Ajaran Sufisme dalam Kitab Serat Wirid Hidayat Jati

Ajaran Sufisme dalam Kitab Serat Wirid Hidayat Jati

Ajaran Sufisme dalam Kitab Serat Wirid Hidayat Jati

Kitab Wirid Hidayat Jati merupakan salah satu karya dalam khazanah kepustakaan Islam kejawen. Kitab ini adakalanya disebut secara singkat dengan nama Serat Wirid atau juga Hidayat Jati. Keistimewaan dari wirid hidayat jati adalah merupakah hasil karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873).

Raden Ngabehi Ranggawarsita  adalah seorang sastrawan istana Mataram Surakarta yang sangat masyhur, bahkan kemudian oleh para pecinta kepustakaan Jawa, serta para pengagumnya, digelari sebagai pujangga Penutup. Dengan gelar kehormatan sebagai Pujangga Penutup, berarti Ranggawarsita memiliki kedudukan yang amat tinggi. Kalau Nabi Muhammad mendapat gelar kehormatan sebagai khatam al-anbiya’, atau sebagai Nabi penutup, maka Ranggawarsita-lah yang digelari sebagai Pujangga Penutup.

Keistimewaan lainnya, menurut Simuh (1988), karena wirid hidayat jati ini disusun dalam bentuk jarwa atau prosa. Isi kandungannya diproyeksikan untuk menjadi kitab mistik yang cukup lengkap dan padat.

Serat wirid yang diterbitkan oleh Administrasi Jawi Kandha ini, isinya meliputi: Upacara dan perlengkapan sajian yang harus diselenggarakan oleh seorang guru yang akan mengajarkan ilmu sufi, uraian bab guru dan murid, ajaran tentang Tuhan dan hubungan antara Dzat, sifat, asma dan af’al Tuhan, uraian tentang cita kesatuan antara manusia dengan Tuhan, jalan untuk mencapai penghayataan mistik dan kesatuan dengan Tuhan, tingkat-tingkat penghayatan mistik beserta godaan-godaan yang terdapat dalam tingkat-tingkat tersebut, uraian tentang pencitaan manusia dan hakikat manusia, dan yang terakhir berupa aspek budi luhur (akhlak) beserta ajaran yang berkaitan dengan kesufian.

Bila melihat struktur isi yang terdapat dalam serat wirid hidayat jati sebagaimana tertulis di atas, maka menjadi jelas bahwa karya ini mencoba mengkaji persoalan sufisme Jawa secara lengkap dan memadai. Ranggawarsita boleh dibilang telah berhasil dalam melakukan sinkretisme antara ajaran kebatinan Jawa dengan sufisme Islam, sehingga melahirkan corak sufisme Jawa yang otentik, di mana ajaran manunggaling kawula Gusti sangat khas dalam konsep sufisme Jawa yang dihadirkan dalam karya tersebut.

Meski ajaran kesatuan wujud (manunggaling kaliwa Gusti) sangat khas, namun kitab wirid hidayat jati bukan merupakan ajaran murni yang berbasis pada konsep kesatuan manusia dan Tuhan. Konsep sufisme yang tercermin dalam kitab wirid hidayat jati memiliki dua inti sekaligus, yakni ajaran sufi yang menekankan pada aspek teosentris (ketuhanan) juga aspek antroposentris (kemanusiaan).

Sebabnya, dalam kitab wirid ini kolaborasi antara pembahasan Tuhan dan manusia tampak seimbang dan komprehensif. Sehingga tidak benar bila kitab wirid ini hanya berkaitan dengan cara mengenal Tuhan, tetapi juga sekaligus tentang cara mengenali hakikat manusia.

Namun demikian, bahwa gambaran tentang Tuhan dalam wirid hidayat jati sangatlah bersifat antropomorfis. Artinya, Tuhan digambarkan berada pada hidup manusia, bahwa antara Tuhan dan manusia tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hidup manusia menurut wirid hidayat jati merupakan sifat Tuhan. Sifat pastinya tidak terpisahkan dengan Zat. Oleh karena itu, Simuh menandaskan bahwa keterangan tentang Tuhan selalu timpang tindih dengan keterangan manusia. Uraian tentang Tuhan selalu dikaitkan dengan uraian tentang manusia sekaligus merupakan keterangan tentang Tuhan.

Persoalan sufisme dalam wirid hidayat jati sebenarnya sama dengan ajaran sufisme ataupun mistik pada umumnya. Esensi sufisme pada umumnya adalah teosentrisme. Artinya, pusat kegiatan bukan mengabdi kepada Tuhan, akan tetapi justru mencari dan merindukan untuk bertemu muka dan pendapat petunjuk langsung dengan perantara bertatap muka dengan Dia (Tuhan) atau dalam wirid hidayat jati bahkan bersatu dan menjadi berkuasa, seperti Tuhan sendiri. Dalam tasawuf, hubungan langsung ini memunculkan konsep makrifat, sementara dalam sufisme Jawa memunculkan konsep wangsit, petunjuk, dan manunggaling kawula Gusti.

Yang jelas, ada perbedaan mendasar antara konsep sufisme dalam wirid hidayat jati dengan sufisme Islam. Sufisme Islam menuntut bentuk pemimpin rasional (ulama) sedangkan sufisme dalam wirid hidayat jati umumnya melahirkan bentuk kepemimpinan yang irasional. Misalnya pemitosan wali-wali keramat, orang-orang suci, raja-raja, beserta kuburan-kuburannya. Logika Islam adalah logika penalaran yang cerah, sedangkan logika sufisme Jawa adalah logika paradoksal dengan rumusan simbol-simbol. Jadi, konsep sufisme dalam wirid hidayat jati adalah ilmu serba gaib dan banyak mitosnya.