Potret Ustadz di Film Pengabdi Setan 2: Skeptisisme Agama Masyarakat Urban

Potret Ustadz di Film Pengabdi Setan 2: Skeptisisme Agama Masyarakat Urban

Kamu pasti punya pertanyaan, mengapa pak ustadz di film Pengabdi Setan 2 kalah sama setan?

Potret Ustadz di Film Pengabdi Setan 2: Skeptisisme Agama Masyarakat Urban

Joko Anwar, salah satu sutradara kenamaan Indonesia, bersama Rapi Films merilis film terbarunya yang berjudul Pengabdi Setan 2: Communion, ditayangkan perdana secara serentak pada tanggal 4 Agustus kemarin. Film ini merupakan sekuel dari film Pengabdi Setan yang rilis tahun 2017 lalu, yang pada akhir penayangannya telah ditonton oleh 4,2 juta orang.

Minat orang Indonesia terhadap genre film horor memang sangat tinggi, tidak heran jika di hari pertama tayang, Pengabdi Setan 2 telah ditonton oleh tujuh ratus ribu lebih orang. Tetapi di luar itu, ada hal yang cukup menarik dari film ini untuk dilihat, terutama dalam posisi film sebagai bagian dari proses dan hasil berpikir manusia.

Kreativitas manusia sangat erat kaitannya dengan perkembangan pemikiran, seperti lukisan-lukisan klasik yang menjadi awal dari terbentuknya peradaban modern Eropa dan pada gilirannya, memengaruhi perkembangan cara pandang mereka terhadap dunia. Demikian juga dalam dunia perfilman, ia berhubungan erat dengan esensi dari perkembangan budaya dan pemahaman terhadap fenomena sosial, termasuk juga agama.

Sekitar tahun 1930-an, ada sebuah film berjudul The Island of Demons karya Victor Baron von Plessen. Film tersebut bercerita tentang kisah cinta sepasang petani yang harmoni desanya dirusak oleh Rangda (semacam tukang sihir). Yang menarik dari film ini adalah, seluruh adegan ritual sihir dan mistis dalam film ini digambarkan dengan tarian dan ritual Bali. Ini adalah bentuk interpretasi fenomena budaya tertentu dalam sebuah film.

Film tersebut adalah contoh bagaimana sebuah film, bukan sebatas media ekspresi artistik bagi para seniman dan insan perfilman untuk mengungkapkan gagasan dan ide cerita yang dimilikinya. Film juga merupakan rekaman dari budaya dan fenomena sosial keagamaan yang melingkupinya.

Dalam film Pengabdi Setan 2, selain efek visual dan alur cerita yang bagus, hal-hal lain, seperti cara film ini memotret kehadiran agama di tengah masyarakat urban, adalah bagian yang tidak kalah petingnya untuk diamati.

Jika kita ingat film-film horor Indonesia di masa Suzzana tahun 70-an hingga menjelang tahun 2000-an,  agama hampir selalu dihadirkan sebagai ‘kekuatan utama’ untuk melawan ilmu hitam, setan, dan unsur-unsur mistis lain yang ada dalam sebuah film. Hal yang demikian tidak kita jumpai dalam Pengabdi Setan 2, yang bisa kita temukan adalah sosok seorang Ustadz berbadan gempal yang keberadaannya sebatas menjadi semacam komedi ringan disela pekatnya atmosfer horor film ini.

Film Pengabdi Setan 2 cukup berhasil menggambarkan potret skeptisisme agama yang terjadi di kalangan masyarakat urban. Misalnya pada scene sang Ustadz memberi saran kepada Tari Daryanti, perempuan cantik yang selalu diganggu oleh makhluk halus, agar kembali melaksanakan salat dan merasa takut hanya kepada Allah. Meskipun Tari sempat melaksanakan anjuran tersebut, namun pada akhirnya ia tidak sanggup menunaikannya lantaran terus-menerus mendapat gangguan dari makhluk halus.

Scene tersebut seakan tengah memperlihatkan kehadiran agama yang kehilangan signifikansinya di tengah-tengah kehidupan masyarakat urban. Agama hanya hidup sebagai ‘ritual’ yang sekedar merupakan bagian dari fenomena sosial, bukan sebagai ‘kekuatan utama’, sebagaimana film-film horor zaman dulu gambarkan, yang betul-betul mampu memecah persoalan.

Lalu dari mana datangnya skeptisisme itu? Salah satu faktor rusaknya agama, termasuk tumbuhnya skeptisisme terhadapnya, selalu berawal dari sikap keberagamaan (al-tadayyun) itu sendiri. Tentu saja, agama tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri. Ia baru dapat benar-benar terlihat ketika dipraktikkan dalam kehidupan.

Almaghfurlah Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur pernah menyampaikan dalam suatu kesempatan:

“Jika tidak ada generasi yang sadar dan menjunjung tinggi hubungan baik dengan saudara Muslimnya, dan sadar akan sedang adanya kehancuran akal, pikiran, akidah, madzhab, dan kelompok di tengah umat, maka umat ini kan hancur dengan sendirinya.”

(AN)