsep sirkulasi pulmoner Ibnu Nafis dan konsep penglihatan manusia oleh Hunain bin Ishaq.

Sejarah kedokteran dalam Islam berakhir seiring runtuhnya dinasti Abbasiyah, dan karya-karya ilmiah termasuk bidang kedokteran dikaji bangsa Eropa yang memasuki masa pencerahan. Disertai dengan penggunaan rasionalitas yang ketat, kajian-kajian Islam menjadi salah satu pondasi keilmuan kedokteran modern.

Seiring sejarah, peradaban Eropa menjadi dominasi dan patron dalam kajian kedokteran modern. Lebih lanjut, akibat penurunan eksistensi kalangan Islam, dan semakin superiornya kajian kaum Barat, maka mulai banyak diserukan istilah ilmu-ilmu yang “syar’i” atau “islami”, tak terkecuali kedokteran, serta wacana-wacana titik temu integrasi ilmu dan agama.