Ummu Sulaim, Teladan Perempuan dalam Memilih Suami

Ilustrasi perempuan sujud Foto: Freepik

Ummu Sulaim, Teladan Perempuan dalam Memilih Suami

Dalam hal memilih suami, Ummu Sulaim tidak menuntut adanya mas kawin yang begitu banyak dan mewah.

Ummu Sulaim adalah satu perempuan yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW. Hadis yang diriwayatkan olehnya sekitar 14 hadis, beliau juga termasuk perempuan-perempuan mulia yang ada di sekeliling Rasulullah SAW dan mempunyai keutamaan besar sebagai seorang shahabiyah sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sahih Bukhori. memilih suami

Ummu Sulaim adalah perempuan dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Khazraj, bernasab sampai kepada keturunan Adiy bin Najjar yang merupakan seorang tukang kayu. Oleh karena itu, Ummu Sulaim pandai membuat cindera mata, karena nenek moyangnya juga ahli dalam hal tersebut.

Nama lengkapnya adalah Ruimasha’ Hiram bin Jundab bin Amir bin Ghanam bin A’fi bin an-Najjar al-Anshariyah al-Khazrajiyyah.

Read More

Pada zaman jahiliyah, Ummu Sulaim menikah dengan Malik bin Nadhar dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Anas. Ummu Sulaim juga tergolong orang-orang pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar, hingga suaminya marah karena melihat istrinya tersebut memeluk Islam.

Malik bin Nadhar yang mengetahui istrinya tersebut masuk Islam marah dan berkata kepadanya, ‘’Ya Ummu Sulaim, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu?’’ Mendengar pertanyaan tersebut, Ummu Sulaim lalu menjawab, ‘’Tidak, cuma aku percaya kepada laki-laki pembawa risalah (Muhammad SAW)‘’.

Ummu Sulaim kemudian mengajari anaknya kalimat syahadat, sambil berkata, ‘’Ya Anas, ucapkanlah “Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah”.  Mendengar hal tersebut, Malik bin Nadhar marah besar dan berkata, “Jangan kau rusak anakku.”

“Aku tidak merusaknya,” jawab Ummu Sulaim.

Pada suatu ketika Malik bin Nadhar pergi ke Syam. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan musuhnya. Malik bin Nadhar pun terbunuh. Ketika kabar meninggalnya Malik bin Nadhar sampai kepada Ummu Sulaim, ia berkata, “Aku tidak akan menyapih anakku Anas bin Malik hingga ia berhenti menetek sendiri.”

Beliau juga pernah berkata, “Aku tidak akan menikah lagi hingga Anas dewasa dan ikut dalam majlis-majlis pengajian.” Mendengar kata-kata ibunya tersebut, anas kemudian berucap, “Semoga Allah SWT membalas kebaikan ibu, yang telah merawatku dengan baik”.

Setelah itu, Ummu Sulaim dilamar oleh Abu Thalhah yang pada saat itu belum masuk Islam. Ummu Sulaim menolak lamaran Abu Thalhah, sambil berkata, “Ya Abu Thalhah, apakah engkau tidak tahu bahwa yang engkau sembah adalah batu yang tidak dapat memberi manfaat dan madharat kepadamu? Atau berupa kayu yang dibuat tukang kayu, dipahat dan dibentuknya, apakah ia dapat memberi manfaat dan madharat kepadamu? Apakah engkau tidak malu menyembah semua itu? Jika engkau bersedia masuk Islam, maka aku bersedia untuk menikah denganmu dan tidak mengharap mas kawin selain keislamanmu itu.”

Mendengar kata-kata Ummu Sulaim, Abu Thalhah terketuk hatinya dan tertarik pada Islam. Dia kemudian mengucapkan kalimat syahadat dan menikah dengan Ummu Sulaim. Dari  pernikahan dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim banyak dikaruniai anak.

Ummu Sulaim juga termasuk perempuan yang mempunyai peran besar dalam Perang Uhud. Ia memberi minum orang-orang yang haus dan merawat orang-orang yang terluka. Suatu ketika, saat terjadi Perang Hunain, Ummu Sulaim membawa pisau kecil (badik). Abu Thalhah yang mengetahui hal tersebut dan melaporkan kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, ini Ummu Sulaim membawa badik.”

Baca Juga: Pahlawan Perang Uhud Justru Perempuan, Bukan Laki-Laki

Ummu Sulaim kemudian menimpali ucapan suaminya itu kepada Rasulullah SAW,  “Ya Rasulullah, benar aku membawa badik. Jika ada orang musyrik mendekatiku, maka akan aku robek perutnya, dan akan aku bunuh orang-orang muslim yang lari dari sisimu sebagaimana engkau memerangi orang-orang yang memerangimu. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Ya Ummu Sulaim, sungguh Allah SWT memberikan kecukupan dan kebaikan”.

Dalam hal mencari suami, Ummu Sulaim tidak menuntut adanya mas kawin yang begitu banyak dan mewah. Tapi beliau lebih memilih laki-laki yang mempunyai keimanan dan keislaman yang baik, karena kedua sifat tersebut yang akan membimbing kehidupannya ke depan.

Kebanyakan perempuan ketika menikah menginginkan jaminan masa depan yang jelas, dengan meminta mas kawin yang banyak dan mewah. Tetapi hal tersebut belum tentu menjamin masa depan pernikahan. Laki-laki yang mempunyai keimanan dan keislaman yang baik, tentu saja mengetahui bagaimana cara memperlakukan perempuan dengan sebaik mungkin, termasuk dalam urusan pernikahan, rumah tangga, sampai dengan urusan belanja, jalan-jalan dan sebagainya.

Selain itu, Ummu Sulaim juga termasuk perempuan yang ikut andil dalam mendakwahkan Islam. Ia juga ikut andil dalam Perang Uhud dan Perang Hunain walaupun tidak berada dalam barisan paling depan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam sama sekali tidak memarginalkan perempuan.

Wallahu a’lam.