Tiga Pertanyaan yang Diajukan Kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW

Tiga Pertanyaan yang Diajukan Kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW

Tiga Pertanyaan yang Diajukan Kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW

Ketika Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaumnya (orang-orang suku Quraisy) tentang risalah kenabiannya, banyak yang tidak percaya dengan ucapan Nabi Muhammad, termasuk paman Nabi Muhammad sendiri.

Sebagian besar orang suku Quraisy tidak percaya karena Nabi Muhammad dianggap memecah belah suku Quraisy yang pada mulanya menyembah berhala. Pemimpin suku Quraisy akhirnya memutuskan untuk menguji kenabian Nabi Muhammad dengan tigs pertanyaan yang diperoleh dari pemuka agama Yahudi. Kisah ini disebutkan oleh Abu Bakr Siraj al-Din dalam karyanya yang berjudul Muhammad.

Tiga pertanyaan yang diajukan oleh Pemimpin Quraisy ternyata tidak bisa langsung dijawab oleh Nabi Muhammad. Hal ini justru semakin menguatkan bahwa segala hal yang disampaikan oleh Nabi Muhammad bersumber dari wahyu Allah, bukan karangan nabi Muhammad pribadi.

Nabi Muhammad hanya berkata kepada pemimpin Quraisy tersebut bahwa keesokan hari beliau akan menjawabnya tanpa mengucapkan Insya Allah. Hingga 15 hari Nabi Muhammad tak kunjung ditemui oleh Malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu dari Allah. Hal ini membuat Nabi Muhammad sedih dan diejek oleh orang-orang kafir dan tidak lama setelah itu hal yang diharapkan akhirnya datang.

Malaikat Jibril membawa empat wahyu dari Allah yang hendak disampaikan kepada Nabi Muhammad. Wahyu pertama berisi perintah mengucapkan Insya Allah (surat al-Kahfi ayat 23-24) dan tiga wahyu lainnya berisi tiga jawaban atas tiga pertanyaan.

Pertanyaan pertama yang diajukan oleh Pemimpin Quraisy adalah kisah tentang para pemuda yang meninggalkan kaumnya pada zaman dahulu. Nabi Muhammad menjawabnya dengan surat al-Kahfi ayat 9 sampai 25. Kisah ini masyhur dengan sebutan kisah Ashabul Kahfi yang tertidur di dalam gua selama lebih dari tiga ratus tahun dengan ditemani seekor anjing yang setia. Sekelompok pemuda ini melarikan diri dari kezaliman seorang raja pada kaumnya dan Allah menidurkan mereka selama berabad-abad di dalam gua.

Pertanyaan kedua yang disodorkan oleh Pemimpin Quraisy adalah cerita tentang seorang petualang yang berhasil menjelajahi ujung bumi di timur dan barat. Nabi Muhammad menjawabnya dengan surat al-Kahfi ayat 93 sampai 99 yang berisi tentang kisah seorang petualang besar yang bernama Dzulqornain. Tak hanya tentang perjalanannya dari barat hingga timur, tetapi juga menyebutkan perjalanan misterius di antara dua gunung yang di tempat tersebut terdapat Ya’juj dan Ma’juj.

Pertanyaan terakhir yang diujikan oleh Pemimpin Quraisy adalah hakikat roh. Nabi Muhammad menjawab pertanyaan terakhir ini dengan surat al-Isra’ ayat 85. Ayat ini menjelaskan bahwa urusan roh adalah hal di luar jangkauan pikiran manusia.

Wallahu A’lam