Pesan Kebangsaan Para Ulama

Pesan Kebangsaan Para Ulama

Pesan Kebangsaan Para Ulama
NU.OR.ID

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar silaturahmi 99 Ulama Nusantara, pada Kamis, 16 Maret 2017 (17 Jumadil Akhir 1438 H). Agenda penting ini bertempat di kediaman Kiai Maimoen Zubair, di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Agenda silaturahmi ini, menjadi oase di tengah gesekan antar kelompok pada level nasional maupun ranah internasional.

Pertemuan para kiai sepuh yang selama ini menjadi rujukan pendapat dalam bidang kemasyarakatan dan kebangsaan, tentu menjadi angin segar di tengah meningkatnya eskalasi politik tanah air. Ketika sengkarut politik menjadikan warga terbelah dan proses kontestasi antar pemimpin menimbulkan gesekan di tengah masyarakat, pertemuan para kiai khos ini memberi kesejukan bagi bangsa ini.

Menurut Katib ‘Am Syuriah PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), silaturahmi ulama khos ini merupakan pertemuan penting untuk menjawab kondisi kebangsaan di negeri ini dan sengkarut keislaman pada level dunia. “Wajah Islam Indonesia yang ramah, sesungguhnya adalah bagian dari cermin sikap kemasyarakatan NU. Tugas kita, kemudian bagaimana menggaungkan wajah Islam ala ahlus-sunnah wal-jama’ah sebagai upaya menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya pada dunia global”.

Peran Nahdlatul Ulama dalam menggaungkan Islam yang ramah dan moderat, sangat strategis di tengah meningkatkan eskalasi politik kebencian dan komodifikasi agama. Para kiai Nahdliyyin diharapkan menjadi pemersatu bangsa dan mendamaikan konflik-konflik sektarian. Sementara, di level dunia, gagasan Islam Nusantara yang mengkampanyekan nilai-nilai tasamuh (toleransi), tawassuth (moderatisme), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (prinsip keadilan) dapat menjadi rujukan keislaman masyarakat internasional.

Pesan Langit Ulama Khos

Dalam tradisi Nahdliyyin, ulama khos memiliki kedudukan penting sebagai punjer bumi sekaligus pilar langit. Dalam artian, sebagai kiai yang mengemban amanat untuk memberdayakan masyarakat sekaligus memiliki kedekatan spiritual dengan para wali dan Allah Swt. Riyadhah para kiai khos, dizkir dan doa-doa untuk memohon ampunan kepada Sang Khalik, membawa ketentraman dan kesejukan di muka bumi.

Ketika bangsa ini mengalami transisi dari Orde Baru menuju reformasi, yang dibarengi dengan krisis dan gelombang politik, Kiai Abdurrahman Wahid tampil sebagai pembaharu. Ia melakukan manuver-manuver politik dan gerakan kebudayaan, yang dibarengi dengan kejelian berpikir dan mengorkestrasi gagasan. Ketika itu, Gus Dur bergerak dengan restu lima kiai khos, yakni: Kiai Abdullah Abbas (Cirebon), Kiai Muslim Rifa’ie Imampuro (Klaten), Kiai Ilyas Ruhiyat (Tasiklamaya), Kiai Chudori (Magelang), dan Kiai Abdullah Faqih (Langitan). Kelima kiai khos ini menjadi rujukan spiritual Gus Dur, untuk melakukan pergerakan politik dengan jurus-jurus khas beliau.

Peran kiai khos sangat terlihat, ketika pada saat pemilihan Presiden Republik Indonesia (RI) pada 1999. Pada saat itu, ada perbedaan pendapat tentang pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Untuk menjembatani silang pendapat, para kiai mengadakan pertemuan di Pesantren Langitan, yang kemudian dikenal dengan istilah Poros Langitan. Hasil pertemuan Poros Langitan, para kiai khos merestui Gus Dur sebagai calon Presiden (Mustofa Bisri, 2008: 8). Ulama khos menjadi rujukan di tengah bangsa yang sedang bimbang dan politik kerakyatan yang hampa makna.

Silaturahmi Kebangsaan

Apa makna terpenting dari silaturahmi ulama khos di Sarang, Rembang?

Ada lima point penting, yang menjadi pesan dari Risalah Sarang. Pertama, tentang ideologi dan bentuk negara. “NU mengajak seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah,” jelas Gus Mus, yang membacakan Risalah Sarang.

Para ulama menyoroti lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi. Selain itu, NU juga mendorong pemerintah menerapkan kebijakan yang pro-kaum lemah. Pemerintah juga meminta pemerintah mengambil langkah efektif dalam menangani fenomena maraknya berita hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Risalah keempat, para kiai memberi amanah kepada para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, serta pemimpin NU untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Terakhir, para kiai mengusulkan agar diselenggarakan forum silaturahmi seluruh elemen bangsa untuk mencari solusi bagi berbagai masalah yang ada.

Pertemuan ulama yang selama ini menjadi “punjer bumi, pilar langit” (pengayom masyarakat dan penjaga spiritual) memiliki pesan berharga bagi bangsa ini. Majlis silaturahmi para kiai, menjadi media kebangkitan untuk menjaga harmoni antar kelompok sekaligus menyegarkan visi kebangsaan. Ketika kepentingan politik memecah belah umat dan munculnya ustadz-ustadz politik yang mudah menjual agama, para kiai khos membawa magnet yang kuat untuk memperbaiki bangsa sekaligus mengingatkan pemimpin agar fokus mengawal negara untuk kesejahteraan rakyat.

Di level internasional, pesan-pesan keislaman para kiai khos dapat menjadi referensi untuk memaknai nilai agama untuk kemaslahatan. Bahwa Islam memiliki tujuan sebagaimana nilai-nilai maqashid syariah: hifzud-dien (menjaga agama), hifzun-nafs (menjaga jiwa), hifzul-aql (menjaga akal), hifzun-nasl (menjaga keturunan), dan hifzul maal (menjaga harta). Prinsip kedamaian dan welas asih menjadi tujuan agama, sebagaimana teladan Nabi Muhammad Saw. Pesan kedamaian para kiai khos, yang merupakan wajah Islam Nusantara dalam keteladanan, menjadi referensi muslim dunia di tengah konflik yang terjadi di negara-negara kawasan Timur Tengah.