Semua Ciptaan Allah Itu Bermanfaat, Kita Saja yang Belum Mengetahui

Semua Ciptaan Allah Itu Bermanfaat, Kita Saja yang Belum Mengetahui

Semua Ciptaan Allah Itu Bermanfaat, Kita Saja yang Belum Mengetahui

Seorang pemuda, suatu hari, melihat seekor kumbang. Ia menganggap bahwa kumbang adalah makhluk ciptaan Allah yang sia-sia dan tak ada gunanya. Ia mengatakan, “kumbang ini hewan yang cacat. Bentuknya tak bagus. Baunya tak sedap”.

Beberapa saat kemudian, si pemuda itu mendapat cobaan dari Allah SWT. Ia menderita penyakit borok pada kulitnya. Hal demikian membuatnya mencoba berobat ke para dokter. Namun semuanya tak membuahkan hasil sama sekali. Borok yang ia derita tak juga sembuh.

Pada suatu kesempatan, ia mendengar ada suara seorang tabib memanggilnya ketika ia melewati suatu gang. Ia lantas memerintahkan anggota keluarganya untuk mengundang dan menghadirkan tabib tersebut ke rumahnya. Keluargnya menolak dengan alasan bahwa dokter yang hebat dan pintar saja tak bisa menyemebuhkan, apalagi hanya sekadar tabib.

“Apa yang bisa dilakukan oleh tabib ini? Dokter-dokter yang cerdas saja angkat tangan…,” kata anggota keluarganya.

Ia tetap bersikukuh agar anggota keluarganya mengundang tabib itu. Sang tabib pun didatangkan ke rumahnya. Ketika melihat penyakit yang diderita si pemuda, sang tabib menyuruh keluarganya untuk mencarikan seekor kumbang. Mendengar hal ini, para keluargnya tertawa (mungkin beranggapan, mana mungkin penyakit ini bisa sembuh hanya dengan kumbang, pen).

Bagi si pemuda itu, ucapan sang tabib ini justru membuatnya teringat bahwa beberapa saat yang lalu ia sempat meremehkan dan menganggap sia-sia seekor kumbang. Ia kemudian memerintahkan keluarganya untuk mencarikan kumbang sebagaimana perintah sang tabib, dengan keyakinan bahwa sang tabib memiliki mata hati yang tajam terhadap masalah yang sedang dihadapinya itu.

Kumbang pun berhasil didapatkan. Oleh sang tabib, kumbang tersebut dibakar dan abunya ditaburkan ke borok si pemuda. Dengan izin Allah, borok itu sembuh seketika. Alhamdulillah.

Si pemuda kemudian berkata kepada anggota keluargannya, “ketahuilah, Allah sedang menunjukkan kepadaku bahwa makhluknya yang (aku anggap) hina ternyata memiliki obat yang sangat mujarab. Dia maha Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Kisah di atas penulis baca dari kitab al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin bin Salamah al-Qulyubi. Lewat kisah ini kita mengetahui bahwa apapun yang diciptakan Allah—bahkan yang kita anggap remeh dan sepele—memiliki manfaat. Hanya saja, manusia saja yang tidak atau belum bisa mengurai dan memahaminya.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka” (QS. Shad [38]: 27)

Contoh kongkritnya yang saat ini dihadapi umat manusia adalah babi. Babi adalah hewan yang diharamkan dalam agama Islam. Namun siapa sangka, dalam tubuh hewan ini, terdapat gelatin yang bermanfaat bagi manusia. FYI, gelatin adalah zat rapuh yang diekstraksi dengan merebus tulang, tulang, kuku, dan jaringan hewan.

Ulama berbeda pendapat tentang bagaimana menggunakan gelatin babi: ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Terlepas dari perdebatan hukumnya dan mengapa tidak menggunakan gelatin dari hewan lain (bukan di sini hal ini dibahas secara detail), harus diakui bahwa gelatin babi bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak.

Walhasil, segala ciptaan Allah SWT. pasti memiliki tujuan dan manfaat. Tugas manusia adalah mencari dan menelusurinya. Jika tujuan dan manfaat itu berhasil diungkap, maka patut disyukuri dan hendaknya digunakan sebagaimana mestinya. Namun jika belum, maka itu sebagai peringatan betapa dhaif-nya manusia. Wallahu a’lam.