Tafsir Surat Yasin Ayat 80: Nyala Api dan Kebangkitan Manusia

Tafsir Surat Yasin Ayat 80: Nyala Api dan Kebangkitan Manusia

Tafsir Surat Yasin Ayat 80: Nyala Api dan Kebangkitan Manusia

Pada artikel sebelumnya telah diterangkan latar belakang turunnya ayat 78-79 yang menjawab keraguan orang-orang musyrik Quraish tentang Hari Kebangkitan umat manusia. Dalam ayat tersebut dikisahkan bahwa seseorang (tiga versi riwayat: Ubay bin Khalaf, al-‘Ash bin Wail, atau Abdullah bin Ubay)  telah menemui Rasulullah Saw dengan membawa tulang belulang. Kemudian turunlah ayat tersebut. Pada ayat 80 ini, hendak ditegaskan bahwa penciptaan dari sesuatu yang tidak ada itu secara kasat mata juga dialami manusia. Pada ayat ini Allah SWT memberikan perumpamaan penciptaan api dari kayu yang berasal dari tanaman hijau. Allah SWT berfirman:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ

 al-ladzii ja’ala lakum min al-syajari al-akhdhari naaran faidzaa antum minhu tuuqiduun.

Artinya:

“Yang menjadikan untuk kamu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu menyalakan (api) darinya.” (QS: Yasin ayat 80)  

Sebagaimana Allah SWT berkuasa untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati pada saat Hari Kebangkitan, api yang muncul dari metode perapian kayu bakar juga atas izin-Nya. Menurut Imam al-Thabari dalam kitab Jami’ al-bayan fi Ta’wil al-Quran sebagaimana mengutip riwayat dari Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah bahwasanya Allah SWT berkuasa untuk menyalakan api dari kayu bakar yang mati, begitu pun Dia berkuasa untuk menghidupkan tulang belulang menjadi manusia kembali.

Penggunaan dhamir (kata ganti) ‘hu’ dari lafaz ‘minhu’ dalam bentuk mudzakkar (maskulin), kata Imam al-Thabari, karena kata al-syajar (pohon-pohon) dalam bentuk jamak kata al-syajarah (pohon). Artinya penggunaan kata ganti maskulin untuk lafaz yang berbentuk jamak taksir itu lumrah digunakan dalam bahasa Arab. Akan tetapi, kata al-Thabari, bila menggunakan kata ganti ‘ha’ sebagai bentuk muannats (feminim) pun tetap bisa digunakan.

Dalam kitab tafsir Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir al-Quran, Abdullah bin ‘Abbas seorang sahabat yang memiliki gelar ‘turjuman al-Quran’ sebagaimana dikutip Imam al-Baghawi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan al-syajar (pohon) dalam ayat di atas adalah jenis pohon yang memiliki senyawa khusus yang dapat menimbulkan api. Orang-orang Arab pada zaman itu mengenal dua jenis pohon bernama al-marakh dan al-‘affar yang dipergunakan sebagai bahan bakar untuk menyalakan api. Ibnu ‘Abbas bercerita bahwa orang yang ingin meyalakan api biasanya memotong bagian dari pohon tersebut sebesar kayu siwak, kemudian jenis kayu ini bisa digesekkan dengan jenis pohon kering apa pun untuk menghasilkan api.

Imam Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat 80 di atas merupakan perumpamaan bagi seroang manusia yang terdiri dari jasad yang fisik dan ruh metafisik yang meliputi jasad. Ruh ini, menurut al-Razi seperti energi panas yang terus menyala meskipun manusia tidak mengetahui bagaimana bentuk dari energi panas yang ada dalam diri manusia (istab’adtum wujud hararatin).

Bagi al-Razi kebingungan orang-orang musyrik Mekah tentang kebangkitan manusia dapat dijawab dengan ayat ini. Perumpamaan manusia adalah pohon yang mengandung energi panas. Dari pohon yang hijau, orang-orang Arab pada waktu itu bisa menyalakan api. Oleh karenanya mereka tidak perlu heran dengan penciptaan fisik seorang manusia yang mudah bagi Allah SWT. Penciptaan langit dan bumi yang teramat luas pun merupakan kekuasaan-Nya. Meskipun dalam pandangan Allah SWT tidak ada penciptaaan mudah dan berat, karena kedua hal ini hanya melekat pada makhluk-Nya.

Berbeda dengan penafsiran al-Razi, Jamaluddin al-Qasimi dalam kitabnya Mahasin al-Ta’wil menjelaskan bahwa ayat 80 ini juga mencerminkan proses penciptaan manusia. Menurut al-Qasimi Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan pohon (al-syajar) dari unsur air hingga menjadi pohon yang kokoh dan hijau yang kemudian bisa berbunga dan berbuah, lalu sebagian dahan dan rantinya kering dan berguguran. Dari situlah kemudian menjadi bahan baku kayu bakar kering yang dapat menghasilkan api. Mengutip Qatadah, al-Qasimi menerangkan bahwa proses api ini merupakan bentuk kuasa Allah SWT, Dia pun berkuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.

Sama seperti mufassir-mufassir di atas, Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Marah Labid juga menekankan bahwa ayat 80 ini adalah bentuk perbandingan untuk kaum musyrik Mekah bahwa Allah SWT berkuasa untuk menghidupkan api dari pohon yang hijau, begitu pun Dia berkuasa untuk menghidupkan manusia dari tulang-belulang yang telah hancur.