Kaya dan Dermawan, Sahabat Rasul Ini Berjualan Keju di Tanah Seorang Yahudi

Kaya dan Dermawan, Sahabat Rasul Ini Berjualan Keju di Tanah Seorang Yahudi

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Rasul yang paling kaya dan dermawan. Setelah hijrah ke Madinah, ia berjualan keju di tanah seorang Yahudi.

Kaya dan Dermawan, Sahabat Rasul Ini Berjualan Keju di Tanah Seorang Yahudi

Abdurrahman bin Auf termasuk di antara delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ketika Allah mengizinkan Rasulullah SAW dan para sahabat hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi  salah satu pelopor kaum Muslim. Di Madinah dia dipersaudarakan oleh Rasulullah Saw. dengan kaum Anshar, Sa’ad ibn al-Rabi al-Anshari.

Ketika hijrah ke Madinah, dia meninggalkan seluruh kekayaan yang dimilikinya sehingga sesampainya di Madinah dia tidak memiliki apa-apa, bahkan dia tidak mempunyai istri. Sa’ad yang termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah, dia ingin membantu saudaranya sepenuh hati, tetapi Abdurrahman menolak tawarannya dengan halus. Ia hanya berkata, “Tunjukkan kepadaku letak pasar kota ini!”

Sebagaimana ditulis dalam buku Jejak Bisnis Sahabat Rasul:Sejarah Kesuksesan yang Terlupakan, Abdurrahman bin Auf memulai bisnisnya dengan menjual keju dan mentega di tanah milik seorang Yahudi. Awalnya, dia meminta tolong kepada saudara barunya, Sa’ad bin al-Rabi untuk membeli tanah yang kurang berharga yang terletak di samping tanah pasar itu.

Tanah itu dijadikan beberapa kios. Siapapun boleh memakai kios tersebut tanpa harus membayar uang sewa. Dengan semangat kerja yang tinggi, ulet, kerja keras, akhirnya dia pun meraih kesuksesan besar dan menjadi pengusaha keju dan mentega yang kaya raya.

Suatu hari, ketika Rasulullah SAW hendak menyiapkan tentara untuk berperang, beliau berdiri di depan mereka dan berorasi, “Bersedekahlah kalian karena sesungguhnya aku akan mengirim pasukan ke medan perang.”

Mendengar itu Abdurrahman segera pulang, kemudian dia kembali dan menyerahkan kepada Rasulullah dengan membawa separuh dari kekayaannya, yakni 2.000 dinar. Pada saat itu, ia baru memiliki uang 4.000 dinar.

Atas kedermawaannya inilah, dia didoakan secara khusus oleh Rasulullah, “Semoga Allah memberikan keberkahan atas harta yang telah engkau sumbangkan dan harta yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu.”

Doa ini benar-benar terbukti dengan kesuksesan demi kesuksesan yang diraihnya. Setelah itu, dia bersedekah lagi 40.000 dinar (Rp. 94.350.000.000), menyumbang 500 ekor kuda, dan membekali 500 unta untuk kepentingan perang.

Tidak hanya itu, Abdurrahman juga pernah menyumbang 50.000 dinar untuk kepentingan para pejuang Islam, dan tiap-tiap orang mendapat 1.000 dinar, memberi tunjangan kepada veteran Perang Badar yang berjumlah 100 orang masing-masing 400 dinar (100×943,5 juta= Rp. 94,35 miliar). Jika dijumlahkan, keseluruhan harta yang disumbangkan oleh Abdurrahman bin Auf––selain kuda, unta, dan memerdekakan budak––adalah Rp. 466.089.000.000.

Abdurrahman wafat pada usia 75 tahun, jenazahnya dimakamkan di Baqi, Madinah. Meskipun banyak sekali harta yang telah disumbangkan, ketika wafat Abdurrahman bin Auf masih meninggalkan harta warisan yang sangat banyak.

Wallahu A’lam.