Sahabat Rasul ini Wajahnya Paling Mirip dengan Rasululullah SAW

Sahabat Rasul ini Wajahnya Paling Mirip dengan Rasululullah SAW

Di antara sahabat dan keluarga Rasulullah SAW, Ja’far bin Abi Thalib lah yang wajahnya paling mirip Rasulullah SAW.

Sahabat Rasul ini Wajahnya Paling Mirip dengan Rasululullah SAW

Ja’far bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah SAW, putra ketiga Abu Thalib, Kakak dari Ali bin Abi Thalib, juga merupakan paman Rasulullah SAW yang paling berjasa ketika Abdul Muththalib wafat. Dia popular dengan sebutan Ja’far al-Thayyar.

Ja’far merupakan sahabat Rasulullah yang sangat peduli dengan kondisi orang fakir dan miskin masyarakat Arab saat itu, sehingga ia diberi gelar Abu al Masakin. Dia adalah salah satu kerabat Nabi yang sangat mirip wajah dan akhlaknya dengan Nabi Muhammad Saw. sehingga tak jarang para sahabat memberikan salam kepadanya karena mengira bahwa dia adalah Nabi Muhammad SAW. Ja’far termasuk golongan yang awal memeluk Islam, dengan keislamannya ini dia juga mengajak serta istrinya, Asma’ binti Umais untuk memeluk agama yang benar.

Perjuangan Ja’far bin Abi Thalib dalam menyebarkan agama Islam tidak diragukan lagi, hal ini terbukti ketika beliau harus gugur dalam peperangan mu’tah yang terjadi pada awal tahun ke delapan Hijriah. Perang Mu’tah adalah salah satu peperangan besar yang terjadi di zaman Rasulullah, perang ini terjadi antara orang Islam dan orang Nasrani Romawi dengan jumlah dari masing-masing kelompok terpaut sangat jauh. Yaitu dari pihak musuh membawa 100 ribu pasukan Romawi dan diperkuat lagi dengan 100 ribu pasukan dari sejumlah kabilah Arab yang mendukung Romawi, seperti Lakham, Judzam, Qain, dan Bahra’, sehingga jumlah mereka sekitar 200 ribu pasukan. Sedangkan kaum Muslim hanya sekitar 3 ribu pasukan.

Sebab terjadinya perang Mu’tah adalah saat Rasulullah mengirim surat melalui utusannya, Harits bin Umair al Azdi ra. kepada Raja Bushra. Tatkala utusan ini sampai di Mu’tah yaitu sebuah daerah di bagian Timur Yordania, dia dihadang dan dibunuh oleh tentara raja Bushra tersebut.

Sesuai adat yang berlaku saat itu, bahwa seorang utusan tidak boleh dibunuh dan ketika ada yang membunuh, maka itu pertanda alarm untuk menyatakan perang. Menengar kabar tersebut, Rasulullah marah dan beliau langsung mengirim pasukan kepada mereka pada Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah yang dipimpin oleh Zaid bin Harits.

Rasulullah SAW berpesan, “Ketika Zaid bin Haris gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib yang akan menggantikannya. Ketika Ja’far bin Abi Thalib juga gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang akan menggantikannya dan apabila Abdullah bin Rawahah gugur maka pilihlah pemimpin yang mereka sepakati”.

Imam at-Thabari menyebutkan dalam kitab Tarikhnya, Tarikh at-Thabari bahwa ketika perang sedang berkecamuk sangat dahsyat, Zaid bin Haris sang komandan perang yang memegang bendera pasukan umat Islam gugur, sehingga dengan sigap bendera pasukan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib dan kembali melanjutkan peperangan. Dia mengamuk dengan mengayunkan pedangnya ke arah musuh.

Dalam pertarungan yang sangat pelik tersebut, tangan kanan Ja’far bin Abi Thalib putus karena tebasan pedang musuh sehingga bendera dia pegang dengan tangan kirinya, kemudian tangannya ditebas lagi sehingga putus tangan kirinya tetapi bendera masih bisa dia pegang dengan tubuhnya hingga akhirnya beliau ditebas musuh dan gugur sebagai syahid.

Ketika Rasulullah mendengarkan kabar gugurnya Ja’far bin Abi Thalib, beliau sangat sedih,  beliau segera menemui keluarga Ja’far bin Abi Thalib. Saat sampai di kediamannya, beliau mendapati istrinya, Asma’ binti Umais sedang bersiap-siap untuk menyambut kedatangan suaminya, memandikan dan memberikan pakaian bersih kepada anak-anaknya. Melihat Rasulullah datang, Asma’ melihat wajah Rasulullah sangat sedih dan tak kuasa bertanya mengapa karena takut mendapatkan kabar buruk.

Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anaknya, Asma’ pun memanggil anak-anaknya untuk menemui beliau. Mereka menemui dan rebutan ingin menyalami beliau karena sangat senang dengan kedatangannya. Rasulullah ﷺ memeluk erat anak-anak Ja’far dengan linangan air mata yang membasahi tubuh mereka. Dari situ, mereka tau bahwa suami berikut Ayah mereka telah meninggal dunia syahid di medan perang.

Sungguh sangat mulia para sahabat di zaman dulu, tidak ada yang mereka harapkan kecuali keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita bisa meneladani apa yang para sahabat lakukan khususnya Ja’far bin Abi Thalib ini dalam memperjuangkan kejayaan dan tegaknya agama Islam di muka bumi. (AN)

Wallahu a’lam Bis Showab.

 

Artikel ini ditulis oleh Thabrani, sebelumnya dimuat di Majalahnabawi.com, yang tergabung dalam Sindikasi Media Islam (SMI)