Tafsir Surat Yusuf Ayat 1-2: Mengapa Al-Qur’an Menggunakan Bahasa Arab?

Tafsir Surat Yusuf Ayat 1-2: Mengapa Al-Qur’an Menggunakan Bahasa Arab?

Surat Yusuf dinamai dengan nama tersebut sebab memuat kisah tentang perjalanan Nabi Yusuf.

Tafsir Surat Yusuf Ayat 1-2: Mengapa Al-Qur’an Menggunakan Bahasa Arab?

Sebagaimana bisa dilihat dari namanya, Surat Yusuf dinamai dengan nama tersebut sebab memuat kisah tentang perjalanan Nabi Yusuf. Imam al-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib menjelaskan, suatu kali kaum Yahudi memberi ide para pembesar kafir Quraish, untuk bertanya perihal kisah berpindahnya Nabi Ya’qub dari Syam menuju Mesir serta kisah Nabi Yusuf, kepada Nabi Muhammad. Lalu Allah pun menurunkan ayat tentang kisah Nabi Yusuf.

Surat Yusuf adalah termasuk Surat Makiyah atau surat yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad melakukan hijrah. Dalam urutan penempatan dalam Al-Qur’an, Surat Yusuf berada di urutan surat ke-12, jatuh setelah Surat Hud dan sebelum Surat Ar-Ra’du. Sedang dalam urutan diwahyukannya surat-surat di dalam Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad, menurut Imam al-Zarkasyi, Surat Yusuf berada di urutan 53.

Allah berfirman dalam ayat 1-2:

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ () إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Alif laamm ra. Tilka ayaatul kitaabil mubiin. Innaa angzalnaahu qur’aanan ‘arabiyyan la’allakum ta’qilun.

 Artinya:

 “Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang nyata. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS: Yusuf ayat 1-2)

 Ragam Tafsir Kata “Nyata”

Allah membuka Surat Yusuf dengan menjelaskan, bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang setiap hari kita baca adalah sesuatu yang “nyata”. Apa maksud bahwa ayat Al-Qur’an adalah sesuatu yang “nyata”? Inilah barangkali pertanyaan yang muncul di benak kita saat memahami ayat pertama dari Surat Yusuf. Apabila kita mencoba mencari jawaban atas pertanyaan ini dari sekedar Al-Qur’an terjemah, tentu tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Para ahli tafsir sendiri memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang makna “nyata” tersebut. Imam Ibnu Katsir menyatakan, disebut “nyata” sebab ayat-ayat Al-Qur’an banyak menjelaskan hal-hal yang masih samar bagi manusia. Imam al-Suyuthi menyatakan, disebut “nyata” sebab Al-Qur’an menjelaskan mana hal yang benar dan mana hal yang batil. Sedang Imam al-Razi menyatakan, disebut “nyata” sebab ia memperlihatkan mukjizat Nabi Muhammad, menjelaskan mana yang benar dan salah serta mana yang halal dan haram, serta mengkisahkan berbagai kisah kaum terdahulu.

Lalu manakah penjelasan yang tepat? Semua bisa saja benar sebab memiliki dasar riwayat penafsiran, dan tidak hanya mengandalkan pikiran belaka. Namun secara umum kita dapat mengambil kesimpulan, ayat Al-Qur’an disebut sebagai sesuatu yang nyata sebab menjelaskan banyak hal bagi manusia. Ia tidak sekedar cerita bohong atau kabar burung yang dapat diabaikan begitu saja.

Jawaban Mengapa Al-Qur’an Memakai Bahasa Arab

Tentu banyak yang bertanya-tanya, mengapa al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab? Mengapa tidak dalam Bahasa Indonesia atau bahasa lain? Pertanyaan ini dapat dijawab oleh beberapa jawaban. Salah satunya adalah disebabkan Al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah bangsa Arab.

Di pendahuluan sendiri sudah dijelaskan kisah yang melatar belakangi diturunkannya surat ini. Suatu kali kaum Yahudi memberi ide para pembesar kafir Quraish, untuk bertanya perihal kisah Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf, kepada Nabi Muhammad.

Keberadaan Al-Qur’an yang menggunakan Bahasa arab tentunya akan memudahkan para pembesar kafir Quraish untuk lebih memahami jawaban Allah di dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu di ayat kedua Allah menjelaskan, Al-Qur’an disusun dalam Bahasa Arab agar orang yang diajak bicara, yaitu bangsa Arab, dapat memahaminya.

Selain itu, menurut Imam Ibnu Katsir, Bahasa Arab memiliki keistimewaan berupa kekayaan kosa kata yang dapat dijadikan pilihan dalam mengungkapkan keinginan yang hendak diungkapkan dengan akurat. Contoh kecilnya, kata “di atas” dalam Bahasa arab bisa menggunakan   علىdan فوق . Bedanya,  علىuntuk benda yang berposisi di atas serta menempel, sedang  فوقsebaliknya.

Contoh penggunaannya, kalimat “lampu di atas meja” bila menggunakan  على berarti lampu itu tergeletak di atas meja dan tidak terpasang di langit-langi, sedang bila menggunakan  فوقberarti lampu itu menggantung di langit-langit rumah tepat di atas meja. Dengan ini, Bahasa Arab bisa lebih rinci dalam mengungkapkan isi hati manusia