Tafsir Surat Yusuf Ayat 23-24: Ketika Nabi Yusuf Digoda Zulaikha

Tafsir Surat Yusuf Ayat 23-24: Ketika Nabi Yusuf Digoda Zulaikha

Surat Yusuf Ayat 23-24 ini mengisahkan ujian yang diterima Nabi Yusuf ketika bertemu Zulaikha

Tafsir Surat Yusuf Ayat 23-24: Ketika Nabi Yusuf Digoda Zulaikha

Dalam surat Yusuf ayat 23-24, Allah SWT berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ () وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Waraawadathul latii huwa fii baitihaa ‘an nafsihi wa ghallaqatil abwaaba waqaalat haita laka qaala ma’aadzallaahi innahu rabbi ahsana matswaaya innahu laa yuflihud dhaalimuun. Walaqad hammat bihi wahamma bihaa laulaa an raa burhaana rabbihi kadzalika linashrifa ‘anhus suua wal fahsyaa’a innahu min ‘ibaadinal mukhlashiin.

 Artinya:

 “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andai kata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Surat Yusuf ayat 23-24).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, dalam ayat di atas, Allah sedang menyinggung perempuan yang merupakan istri sang menteri Mesir. Menteri inilah yang membeli dan memuliakan Nabi Yusuf. Perempuan tersebut adalah orang yang diminta sang menteri untuk merawat serta memuliakan Nabi Yusuf. Konon perempuan yang bernama Zulaikha tersebut terpikat dengan ketampanan Nabi Yusuf.

Zulaikha menutup pintu ruangan untuk mendekati Nabi Yusuf. Ia meminta Nabi Yusuf untuk mendekat. Namun Nabi Yusuf menolak ajakan tersebut dengan tegas. Ia menyatakan berlindung kepada Allah dari prilaku keji yang dapat muncul dari keduanya, di ruangan tertutup. Dan Nabi Yusuf menyatakan, sang menteri sudah bersikap baik kepadanya, bagaimana bisa Nabi Yusuf hendak berkhianat dengan mendekati istrinya.

Allah juga menerangkan, hampir saja keduanya sudah saling menghendaki satu sama lain. Namun, Allah mengingatkan Nabi Yusuf dengan sebuah peringatan. Akhirnya Nabi Yusuf tidak menghendaki zulaikha dan terhindar dari prilaku keji. Nabi Yusuf kemudian lari menghindar dari zulaikha.

Nabi Yusuf Diingatkan Allah

Bagaimana Allah mengingatkan Nabi Yusuf? Tidak ada keterangan lebih lanjut dalam Al-Qur’an. Hal ini mendorong para ahli tafsir menggali sumber lain, yaitu dari keterangan para ahli kitab. Dan ini memunculkan banyak pendapat.

Sebagian pendapat menyatakan bahwa Nabi Yusuf melihat sosok ayahnya dengan keadaan menggigit jarinya dengan mulutnya. Ada yang menyatakan bahwa Nabi Yusuf melihat bayangan sang menteri. Ada yang menyatakan, yang dilihat bukan bayangan sang menteri, tapi sang raja mesir. Ada yang menyatakan bahwa Nabi Yusuf melihat di dinding rumah ada tulisan:

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Surat al-Isra’ ayat 32)

Usai memaparkan berbagai pendapat mengenai isyrat Tuhan yang pada akhirnya  mencegah Nabi Yusuf berbuat hal keji, Imam Ibnu Katsir mengutip pernyataan Ibnu Jarir al-Thabari sebagai berikut, “Yang benar adalah, secara umum Nabi Yusuf melihat salah satu tanda kekuasaan Allah yang mengcegahnya berkeinginan berbuat hal keji. Bisa itu berbentuk rupa Nabi Ya’qub, rupa sang raja, dan bisa saja berbentuk sesuatu tertulis yang dilihat Nabi Yusuf yang mencegahnya melakukan hal itu. Tidak ada bukti pasti mengenai bentuk tanda itu. Maka yang tepat adalah menyatakan secara umum saja, sebagaimana yang firman Allah”.