Ramainya #KaburAjaDulu Jadi Bukti Kegelisahan Buruh dan Pekerja Muda, Pemerintah Diminta Bercermin

Ramainya #KaburAjaDulu Jadi Bukti Kegelisahan Buruh dan Pekerja Muda, Pemerintah Diminta Bercermin

Ramainya #KaburAjaDulu Jadi Bukti Kegelisahan Buruh dan Pekerja Muda, Pemerintah Diminta Bercermin

Belakangan marak tagar #KaburAjaDulu di media sosial dan jadi kontroversi. Banyak yang meanggap tidak nasionalis dan semacamnya, tetapi banyak juga yang setuju bahkan menganjurkan.

Bagi Konfederasi Sarbumusi (Sarikat Buruh Muslimin Indonesia)  tagar tersebut sebagai aspirasi masyarakat, termasuk wujud kegelisahan kelas buruh/ pekerja muda.

“Banyak survei mengkonfirmasi bahwa kekhawatiran generasi muda yang paling tinggi adalah akses terhadap pekerjaan,” jelas Agung Prastowo, Ketua Konfederasi Sarbumusi.

Hal ini karena mencari kerja saat ini sangat sulit, tambahnya, apalagi Lapangan kerja formal sangat terbatas.

“Bahkan kita sedang mengalami era deindustrialisasi di sektor padat karya. Yang sudah kerja pun sekarang mulai terhantam gelombang PHK. Tagar tersebut merupakan aspirasi bawah kepada pemerintah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, sosok yang lebih kenal dengan panggilan akrab Prast ini menjelaskan,

“Setelah kita mengalami disrupsi dunia kerja karena dampak tekonologi, mekanisasi, otomasi dan AI, situasi di Indonesia semakin sulit karena dampak efesiensi anggaran yang diterapkan secara masif oleh pemerintah,” lanjutnya.

Tujuan awal, lanjutnya, memang baik. Agar belanja negara tepat sasaran.

“Tapi kami khawatir, dalam beberapa bulan kedepan akan berdampak pada konsumsi rumah tangga (domestic consumption). Padahal 54 persen pertumbuhan ekonomi kita berasal dari konsumsi rumah tangga.”

Sarbumusi memberikan contoh bahwa sektor-sektor tertentu saat ini pun sudah langsung terdampak dari kebijakan pemerintah tersebut.

“Anggota kami di sektor perhotelan, makanan, minuman, industri kreatif seperti EO dan hiburan sudah mulai merasakan dampaknya. Mulai sepi order dan acara. Kami khawatir bila ini terus berlanjut, growth kita pada kwartal kedua tahun ini akan turun menjadi 4 persen,” jelas Prast.

Terhadap tagar #KaburAjaDulu, Prast berharap pemerintah bisa bercermin.

“Sebaiknya tidak alergi terhadap masukan. Justru tagar tersebut merupakan bentuk partisipasi positif masyarakat, termasuk kelas buruh/pekerja. Pemerintah justru harus berterima kasih ada gerakan di media sosial seperti ini karena bisa lebih memahami situasi dan kebutuhan masyarakat di bawah,” lanjut Prast.

 

Sarbumusi berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. “Kita jangan terlalu menjadikan politik sebagai panglima. Sekarang saatnya fokus pada ekonomi. Datangkan investasi sebesar-besarnya dan konversi sebaik-baiknya dalam penyerapan lapangan kerja yang berkualitas. Bila situasi dalam negeri kondusif tidak akan ada tagar-tagar semacam ini karena masyarakat di bawah semuanya sudah hepi, pungkas Prast.