Sejarah, Kontroversi, dan Selubung Dosa di Hari Valentine

Sejarah, Kontroversi, dan Selubung Dosa di Hari Valentine

Hari Valentine ternyata tidak seperti yang selama ini kita kira…

Sejarah, Kontroversi, dan Selubung Dosa di Hari Valentine

Sewaktu saya berbelanja kebutuhan rumah (tentu saja kontrakan) di sebuah mini market, mbak-mbak kasir menawarkan promo untuk sebuah produk coklat. Kebetulan, salah satu barang yang saya beli adalah coklat. Tapi saya cuma ambil satu untuk saya makan sendiri.

“Engga beli yang besar sekalian mas? Mumpung promo beli dua dapat tiga.”

“Tidak Mbak, makasih.”

Belakangan saya baru sadar bahwa promo itu terjadi bukan tanpa alasan. Ini adalah Hari Valentine, momen persetubuhan kepentingan para pemilik modal dengan festival kebudayaan.

Persis apa yang terjadi dengan hari libur atau hari besar keagamaan lainnya, Hari Valentine menandai laku konsumsi yang ditopang oleh hasutan promo-promo ciamik.

Meski begitu, ontran-ontran menjelang (atau bertepatan pada) tanggal 14 Februari selalu menarik untuk dicermati. Apalagi di belahan bumi dengan surplus umat Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia.

Saat tulisan ini dibuat, tagar #ValentinHariMaksiat bertengger di lima besar trending topic di twitter. Berbekal ekspektasi akan menemukan komentar lucu dan menghibur, saya membaca satu per satu apa kata netizen.

Dari jubelan cuitan yang melintas di linimasa media sosial, secara kasar saya menyimpulkan bahwa ada persoalan identitas yang sedang diproblematisasi lewat tagar #ValentinHariMaksiat. Di sini, Islam (sebagai sebuah keyakinan) dibenturkan dengan fenomena kebudayaan bernama Hari Valentine.

Kebetulan, Hari Valentine memiliki akar sejarah yang terhujam pada rumor seorang rohaniwan Kristen bernama Santo Valentinus. Praktis, wacana yang beredar semakin meruncing pada narasi setamsil “valentine bukan budaya Islam” atau paling jauh adalah ketakutan (seolah-olah kolektif, padahal biasa aja) tentang merosotnya kualitas moral umat Muslim.

Ustadz Abdul Shomad (UAS), misalnya, menyebut bahwa asal kata “Valentine” itu berasal dari nama Santo Valentino yang artinya orang suci.

“Santo Valentino, dialah yang membebaskan tentara yang sedang bercinta, (lalu) dinikahkannya, maka akhirnya dia dibunuh. Hari kematiannya itu dikenal dengan hari cinta,” ungkap UAS dalam sebuah video lawas tetapi kembali viral di media sosial.

“Tapi ternyata nanti 14 Februari itu adalah hari zina internasional. Di malam itu semua orang keluar dengan pasangannya. Bahkan hotel-hotel di Pekanbaru pasang harga promo ‘malam cinta’ setengah harga,” imbuhnya.

Masalahnya, hingga hari ini kebenaran cerita tentang sang santo itu sendiri masih dipertanyakan. Seorang sejarawan Kristen bernama Lisa Bitel mengatakan bahwa perayaan modern ini hanyalah cerita karangan yang indah, karena Santo Valentinus bukanlah seorang pecinta atau pelindung cinta.

Berdasar pada sumber-sumber kuno, Bitel menyebut bahwa terdapat beberapa Santo Valentinus yang meninggal pada 14 Februari.

“Dua di antaranya dieksekusi pada masa pemerintahan Kaisar Roma Claudius Gothicus pada tahun 269-270 Masehi, ketika persekusi terhadap pengikut Kristen lazim terjadi,” terang Bitel dalam artikel berjudul The ‘Real’ St. Valentine Was No Patron of Love.

Sementara itu, Santo Valentinus yang ketiga adalah seorang uskup di Terni, provinsi Umbria, Italia. Kisah yang mengacu pada Abad ke-3 ini juga berakhir serupa: ia dipenggal atas perintah Kaisar Gothicus dan tubuhnya dikubur di Via Flaminia.

“Terlepas apakah itu Valentinus Afrika, Roma, atau Umbria, tidak satupun dari mereka yang terlihat romantik… Laksana cinta itu sendiri, Santo Valentinus dan reputasinya sebagai santo pelindung cinta bukanlah masalah sejarah yang dapat diverifikasi, tetapi tentang keyakinan hati,” tandas Bitel.

Lalu, kenapa Hari Valentine bisa disebut momen kasih sayang? Di mana letak hablum-nya?

Geoffrey Chaucer, penulis “The Canterbury Tales”, menyebut bahwa festival kebudayaan pada pertengahan Februari itu semula berkaitan dengan musim kawin burung.

“Burung-burung Inggris terbang berpasangan untuk menghasilkan telur pada bulan Februari,” dedahnya.

Sejurus kemudian, para bangsawan Eropa yang menyukai alam mulai mengirimkan surat cinta ketika musim burung kawin.

Contohnya adalah Duke of Orleans asal Prancis. Seorang tahanan di Menara London ini menulis kepada istrinya pada Februari 1415 bahwa dia “sudah sakit karena (mabuk) cinta.”

Dia lalu memanggil istrinya sebagai “Valentine-nya yang sangat lembut”.  Dari sini, orang Inggris sayup-sayup menyukai konsep perkawinan di bulan Februari.

Terpisah, dalam drama William Shakespeare, terlentang adegan bahwa Ophelia yang sedang mabuk cinta juga mengatakan dirinya sebagai Valentine bagi Hamlet.

Pada abad-abad berikutnya, laki-laki dan perempuan Inggris mulai menggunakan tanggal 14 Februari sebagai alasan untuk menulis puisi cinta kepada pujaan hati mereka.

Di masa itu, industrialisasi sudah bergerilya. Salah satu produknya adalah distribusi massal kartu-kartu ilustrasi dengan puisi-puisi pujian. “Lalu, muncul pula Cadbury, Hershey’s, dan pabrik-pabrik coklat lainnya yang memasarkan produk-produk manis pada Hari Kasih Sayang,” papar Amy Henderson dalam artikel berjudul How Chocolate and Valentine’s Day Mated for Life.

Hari ini, produk industrialisasi itu ternyata tidak sebatas promo coklat, dengan segala variannya. 14 Februari juga ditandai oleh flash sale 14rb, atau potongan 14%, atau libido-libido konsumerisme lainnya.

Maka, kalaulah Valentine dianggap sebagai hari maksiat, justru letak kemaksiatan (5.0) itu berada pada bujuk rayu pembelian-tak-terencana di tanggal 14 Februari. Apapun bentuknya. Apapun produknya.

Dan, jangan salah, dosa dari perilaku konsumtif-berlebih ini bisa mendatangkan azab yang tak kalah sugronya dengan kiamat. Sebuah riset menunjukkan bahwa diskon berbelanja bisa berdampak mematikan bagi keberlangusngan bumi. “Untuk memberi ruang bagi barang baru, kita mau tidak mau harus membuang barang lama. Ini akhirnya memberikan dampak buruk bagi lingkungan,” tutur Kokho Jason Sit, salah satu tenaga pengajar Marketing di University of Portsmouth.

“Sebagai contoh, sebuah laporan parlemen UK di awal tahun 2019, menyebutkan ada sekitar 300.000 ton limbah tekstil dibuang setiap tahunnya, atau setara dengan 5 kg per individu. Limbah tersebut akhirnya dibawa ke TPA atau dibakar dengan insinerator. Laporan tersebut juga menekankan “kurang dari 1%” material garmen yang bisa didaur ulang. Budaya membuang ini sangat mencemari Bumi,” tambah dia.

Di titik ini, umat Muslim jelas akan kepayahan dalam memerangi ‘kebatilan’, soalnya ada banyak hari besar Islam yang juga menggunakan logika bujuk rayu serupa. Malahan, diskon lebaran bisa jauh lebih brutal ketimbang diskon Hari Valentine, bukan?