Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 110: Prinsip Ajaran Islam

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 110: Prinsip Ajaran Islam

Ini penjelasan surat Al-Kahfi ayat 110

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 110: Prinsip Ajaran Islam

Setelah menjelaskan betapa luas kalimat-kalimat Allah dan Dia hanya menyampaikan sebagian darinya, ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar menyampaikan bahwa beliau tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang Allah wahyukan padanya, dan bahwa kalau ada pertanyaan yang belum terjawab, itu karena Allah tidak menyampaikan kepada beliau dan karena memang risalah beliau buan untuk mengungkap secara terperinci sejarah tokoh-tokoh masa lampau. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Qul innama ana basyarum mitslukum yuha ilayya annama ilahukum ilahuw wahid. Fa man kana yarju liqo’a robbihi fal ya‘mal ‘amalan sholihaw wa la yusyrik bi ‘ibadati robbihi ahada.

Artinya:

“Katakanlah, ‘Aku itu sungguh hanya manusia biasa seperti kalian yang diberikan wahyu bahwa Tuhan kalian itu sungguh Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya sesuatu pun.'” (Surat Al-Kahfi ayat 110)

Syekh Mutawalli al-Sya‘rawi dalam kitab tafsirnya menguraikan innama ana basyarum mitslukum dengan ilustrasi bahwa Nabi Muhammad itu manusia biasa, bukan malaikat. Bahkan sekalipun utusan Allah, justru beliau tidak memiliki harta yang berlimpah. Nabi pun pernah merasakan berbulan-bulan tidak menggunakan cahaya lampu berupa obor, karena apinya digunakan untuk memasak, memakai pakaian jahitan, keturunannya pun tak ditinggalkan harta warisan, dan keluarganya haram menerima zakat. Kerasulan Nabi Muhammad tidak membawa sedikit pun manfaat padanya secara ekonomi. Tapi ada hal luar biasa di luar hal duniawi tersebut, yaitu beliau diberikan wahyu oleh Allah yang tidak diberikan pada sembarangan orang. Oleh karena itu, jadikanlah Nabi sebagai teladan walaupun ia sama seperti manusia pada umumnya.

Sementara itu, Syekh Nawawi Banten dalam tafsir Murah Labid menekankan sisi kemanusian Nabi pada ketidakmampuan Nabi Muhammad memberikan hidayah pada siapa pun, sekalipun orang dekat dan orang yang dicintainya. Karena itu, Nabi tidak pernah memaksa orang beriman pada Allah. Tugasnya hanyalah menyampaikan wahyu yang didapatnya untuk umat. Umat yang menerimanya pertanda ia mendapatkan kemulian dari Allah, tapi tidak sebaliknya.

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ayat ini merupakan kesimpulan pokok tentang prinsip-prinsip ajaran Islam. Ia mengandung prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu dengan firman-Nya: sungguh Tuhan kalian itu sungguh Tuhan Yang Maha Esa; kenabian pada firman-Nya: Aku itu sungguh hanya manusia biasa seperti kalian yang diberikan wahyu; dan keniscayaan hari Kemudian pada firman-Nya: barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya.

Menurut Syekh Nawawi Banten, ayat ini turun berkaitan sahabat Jundub bin Zuhair al-Amiri yang bilang pada Rasulullah, “Aku akan beramal karena Allah. Karena itu, jika Allah melihat amalku, maka itu akan membuatku bahagia.” Nabi menjawab, “Allah itu tidak akan menerima amalan yang di dalamnya terdapat unsur menyekutukanku” (HR Thabrani). Artinya, sahabat Jundub masih merasa ingin dianggap bahwa Allah melihat amalnya. Tapi di lain kesempatan Nabi juga bilang padanya, “Kamu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala menyembunyikan amal dan memperlihatkannya” (HR Ibnu Majah). Artinya, memang ada amalan yang boleh kita tampakkan pada khalayak banyak jika tujuannya agar orang lain berpotensi meniru perbuatan kita.