Nafsu Itu Dikendalikan, Bukan Dimusnahkan

Nafsu Itu Dikendalikan, Bukan Dimusnahkan

Nafsu Itu Dikendalikan, Bukan Dimusnahkan

Bicara tentang nafsu, saya pernah mendapati sebagian orang berpendapat bahwa seharusnya nafsu itu harus bisa dihilangkan, karena istilah “nafsu” biasanya mengarah kepada sesuatu yang buruk-buruk. Berbeda dengan pendapat Abi Quraish Shihab, bahwa nafsu itu tidak dihilangkan, jangan dimusnahkan, jangan dimatikan sama sekali, tetapi dikendalikan.

Saat mba Nana, Najwa Shihab, bertanya kepada Abi Quraish

“Abi, bicara soal nafsu, karena Nana baca di bukunya Abi, salah satu hakikat berpuasa itu mengendalikan nafsu, kuncinya mengendalikan, bukan mematikan ya bi?”

“Iya, bukan mematikan, karena kita juga membutuhkan nafsu. Saat lapar, kita butuh nafsu untuk makan, ada penjajah yang masuk ke negeri kita, maka kita membutuhkan nafsu amarah untuk mengusirnya. Namun, nafsunya itu harus kita kendalikan, saat lapar kan kita makan, nah kita kendalikan nafsunya supaya jangan berlebihan dalam makan”.

“Misalnya tadi, mengendalikan nafsu saat puasa, jadi saat puasa tidak makan seharian, juga jangan sampai saat berbuka kita tidak mengendalikan nafsu sehingga makan yang macam-macam. Maka kendalikanlah nafsu itu, nah puasa itu tujuannya untuk itu. kita semua butuh makan, minum, yang sudah dewasa dan sudah menikah butuh berhubungan. Maka dikendalikan, bukan dimatikan. Dikendalikan sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Kita tidak makan dan minum”. Terang Abi Quraish menjawab pertanyaan dari mba Nana.

Lalu, saya pun bertanya dalam hati, kenapa ya “kok harus banget dikendalikan”, ya saya tahu tadi jawabannya karena supaya tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Selain itu apa ya?

Saya pun mendapat jawaban yang begitu “amiq” (dalam dan bermakna) di lembaran buku berikutnya;

“karena nafsu itu tidak ada ujungnya”

Jawaban Abi Quraish yang singkat tapi sangat bermakna. Pernahkah kita merasa puas saat dilanda nafsu? Sebagai manusia, dan manusiawi, saya pun menjawab “tidak”. Ya tidak pernah puas, karena nafsu itu tidak berujung, tidak ada ujungnya. Abi Quraish menganalogikannya seperti kita yang sedang menggaruk “borok” atau menggaruk kulit yang sedang gatal.

Bagaimana rasanya? Enak kan kalau digaruk, nyaman, karena lagi gatel, dan kalau tidak digaruk rasanya pingin garuk terus, tapi jika teru-terusan digaruk, akibatnya kulit menjadi luka, infeksi dan rusak. Abi juga menganalogikannya dengan meminum air laut, semakin diminum, maka akan semakin haus.

Abi pun mengaskan bahwa “sekali kita menyerah untuk mengendalikan nafsu, maka ia akan terus dan tak terhenti”. Nah, sekali lagi, kendalikanlah nafsu, jangan bunuh nafsu, tapi kendalikan dia.