Refleksi Idul Adha: ‘Menyembelih’ Egosentrisme Kaum Beragama

Refleksi Idul Adha: ‘Menyembelih’ Egosentrisme Kaum Beragama

Refleksi Idul Adha: ‘Menyembelih’ Egosentrisme Kaum Beragama

Idul Adha yang dirayakan umat Islam bukan hanya sekedar menyembelih kurban, tapi juga memiliki spirit dan makna yang penting bagi manusia dan kehidupan.

Di antaranya ada tiga hal yang relevan bagi masyarakat Indonesia kontemporer. Pertama, empati dan kepedulian sosial. Kedua, melampaui kepemilikan dan kemelekatan. Ketiga, “menyembelih” egosentrisme dan naluri primitif.

 

Empati dan Kepedulian Sosial

Dengan membagi-bagikan daging kurban, terutama pada masyarakat yang kurang mampu, Idul Adha bermakna empati dan kepedulian sosial.

Namun, sebagai esensi dan spirit, empati dan kepedulian sosial tentu bisa ditafsirkan dan dimaknai secara lebih luas. Bukan hanya sebatas dengan membagi-bagikan daging kurban sebagaimana lazim terjadi, tetapi bisa juga dengan mendermakan dana senilai hewan kurban. Dana yang didermakan, dalam beberapa kondisi, justru lebih fungsional dan tepat sasaran, yakni memberdayakan masyarakat yang miskin, sengsara, dan tertindas.

Selama ini, Idul Adha justru hanya menjadi ajang “pesta” bagi semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang relatif mampu dan berpunya. Tidak ada hikmah dan pelajaran kecuali berakhir dengan perut kenyang dan kepala pusing karena daging.

Sudah saatnya umat Islam mulai mengurangi “kekerasan” massif penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha. Apalagi di tengah krisis iklim yang terjadi saat ini. Wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang menyerang hewan ternak (terutama sapi dan kambing) dan meluas beberapa waktu belakangan ini sangat mungkin merupakan “interupsi” dari Alam dan Kehidupan agar umat Islam mencerna kembali pelajaran penting dari kurban.

Agama dan Spiritualitas seyogyanya menebarkan kedamaian dan cinta kasih. Anti kekerasan dan pantang kekerasan adalah nilai-nilai sekaligus spirit penting  dari Agama dan Spiritualitas.

 

Melampaui Kepemilikan dan Kemelekatan

Apa hikmah yang bisa dipetik saat Nabi Ibrahim “mengurbankan” anaknya bernama Ismail? Bahwa manusia seyogyanya “melampaui” kepemilikan dan kemelekatan, yakni siap melepaskan dan merelakan hal-hal yang sangat mungkin paling disukai dan dicintai.

Dalam makna yang lebih reflektif, manusia harus “menguasai” benda, materi, dan hal-hal lain yang dicintai dan melenakan. Bukan sebaliknya, justru tersungkur dalam daulat benda dan materi.

Jika terus tersungkur dalam daulat benda dan materi dan tak mampu mensyukuri apa yang dimiliki, maka manusia akan terus “lapar” dan “haus”. Maka, sebagaimana wajah Negeri ini korupsi pun merajalela dan berurat berakar di mana-mana.

Orang yang “kaya” bukanlah yang punya banyak harta benda yang melimpah ruah, melainkan yang mampu menikmati dan mensyukuri apa yang dimiliki.

 

“Menyembelih” Egosentrisme dan Naluri Primitif

Menyembelih hewan kurban sebenarnya bisa dimaknai secara simbolis dalam konteks yang lebih reflektif dan relevan bagi masyarakat Indonesia kontemporer. Yakni “menyembelih” egosentrisme, tindak destruktif, dan naluri primitif. Bukan hanya yang berkaitan dengan individu, melainkan juga kelompok atau komunitas.

Biasanya, kelompok mayoritas atau bisa juga yang punya power dan dekat dengan kekuasaan (politik) memposisikan diri sebagai “Rezim Kebenaran” bagi kelompok lainnya yang minoritas atau jauh dan berjarak dengan kekuasaan.

Dominasi dan hegemoni yang dilakukan kelompok yang dominan atau mainstream  itu dilakukan secara halus hingga yang kasar, intimidatif, dan represif. Rezim Kebenaran yang mengekspresikan egosentrisme, tindak destruktif, dan naluri primitif bahkan menerapkan “hukum rimba”: siapa yang (paling) kuat, dialah yang menang. Inilah potret masyarakat yang “sakit”.

Sang Rezim Kebenaran itu seringkali merasa hebat dan heroik membela Agama dan Tuhan, tapi sejatinya cuma menuruti egosentrisme dan membela kepentingannya sendiri. Komunitas seperti ini masih begitu dominan dan meluas di negeri ini. Mereka acapkali tampak sebagai kerumunan atau gerombolan yang menuruti ego dan emosinya ketimbang mempergunakan nurani yang jernih dan nalar yang sehat.

Komunitas yang paling potensial memposisikan diri sebagai Rezim Kebenaran itu, antara lain adalah kaum beragama yang kaku (rigid) dan tekstual. Padahal, agama (teks suci) jika dipahami secara kaku dan tekstual berpotensi memicu kekerasan, kebencian, segregasi, diskriminasi, arogansi, dan semacamnya.

Jika Rezim Kebenaran memunculkan sejarah dan peradaban yang “sakit”, maka Idul Adha adalah momen yang tepat untuk berefleksi dan “menyembelih” egosentrisme kaum beragama.[AN]