Sayyid Utsman, Mufti Betawi Era Kolonial Belanda

Sayyid Utsman, Mufti Betawi Era Kolonial Belanda

Sayyid Utsman, Mufti Betawi Era Kolonial Belanda

Salah satu tokoh besar pada masa kolonial Belanda adalah Sayyid Utsman bin Yahya Betawi. Ia merupakan seorang mufti yang diangkat oleh Belanda, mengurusi permasalahan umat ketika itu, dan menjadi penasehat kehormatan untuk urusan bangsa Arab (Adviseur Honorair voor Arabische Zaken).

Sebenarnya pembahasan terkait biografi Sayyid Utsman beberapa telah dituliskan oleh pengkaji sejarah keislaman di Nusantara, salah satunya adalah Azyumardi Azra. Karyanya tentang Sayyid Utsman diantaranya adalah sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Studia Islamika Indonesia Journal for Islamic Studies dengan judul “Ḥadrāmī scholars in the Malay-Indonesian Diaspora: A Preliminary Study of Sayyid ‘Uthmān” pada tahun 1995.  Azyumardi menggunakan pendekatan historis dalam menulis jurnal ini, temanya adalah perjalanan hidup Sayyid Utsman, khususnya ketika menjabat sebagai mufti pada masa kolonial Belanda. Selain Azyumardi, banyak juga akademisi yang menulis jejak keilmuan Sayyid Utsman ini.

Nama lengkapnya Utsman bin ‘Abdullah bin ‘Aqīl bin ‘Umar bin ‘Aqīl bin Syaikh bin ‘Abd al-Rahmān bin ‘Aqīl bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Alwī bin Muhammad Mawlā al-Dawilah bin ‘Alī bin ‘Alwī bin Muhammad Faqīh Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shāhib Mirbāth bin ‘Ali Khalā’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad al-Naqib bin ‘Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zain al-‘Abidin bin Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah binti Muhammad SAW. (Lihat: Noupal. M, “Kontroversi Tentang Sayyid Utsman bin Yahya (1822-1914) Sebagai Penasehat Snouck Hurgronje,” h. 1371)

Sayyid Utsman Lahir di Pekojan pada pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 (1822 M). Sedang ayahnya dilahiran di Mekkah dan leluhur Sayyid Utsman sendiri berada di Hadhramaut, Yaman. Sebagaimana yang dituliskan Noupal, ayah Sayyid Utsman merupakan salah satu pemuka agama di Mekkah, barangkali dengan ini, kita dapat memahami bagaimana seluk beluk perkembangan Sayyid Utsman serta sepak terjangnya dalam dunia keilmuan.

Sayyid Utsman kecil dididik oleh kakeknya, Syaikh Abdurrahman al-Mishri. Beliau adalah kelahiran Mesir, wafat pada 1847M dan dimakamkan di Petamburan. (Lihat: Nico J.G Kaptein, Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia Belanda: Biografi Sayyid Usman (1822-1914), Yogyakarta, Penerbit Suara Muhammadiyah, Cet. pertama, 2017, hal 64)

Sayyid Utsman belajar beragam jenis ilmu kepada kakeknya. Di antaranya membaca Al-Quran, Akhlak, Tauhid, Fikih, Nahwu, Sharf, Tafsir, Hadits, dan Ilmu Falak. Perjalanan menuntut ilmunya sangat panjang. Dari satu daerah ke derah lainnya, satu negara ke negara lainnya. Pada umur 18 tahun berteapatan dengan tahun 1840 M, Sayyid Utsman berniat untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekkah dan bertemu ayahnya, namun ternyata takdir menentukan hal lain. Beliau melanjutkan tinggal di Mekkah dan menuntut ilmu di sana. Salah satu ulama yang menjadi rujukan Sayyid Utsman saat di Mekkah ialah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang masyhur sekali di tengah-tengah kita, salah satu karyanya adalah syarah terhadap kitab Al-Ᾱjurumiyyah, yaitu Mukhtashar Jiddan. Kitab ini banyak dikaji di pesantren di Indonesia.

Selain di Mekkah, Sayyid Utsman belajar ke Madinah, dan pada tahun 1848M Beliau berpindah ke Hadhramaut, Yaman, untuk melanjutkan studinya. Terdapat dua sumber yang berbeda terkait berapa tahun Sayyid Utsman tinggal di Hadhramaut. Noupal menuliskan, Sayyid Utsman tinggal disana selama 8 tahun. Sedang Nico menyatakan bahwa Sayyid Utsman berada disana selama 15 tahun.

Perjalanan menuntut ilmu Sayyid Utsman di Timur Tengah tidak hanya di Mekkah, Madinah dan Yaman saja. Beliau melanjutkan perjalanan menuju Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Turki, Syam, Palestina, kemudian kembali lagi ke Hadhramaut. Hingga, pada tahun 1862 M Beliau pulang ke Batavia, ketika umurnya 40 tahun.

Sayyid Utsman di Betawi; Mengabdi Untuk Umat

Setelah sampai di Betawi, Sayyid Utsman menjalani kehidupannya sebagai masyarakat pada umumnya. Namun nama kian hari kian banyak dikenal orang. Banyak para pelajar yang datang kepadanya untuk menuntut ilmu. Tatkala Namanya semakin mencolok, salah seorang guru sepuh yang mengajar di Masjid Pekojan, Syaikh Abdul Ghani Bima, meminta Sayyid Utsman untuk menggantikannya karena umur Sayikh Abdul Ghani yang sudah tua. Selain itu, pengajar di Masid Pasar Senen, Haji Abdul Mu’in pun meminta Sayyid Utsman untuk menggantikannya dengan alasan yang sama.

Tatkala Belanda mencium nama besarnya, Sayyid Utsman pun diberi tawaran menjadi mufti di Betawi, sekaligus penasehat kehormatan untuk urusan bangsa Arab (Adviseur Honorair voor Arabische Zaken). Kedekatannya dengan Snouck menjadi wasilah diangkatnya Sayyid Utsman sebagai mufti sekaligus penasehat kehormatan. Kendati demikian, dua jabatan ini tidak menghentikan profesinya sebagai pengajar, dan penulis.

Pada masanya, Sayyid Utsman banyak sekali merespon peristiwa-peristiwa keagamaan yang bergejolak ketika itu. Sebagai orang yang memiliki otoritas untuk mengeluaran fatwa, Sayyid Utsman berhak mengeluarkan pendapatnya, tentunya tetap berpegang pada dalil-dalil agama yang telah dipelajarinya. Seringkali, fatwa-fatwa yang dikeluarkan berbentuk karya tulisan yang tipis namun informatif. Tak ayal karyanya mencapai lebih dari 60 buku. Sebagian ada yang sampai kepada kita, sebagian ada yang masih tersimpan di Leiden University, Belanda.

Karya-karya Sayyid Utsman ada yang berbahasa Arab, juga Melayu. Meski menggunakan Bahasa Melayu, Sayyid Utsman tetap menuliskannya dengan Arab pegon. Karya-karya Sayyid Utsman di antaranya adalah Manhaj al-Istiqomah fi ad-Din bi as-Salāmah, Maslak al-Akhyār, Hadis-Hadis Keluarga, Kitāb al-Farāidh, al-Qawānīn asy-Syar’iyyah li Ahl al-Majālis al-Hukmiyyah wa al-Iftāiyyah, dan lain-lain.

Wafatnya Sayyid Utsman

Sayyid Utsman wafat pada hari Senin, 21 Safar 1332 H yang bertepatan dengan 19 Januari tahun 1914 M. Beliau dimakamkan di Tanah Abang, kemudian dipindah ke Pondok Bambu, Jakarta Timur. (AN)

Wallahu a’lam.