Tafsir Surat Yasin Ayat 81-82: Bila Allah SWT Menghendaki Jadi, Maka Pasti Terjadi

Tafsir Surat Yasin Ayat 81-82: Bila Allah SWT Menghendaki Jadi, Maka Pasti Terjadi

Tafsir Surat Yasin Ayat 81-82: Bila Allah SWT Menghendaki Jadi, Maka Pasti Terjadi

Pada ayat sebelumnya telah diterangkan tentang bagaimana api dapat menyala dari pohon yang hijau. Yang merupakan bentuk kuasa Allah SWT. Pada ayat ini, Allah SWT kembali menegaskan bahwa Kuasa-Nya tidak terbatas. Dialah yang menciptakan langit dan bumi. Dia pula yang menggenggam segala sesuatu. Allah SWT menantang orang-orang musyrik Mekah untuk berpikir bahwa membangkitkan manusia dari tulang-belulang adalah hal yang mudah bagi-Nya. Allah SWT berfirman:

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ () إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

awalaysa alladzii khalaqa al-samaawaati wa al-ardha bi qaadirin ‘alaa an yakhluqa mitslahum balaa wa huwa al-khallaaqu al-‘aliim. innamaa amruhuu idzaa araada syay’an an yaquula lahuu kun fayakuun.

Artinya:

“Dan tidaklah (Dia) Yang menciptakan langit dan bumi Maha Kuasa menciptakan seperti mereka? Ya, Dia Maha Pencipta, lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu. Dia hanya berfirman kepadanya: “Jadilah!” Maka, jadilah ia.” (QS: Yasin Ayat 81-82)

 Ibnu Jarir al-Thabari dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran  menerangkan bahwa ayat 81 di atas adalah bentuk dari pertanyaan sindiran (istifham inkari) karena kebodohan orang musyrik Mekah yang bertanya tentang Hari Kebangkitan pada ayat 78 lalu. Al-Thabari menerangkan bahwa ayat 81 ini seolah-olah menyatakan kepada mereka, “Dzat yang tidak sulit bagi-Nya untuk menciptakan langit dan bumi, sesuatu yang lebih agung dibandingkan manusia, bagaimana mungkin Dia kesulitan untuk menghidupkan kembali manusia meskipun telah menjadi tulang belulang?” Adapun kalimat ‘bala wahuwa khallaq al-‘alim’ pada ayat 81 ini, menurut al-Thabari menegaskan bahwa Allah SWT Maha Menciptakan, Maha Berkehendak, dan Maha Mengetahui tentang makhluk-makhluk-Nya.

Mengutip riwayat Qatadah terhadap penafsiran ayat 82, al-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini adalah bentuk pengejawantahan bukti kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang musyrik Mekah. Pemilihan lafadz ‘kun’ sesuai dengan konteks masyarakat Arab yang menggunakan kata itu untuk mengekspresikan sesuatu yang dianggap mudah.

Menurut Imam Fakhruddin al-Razi, didahulukannya penyebutan api dalam pohon pada ayat sebelumnya dibandingkan penciptaan langit dan bumi membuktikan bahwa tingkat kesadaran atau intelektualitas orang-orang musyrik Mekah masih terpaku pada hal-hal yang tampak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Kata al-khallaq pada ayat 81 di atas mengisyaratkan makna bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan paripurna (al-qudrah al-kamil), sedangkan kata al-‘alim bermakna bahwa pengetahuan Allah SWT meliputi segala sesuatu (syamil). Begitu kata Imam al-Razi dalam kitabnya Mafatih al-Ghayb atau populer juga dengan nama Tafsir al-Kabir.

Penggunaan perumpamaan penciptaan Allah SWT dengan lafaz ‘kun’ pada ayat 82 bagi Fakhruddin al-Razi menunjukkan bahwa al-Quran menyesuaikan dengan tingkat intelektualitas orang-orang musyrik Mekah yang belum bisa menangkap pengetahuan non-empiris. Orang-orang musyrik Mekah pada waktu itu beranggapan bahwa proses penciptaan harus menggunakan alat atau perantaraan yang bersifat indrawi dan berkaitan erat dengan waktu dan tempat. Padahal Allah SWT, menurut al-Razi, tidak terikat ke dalam waktu dan tempat.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adzim menafsirkan ayat 81 ini sebagai penegasan Kemahakuasaan Allah SWT yang menciptakan tujuh langit beserta bintang-bintang dan menciptakan bumi beserta isinya termasuk gunung-gunung dan lautan samudera dan makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya. Sama seperti al-Thabari, Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa ayat ini hendak menunjukkan bahwa proses pengembalian jasad yang telah hancur menjadi utuh kembali adalah hal yang kecil dibandingkan dengan penciptaan langit dan bumi tersebut. Ibnu Katsir menjelaskan ini dengan mengutip QS. Ghafir [40]: 57 “Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.”

Kata ganti ‘hum’ yang terdapat pada kalimat ‘alaa an yakhluqa mitslahum menurut Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir merujuk pada kata al-insan yang ada pada ayat 77 yang lalu. Artinya ayat 81 ini membantah argumentasi yang dikemukakan orang-orang musyrik Mekah bahwa Allah SWT tidak mampu untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati. Padahal Allah SWT berkuasa untuk menciptakan langit dan bumi sebagaimana disebutkan pada ayat tersebut.

Ibnu ‘Asyur menekankan tidak hanya penciptaan langit dan bumi saja, pada kenyataannya bentuk kuasa Allah SWT adalah terus menerus menggerakkan tubuh manusia sejak pertama kali dilahirkan secara terus menerus. Yang bahkan manusia sendiri pun tidak kuasa untuk menggerakkannya seperti organ dalam, aliran darah, pompaan jantung, dan sebagainya.

Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama Sunni terkait apakah manusia dibangkitkan kembali dari sisa-sisa jasad yang masih bertahan ataukah dari ruhnya karena jasadnya telah hilang? Menurut Ibnu ‘Asyur hal ini dikarenakan ketiadaan ayat al-Quran yang menunjukkan bagaimana cara orang dibangkitkan. Terkait masalah ini, Ibnu ‘Asyur mengutip Sayfuddin al-Amidi dalam kitabnya Abkar al-Afkar yang kemudian menyikapinya dengan tawaquf (tidak terlalu mempermasalahkan).