Surat Terbuka untuk Yang Mulia Raja Salman

Surat Terbuka untuk Yang Mulia Raja Salman

Yang Mulia Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud, perkenalkan, Saya warga Indonesia asli kelahiran pulau Jawa dan belum pernah ke Arab Saudi sepanjang usia dikandung badan. Yang Mulia harus tahu bahwa saya lebih dulu mengenal huruf hijayah dibandingkan aksara Jawa. Suara yang pertama kali masuk ke dalam telinga saya adalah suara azan yang didendangkan secara fals tanpa solmisasi yang jelas oleh Bapak saya. Dan Yang Mulia tahu, azan itu menggunakan bahasa Arab dengan langgam Arab, bukan langgam Jawa.

Maka meskipun saya terlahir di pulau Jawa, berkewarganegaraan Indonesia, namun sejak orok saya lebih karib dengan Arab.

Yang Mulia Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, jujur saya bingung harus menggunakan kata sapa apa: Njenengan, Antum, Anda atau You. Tapi biar lebih njawani saya putuskan untuk menggunakan kata sapa Antum saja.

Read More

Yang Mulia, ketika Antum berencana melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, seperti biasa: kita menyambutnya dengan penuh gegap gempita dan berdebat ria. Barangkali sama gegap gempitanya saat negera kami akan kedatangan Lady Gaga, Scorpion, atau juga Ufo Lia Eden.

Kami mendengar bahwa rombongan yang Antum bawa, tidak tanggung-tanggung, sebanyak seribu lima ratus orang. Jumlah yang setara dengan tiga RW di kampung kami. Fenomena itu, asal Antum tahu, membuat kami menjadi susah membedakan mana kunjungan kenegaraan, mana rombongan pelesir dharma wisata.

Yang Mulia, kami mendengar, sesungguhnya agenda utama Antum menurut para pengamat adalah penjajakan investasi. Namun, saya ndak percaya. Investasi mungkin iya, tapi saya yakin bahwa sesungguhnya tujuan utama Antum beserta rombongan itu adalah wisata alias pelesir. Iya kan? Ngaku saja.

Yang Mulia, sesuai berita yang kami terima, bahwa selain bertemu dengan para petinggi Republik ini, Antum akan dijadwalkan pergi ke Bali. Untuk apa? Pelesir?

Okelah pelesir. Bukan aib dan bukan masalah. Lagian MUI setahu saya tidak pernah mengeluarkan sikap keagamaan dan juga fatwa soal keharaman pelesir. Tapi kenapa harus Bali?

Oleh karenanya, daripada hanya menghabiskan waktu di pulau dewata, saya hendak menawarkan alternatif destinasi wisata. Dasar pemilihan destinasi yang hendak saya tawarkan ini berdiri kokoh di atas dua landasan: historis dan filosofis.

Destinasi-destinasi itu adalah:

Ziarah Wali Songo

Ini penting bagi Antum, Yang Mulia. Sejak isu pengekangan kekebasan bermazhab di penghujung tahun 1926, Indonesia atau bahkan dunia memandang bahwa Arab adalah jelmaan paham wahabisme. Paham ini, salah satunya sangat membenci yang namanya ziarah kubur.

Nah, mumpung Antum ada di negara yang penduduknya gemar berziarah kubur, Antum harus menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Wali Songo yang berada di sekujur pulau Jawa. Ini puenting. Biar mata dunia tahu bahwa Arab tidak anti ziarah kubur, hanya malas saja.

Di Indonesia ini, asal yang Mulia tahu, banyak waliyullah. Saking banyaknya waliyullah yang dimakamkan di Indonesia, khusunya di pulau Jawa, membuat kita menjadi sulit membedakan apakah ziarah makam para wali itu merupakan persitiwa religi, ekonomi ataukah budaya.

Sebab, yang berdaulat atas penentuan wali itu nyatanya adalah pemilik travel. Di tangan pemilik travellah cap wali itu dilahirkan. Malah kalau dulu kita mengenal istilah “Wali Songo”, belakangan kita mengenal istilah “Wali Sepuluh”.

Benar yang Mulia, Gus Dur adalah wali ke-sepuluh. Kita semua meyakininya, Yang Mulia. Tapi pertanyaanya siapa yang mula-mula menyematkan gelar wali ke-sepuluh itu? Benar. Jawabannya tidak lain tidak bukan adalah pemilik travel.

Ziarahlah yang mulia. Bawa uang receh yang banyak biar bisa berbagi dengan kaum dhuafa yang meskipun sudah punya dompet (dompet dhuafa) tapi jumlahnya masih banyak juga.

Selain ketemu dengan banyak dhuafa, Antum juga pasti akan ketemu dengan orang-orang Arab yang sudah “menjawa”. Maksudnya tampang Arab namun nada bicara sudah Jawa sekali. Bahkan di antara mereka aksen bicaranya jauh lebih medok dibandingkan orang Jawa asli. Cara misuh mereka pun sudah Jawa banget: ainuka: matamu, ra’suka: ndasmu dan juga ghanam: wedus. Yang beginian ini akan banyak Antum temukan di kawasan Ampel Surabaya.

Pergi ke Puncak

Yang Mulia, Antum mestinya sebelum datang ke Indonesia nanya-nanya dulu: tempat apa yang paling banyak dikunjungi orang Arab ketika ke Indonesia. Kalau Antum survei dan bertanya dulu maka jawabannya sudah pasti: Puncak.

Kawasan yang ada di Bogor ini merupakan tempat paling purba dan legendaris bagi orang-orang Arab. Seorang teman sepulang umrah bercerita bahwa orang Arab sangat suka dengan jamaah dari Indonesia. Dengan berapi-api orang Arab bilang ke teman saya yang umrah itu: Antum indunisy? Ya Allah, antum Indunisy? Indunisy kulluha bikr (kamu orang Indonesia? Indonesia semua penduduk (perempuannya) perawan). Mulanya saya menolak pernyataan itu. Perempuan Indonesia (yang di Puncak) tidak semuanya masih perawan. Namun belakangan saya sadar sesadar sadarnya bahwa bagi orang Arab semua perempuan Indonesia adalah perawan.

Yang Mulia, sempatkanlah untuk menengok kawasan Puncak barang sejenak. Dari istana Bogor hanya beberapa jam saja. Namun sebelum ke sana pastikan lebih dahulu mengecek jadwal lalu lintas, takutnya Antum nanti kejebak macet kerena sistem lalu lintas buka tutup.

Yang lebih penting dari itu semua, Yang Mulia, mestinya sebelum mendarat di Halim Perdana Kusuma kemarin pastikan Antum sudah benar-benar hapal nama-nama ikan. Ini persoalan maha penting. Sebab siapa tahun Presiden Jokowi akan menanyakan nama-nama ikan pada Antum. Kalau Antum beruntung bisa menjawab, Presiden Jokowi akan memgeluarkan kata-kata yang paling ditunggu seluruh warga Indonesia: Ya sudah sana ambil sepedanya.

Untungnya, Presiden lupa menanyakan nama-nama ikan pada Antum. Jadi, Antum selamat.

Selamat berlibur, Yang Mulia, bila sempat mampirlah juga ke Petamburan. Bawalah Habib Rizieq pulang ke kampung halaman.