Valentine Memang Bukan Budaya Kita, Lalu Apa?

Valentine Memang Bukan Budaya Kita, Lalu Apa?

Bagaimana sih, kan emang Valentine itu budaya kita kok, lalu apa?

Ramai orang-orang berdebat tentang valentine day, yang pro mengatakan kita butuh hari yang pas mengekpresikan rasa sayang dan Valentine Day adalah solusi. Sedangkan golongan kontra alasannya sedikit ‘sederhana’, yakni itu bukan budaya Indonesia dan itu asosiasikan dengan dosa.

Saya tidak ingin masuk dalam ranah debat tentang Valentine Day. Saya cuma ingin membahas mengapa kelompok yang kontra Valentine Day dengan alasan bukan budaya Indonesia. Begini, kenapa hanya urusan receh baru mengingat budaya? Kemana aja bosque?

Kemana saja antum saat orang-orang mengamalkan budaya asli Indonesia, seperti tahlil, tumpengan dan ziarah maqam disebut bid’ah dan syirik. Kemana saja saat budaya asli Indonesia juga diasosiasikan dengan dosa? Eh kok baru muncul.

Read More

Akulturasi adalah Koenji

Pada faktanya, budaya kita pun disalahkan dan budaya orang luar dinistakan. Orang-orang macam itulah yang patut kita waspadai. Orang yang saja ingin membentuk kebudayaan takfiri (mudah mengkafirkan dan merasa paling benar) di Indonesia. Kalau kita baca kearifan lokal, cara takfiri justru berbeda jauh dengan nilai-nilai kearifan Indonesia.

Kita tentu sudah sering mendengarkan bahwa saat Islam masuk di Indonesia. Umat Islam mengakomodir kebudayaan lokal dengan memberikan nafas islami didalamnya.

Dulu nenek moyang kita animisme yang doyan bawa sesajen, akhirnya yang dulu bawa makanan di tempat keramat, diganti dengan membawa makanan bersama di masjid, seperti budaya maulid atau isra mi’raj di beberapa daerah.

Islam mengharamkan untuk membongkar dan merusak rumah ibadah umat lain, sehingga hari ini kita masih bisa melihat candi, arca dan peninggalan agama kuno. Itulah indahnya hidup di Indonesia, tanpa menjadi takfiri.

Hal ini terjadi karena ulama yang memasukkan Islam ke Indonesia, hebat dalam memilah yang universal (kulliyah) dengan yang partikular (juziyyah). Ajaran universal diterima apa adanya, sedangkan yang partikular dikawinkan dengan ekspresi budaya lokal. Beda dengan kita yang kadar keislamannya kaleng-kaleng karena ambigu membedakan dua hal tersebut.

Semoga dengan semangat akhi dan ukhti yang kritis terhadap budaya dan tradisi dari luar Indonesia, menjadikan kita mau menjaga budaya dan tidak takfiri.