Keutamaan Berbagi Makanan

Keutamaan Berbagi Makanan

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat,

“Wahai Nabi, apa saja amal dalam Islam yang merupakan kebajikan?”

Nabi menjawab, “Kamu memberi makan, serta kamu menyampaikan salam kepada orang baik yang kamu kenal maupun yang tak kamu kenal,”.

Read More

Begitu juga ketika Abu Hurairah ra. sedang bersama Nabi Muhammad, ia menanyakan amalan apa sajakah yang dapat menyebabkan seseorang dapat masuk surga. “Berilah makan kepada yang butuh, sampaikan salam, sambunglah persaudaraan, sembahyanglah pada malam hari ketika orang-orang masih tertidur. Maka kamu akan masuk surga dengan damai,”.

Pada bulan Ramadhan ini, gairah orang-orang untuk berbuat kebaikan semakin bertambah. Janji-janji Allah terkait balasan amal di bulan Ramadhan turut meningkatkan semangat berbuat kebajikan umat Islam. Puasa, tadarusan, shalat Tarawih, bersedekah, adalah amalan-amalan yang semakin semarak di bulan Ramadhan.

Tentu bulan puasa ini tak bisa hanya sekedar untuk meningkatkan ibadah secara individu. Persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan perlu diperhatikan juga, agar puasa dan ibadah Ramadhan kita bisa berdampak bagi sesama. Dari dua hadis di atas, kita melihat sudut pandang Rasulullah bahwa hal yang penting dalam ajaran Islam adalah ibadah yang bisa memengaruhi kepribadian untuk bisa memahami keadaan sekitar. Hal yang mulia itu adalah: memberi makan bagi yang butuh dan menyapa lagi menebar salam dan damai untuk sesama.

Dalam kitab Khashaishul Ummah al Muhammadiyah (Keistimewaan Umat Nabi Muhammad) karangan Syekh Muhammad bin Alawi Al Maliki, disebutkan bab khusus tentang memberi makan adalah salah satu amalan terbaik dalam Islam.

Dalam bab yang diberi judul Ith’amut Tha’am Khairu khisholil Islam tersebut ulama asal Makkah itu menyebutkan banyak hadis yang menyatakan pentingnya seorang muslim untuk memberdayakan muslim lainnya, setidaknya dengan memberi makan orang lain. Begitupun keutamaannya dari sisi pahala juga sisi kemanusiaan.

Lebih lanjut Syekh Muhammad Al Maliki menyebutkan bahwa kebaikan memberi makan atau minum kepada yang membutuhkan ini tidak terbatas bagi sesama manusia saja. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam ath Thabrani dan Ibnu Khuzaimah juga disebutkan bahwa suatu ketika Nabi didatangi seorang badui. Beliau ditanya terkait amalan yang bisa mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, lantas Nabi menyampaikan perihal memberi salam dan berkata baik.

Rupanya, memberi makan dan berkata baik adalah hal yang berat bagi sang badui. Akhirnya Nabi bertanya, “Kamu punya unta?”. Sang badui mengangguk, dan Nabi memerintahkannya untuk memberi makan dan minum serta merawat untanya secara rutin. Hingga, dalam riwayat tersebut, sang badui akhirnya gugur dalam keadaan syahid.

Dari sekian keterangan di atas, hal yang perlu kita garis bawahi bahwa ibadah yang utama dalam Islam adalah usaha-usaha pemberdayaan dan bersikap ramah pada sesama. Amalan-amalan individual, tentu tidak memiliki dampak sosial lebih lanjut sebagaimana seseorang yang diberikan santunan, walau hanya sekedar memberi makanan sesedikit apapun demi menolong sesama.

Niat memberi makan ini bukanlah sekedar hal formal, namun juga harus didasari dengan kesadaran bahwa sesama manusia harus saling menguatkan dalam banyak hal. Siapa tahu, setelah diberi makan atau minum, seseorang bisa melanjutkan aktivitas yang baik? Dan sang pemberi makan atau minum itu akan terdampak kebaikan juga.

Karena itulah, keutamaan sikap seorang muslim adalah ketika ia memiliki kepekaan dalam melakukan perbuatan baik bagi orang lain.

Kesempurnaan Islam adalah ketika perbuatan baik itu saling terjalin. Bukan dengan menggalakkan hal-hal yang sesaat seperti gagasan meniadakan yang tak sepaham, sekedar menerapkan syariat secara legal dan hitam putih dalam kehidupan, atau saling mencaci karena merasa paling mengerti dan memahami Islam. Justru, Islam yang terbaik adalah yang dibangun atas nilai-nilai kebaikan dan keberpihakan pada yang tak berdaya.

Terakhir, seorang ulama bernama Abdullah bin Mubarok menyebutkan bahwa ia ditanya oleh seseorang yang telah mengalami sakit selama tujuh tahun, namun tak kunjung sembuh meski telah diobati kemanapun.

Pesan Abdullah bin Mubarok, “Pergilah ke tempat di mana orang membutuhkan air. Usahakanlah adanya sumur di sana, supaya orang merasakan manfaatnya. Dari air sumur tersebut, berobatlah dengan air itu.” Lantas? Ternyata pria itu bisa sembuh, dengan berkah memberdayakan umat yang membutuhkan.

Semoga puasa kita menambah kesadaran diri bahwa yang terpenting dalam Islam adalah kesejahteraan bersama dan kebahagiaan dan kecukupan yang saling dibagi, sesedikit apapun. Wallahu a’lam.