
Allah SWT memerintahkan manusia untuk berpuasa tentu memiliki hikmah dan tujuan. Puasa tidak sekedar menahan haus dan lapar. Terdapat tujuan yang lebih besar dari sekedar menahan haus dan lapar. Salah satu tujuannya adalah latihan untuk mengendalikan hawa nafsu atau ego. Dalam menjalani kehidupan ini, kadang ego dan hawa nafsu kita lebih besar. Kita menuruti apa saja yang diperintahkan oleh hawa nafsu, hingga melupakan ibadah kepada Allah SWT.
Pada kenyataannya, mengendalikan hawa nafsu dan mengontrol ego bukanlah hal yang mudah. Butuh latihan serius agar bisa benar-benar mengendalikan hawa nafsu dan mengontrol ego. Itulah sebabnya, Allah SWT memerintahkan kita untuk puasa satu bulan penuh, di mana selama bulan Ramadhan itu kita bisa belajar untuk mengendalikan hawa nafsu, mengontrol diri agar menjadi pribadi yang lebih baik, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam al-Qur’an, orang yang berhasil mengontrol ego dan hawa nafsu ini diistilahkan sebagai orang yang bertakwa. Dalam surat al-Baqarah ayat 183 disebutkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS: Al-Baqarah: 183)
Imam Fakhruddzi Arrazy dalam kitab Mafatihul Ghaib menafsirkan ayat ini bahwa puasa berfungsi untuk melahirkan ketakwaan, salah satu aspek dari takwa adalah kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu. Banyak kemaksiatan muncul akibat ketidakmampuan manusia mengendalikan nafsu, terutama nafsu yang berkaitan dengan perut dan kemaluan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Anak Adam dapat binasa karena dua hal: perut dan kemaluan.” Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ketika beliau ditanya mengenai faktor yang paling banyak membawa orang masuk surga. Nabi SAW menjawab, “Taqwa dan akhlak yang baik.” Namun, saat ditanya apa yang lebih banyak menyebabkan orang masuk neraka, Nabi menjawab, “Dua anggota tubuh: perut dan kemaluan.” (HR: Ibnua Majah).
Salah satu contoh pengendalian ego dalam puasa adalah menahan diri dari berbicara buruk atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa dan tidak meninggalkan perkataan kotor serta perbuatan jahat, maka Allah tidak membutuhkan puasanya.” (HR. Bukhari).
Ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang menjaga lisan dan perasaan kita dari hal-hal yang dapat merusak kesucian puasa itu sendiri. Menjaga lisan dan perbuatan adalah bentuk nyata pengendalian ego yang lebih besar dalam diri kita.
Selain itu, puasa juga mengajarkan kita untuk lebih bijak dalam memprioritaskan kebutuhan yang lebih penting. Ketika kita menahan diri dari makan dan minum, kita juga diingatkan untuk menahan ego kita yang ingin selalu mendapatkan kenikmatan sesaat. Dalam konteks ini, puasa mengajak kita untuk lebih memilih hal-hal yang bersifat abadi, seperti meningkatkan ibadah dan ketakwaan kepada Allah, daripada terjebak dalam kenikmatan dunia yang sementara.
Pada akhirnya, puasa adalah cara Allah SWT untuk mengajak umat-Nya memperbaiki diri, mengendalikan ego, dan kembali pada fitrah manusia yang lebih dekat kepada-Nya. Dengan melatih pengendalian diri melalui puasa, kita dapat menjadi pribadi yang lebih sabar, bijaksana, dan rendah hati, serta mampu menghadapi segala tantangan hidup dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Hal ini akan membawa kita lebih dekat kepada Allah, dan membantu kita dalam menjalani hidup yang lebih bermakna.