Pengajian Guru Zuhdi: Keajaiban yang Dirasakan Halimatus Sa’diyah Ketika Mengasuh Rasulullah

Pengajian Guru Zuhdi: Keajaiban yang Dirasakan Halimatus Sa’diyah Ketika Mengasuh Rasulullah

Pengajian Guru Zuhdi: Keajaiban yang Dirasakan Halimatus Sa’diyah Ketika Mengasuh Rasulullah

“Berilah kegembiraan bagi orang yang mencintai dengan pertemuan meski hanya lewat mimpi!”. Dalam sebuah kesempatan pengajian, Guru Zuhdi, seorang Ulama Kharismatik asal Kalimantan Selatan, murid dari Almaghfurlah Tuan Guru Zaini Sekumpul, berkisah tentang Sang Nabi. Dengan lirih, runut, dan menyentuh, penjelasan tentang sosok Nabi dalam penjelasannya Guru Zuhdi, sangat berkesan.

Wajah tampan yang selalu menggembirakan hati, wajah tampan yang mampu menghapus segala beban dan derita. Inilah yang pada masanya telah dirasakan oleh Halimatus Sa’diyah, seorang perempuan dari Bani Sa’ad.

Kebiasaan yang sudah menjadi budaya pada bangsa Arab, yaitu mempercayakan fase menyusu seorang bayi kepada perempuan-perempuan desa yang dikenal akan menjaga keutuhan karakter anak, karena pergaulan dan perempuan desa dianggap masih terjaga dari keruhnya keadaan kota.

Masa itu, setelah beberapa waktu kelahiran Rasulullah dan bayi seusianya, dikisahkan bahwa banyak perempuan-perempuan desa yang datang ke kota untuk menjemput bayi-bayi upahan mereka untuk disusui. Kebiasaan orang Arab meletakkan bayi di sekeliling ka’bah guna memudahkan para perempuan untuk menjemput bayi-bayi susuan.

Seluruh wanita yang bertandang ke Ka’bah satu persatu mulai membawa bayi susuan mereka untuk di bawa ke kampung halaman, namun ada satu perempuan yang tiba-tiba baru datang dalam keadaan terlalu lelah, lemah dan seperti menampakkan kekecewaan karena tidak memperoleh seorang bayipun.

Dalam gundah, lelah dan kecewanya, tiba-tiba ada seorang lelaki setengah baya yang datang dan mengajaknya bicara, lelaki paruh baya itu tidak lain adalah Abdul Muthallib, kakek Rsulullah SAW. Dalam pembicaraan itu, Abdul Muthallib berniat menawarkan cucu, bayi laki-lakinya (Muhammad) untuk disusui perempuan tersebut.

Wahai perempuan, siapakah nama dan dari mana asalmu?”

“Saya Halimatus Sa’diyah dari Bani Sa’ad.”

Mendengar pengakuan perempuan itu, Abdul Muthallib merasa senang karena dipertemukan dengan seorang wanita Bani Sa’ad yang bernama Halimatus Sa’diyah, sebab memang Abdul Muthallib telah mendapat pesan bahwa Rasullulah tidak boleh disusukan kepada wanita selain Halimatussa’diyah dari Bani Sa’ad.

“Maukah kau menyusui cucu laki-lakiku tanpa upah, sebab kami bukan dari keluarga yang cukup untuk memberimu upah, keputusan ku serahkan padamu”. Tanya Abdul Muttalib pada Halimatussa’diyah.  Sebagai istri yang berbakti dan taat kepada suami, Halimah tidak serta merta mengiyakan permintaan Abdul Muttalib di samping Abdul Muttalib juga mengatakan bahwa bayi susuan ini diberikan tanpa upah. Kemudian Halimah mengatakan untuk meminta pendapat terlebih dahulu pada sang suami. Setelah mendapat persetujuan dari sang suami untuk melihat terlebih dahulu siapa dan seperti apa bayi tersebut, berlanjutlah Abdul Muttalib, Halimah dan suami menuju rumah kediaman Rasulullah.

Ketika Halimah memasuki rumah Rasulullah, pemandangan pertama yang memanjakan penglihatan Halimah adalah keelokan wajah Aminah ibunda Rasulullah SAW. Halimah begitu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Aminah, lalu bagaimana tampannya bayi itu, jika memiliki seorang ibu secantik Aminah.  Setelah bertemu dengan Aminah ibunda Rasulullah, sedikit berbincang, Halimah kemudian memasuki kamar Rasulullah.

Seperti Purnama di langit jingga, tanpa arakan awan hitam yang menghalangi keindahannya, begitulah Rasulullah di mata Halimah. Seorang bayi tampan nan menawan, sekali bertemu pandang dengan senyum merekah yang memancarkan nur hingga mencapai langit, cukup sudah memberikan keajaiban, menghilangkan lelah, letih, segala beban yang ditanggung selama hidup seorang Halimah, tak terbayang jika bayi tersebut mengisi keramaian dalam rumah tangga Halimah dan suami, ingin sekali Halimah langsung menyetujui pesusuan antara dia dan bayi tersebut, namun izin suami adalah prioritas dalam ketaatan. Bersyukurnya dengan kegembiraan yang tidak berbeda dengan Halimah, sang suami mengizinkan bahkan dengan yakin mengatakan “هذا ولد مبارك”.

Setelah mendapat izin dari sang suami, Halimah pun bersepakat dengan Abdul Muttalib untuk membawa Rasulullah ke kampung halaman di Bani Sa’ad. Sebelum melakukan perjalanan pulang, Halimah dan suami berniat untuk berziarah ke Ka’bah terlebih dahulu. Sesampai di Ka’bah, Halimah dan suami ingin mencium hajar Aswad yang memang sudah masyhur fadhilahnya, keajaiban kembali dipertontonkan Allah kepada Halimah beserta suami, Hajar Aswad yang ketika itu banyak pengunjung antri untuk menciumnya, sekiranya membuat Halimah dan suami lama menunggu, serta merta datang dengan sendirinya mendekati Halimah dan suami untuk di cium. Keberkahan yang tidak di duga kembali dicecap oleh suami istri yang dengan tulus mengasuh persusuan Rasulullah tanpa pamrih.

Tidak berhenti sampai disitu, selepas mencium Hajar Aswad, Halimah dan suami bergegas menaiki unta untuk kembali ke kampung Halaman. Unta yang awalnya lemah, kekurangan bahan makan, sakit-sakitan karena tidak mendapat perawatan memadai dari Halimah dan suami, begitu saja menjadi segar bugar, sehat dan kuat ketika bertemu dengan Rasulullah. Bahkan unta tersebut seakan mengucapkan jutaan syukur kepada Allah karena doanya telah dikabulkan.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa semua binatang dan makhluk Allah lainnya lantang berdoa: “Ya Allah izinkan kami mengasuh kekasih-Mu, izinkan kami menjaga kekasih-Mu, izinkan kami bertemu kekasih-Mu”. Demikianlah, unta yang ditunggangi Halimah beserta suami pun dengan penuh semangat memacu langkah, dia bahagia, dia bergembira, karena yang di damba sekian lama, yang di cita bertahun-tahun telah dikabulkan oleh Allah.

Bertemu Rasulullah adalah kebahagian hakiki, obat yang mengobati, rindu setengah mati. Membawa Rasulullah di atas punggungnya adalah mimpi yang sengaja dianugerahkan Allah untuk membuatnya merasa mulia, untuk membuatnya bangga, untuk membuatnya terus bersyukur.  Semakin unta yang ditunggangi Halimah dan suami beserta Rasulullah semangat, semakin cepat pula ia berlari, hingga mampu mengejar perempuan-perempuan yang telah lebih dahulu membawa bayi susuan mereka. Bahkan ada yang menegur, “Wahai halimah, begitu cepatnya untamu berlari, adakah ingin kembali beriringan dengan kami?”. Halimah hanya menjawab “Kamipun hanya mengikuti saja, untalah yang berlari dengan semangat”.

Halimah dan suami merupakan salah satu keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, sehingga untuk penerangan se batang lilin saja mereka tidak bisa membeli. Namun Rasulullah, saat bayi pun sudah menunjukkan keagungannya, cahayanya memancar menerangi rumah Halimah kala malam tiba, cahayanya terang tanpa silau, bahkan sebilah jarum pun akan terlihat sebegitu terangnya. Dalam syair maulid disebutkan “Kullu baytin anta saakinuhu, laysa muhtaajan ilas suruj”, setiap rumah yang di dalamnya ada Muhammad, tak butuh apa-apa sebagai penerang. Saking benderangnya cahaya Nabi.

Keberadaan Rasulullah di kehidupan keluarga Halimah benar-benar membawa keberkahan. Binatang ternak yang semula kurus tidak terurus kini berubah gemuk dan mengahasilkan susu. Pekarangan yang kering kerontang kini gembur, menumbuhkan tanaman nan subur. Rasulullah manusia teragung, “Bassyir muhibban”, memberikan kegembiraan bagi orang-orang yang mencintai.

Pertanyaannya mengapa rasulullah peroleh kemuliaan tiada tara? Karena Rasulullah adalah seorang hamba yang benar-benar berhasil menempati kedudukannya sebagai seorang ‘abid Allah SWT.

Bayangkan kelebihan Rasulullah, bayangkan keindahan Rasulullah, seorang dengan wajah tampan yang selalu menggembirakan hati, yang mampu menghapus segala ara siapa saja yang melihatnya. Ketampanan dengan keteduhan karena iman dihatinya. Rasulullah pancaran cahaya keimanan, pecinta dan perindu ummatnya, tidak mungkin Rasulullah bisa bergembira selama ummatnya masih tersulut di neraka. Bayangkan keagungan Rasulullah sehingga terpatri tekad untuk bisa bertemu Rasulullah “Walau bi ru’yah” sekalipun hanya dalam mimpi.

Beruntunglah Sayyid Ahmad a-Rifa’I seorang Wali Allah yang ketika berziarah ke makam Rasulullah beliau berkata: “Ya Allah, ruhku telah lama berada disini. Hati dan pikiranku selalu terpaut pada mu (Rasulullah). Gerak gerikku kuusahakan menyamai gerak dan gerikmu. Ibadahku teruntuk hanya pada-Mu (Allah). Hari ini, jasad hina dan kotor ini telah berada dihadapanmu ya Rasulallah, hamba mohon فامدد يمينك agar aku bisa jua mencium tanganmu.” Seketika itu, tangan Rasulullah muncul menyalami Sayyid Ahmad ar-Rifa’i, disaksiakan seluruh peziarah.

Bahkan beliau berucap “Ya Allah butakanlah mataku, agar tak ada lagi makhluk di dunia ini yang bisa ku lihat selain bayangan Rasulullah saja.” Ungkapan yang keluar dari lidah seorang perindu Rasul, bukti betapa beliau begitu menghargai pertemuan dengan baginda Rasul SAW.

Allah maha kuasa, kapan saja Allah bisa mempertemukan kita. Maka mohonlah ampun pada Allah, haturkan permohonan agar bisa memandang wajah tampan, agung nan mulia baginda Nabi Muhammad saw, agar nanti di akhirat tidak repot mencari yang mana Rasulullah karena sudah dipertemukan sebelumnya. Sehingga kita bisa meminta syafaat langsung kepada Beliau.

Sebab, tutup Guru Zuhdi hafizhahullah, tidak ada penyakit dan beban terparah yang menghinggapi diri selain belum bertemu dengan baginda Nabi Muhammad saw. Obat dari segala penyakit. Syifaa’an min kulli daa’.

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.