Mimpi Bertemu Ibnul Khassyab: Banyak Ulama yang Tidak Mengamalkan Ilmunya

Mimpi Bertemu Ibnul Khassyab: Banyak Ulama yang Tidak Mengamalkan Ilmunya

Suatu hari seorang ulama bertemu Ibnul Khassyab dalam mimpinya, kata Ibnul Khassyab, “Allah berpaling dari orang yang tidak mengamalkan ilmunya.”

Mimpi Bertemu Ibnul Khassyab: Banyak Ulama yang Tidak Mengamalkan Ilmunya

Kabar kecintaannya terhadap ilmu sudah merebak seantero kota Baghdad.  Namanya Abu Muhammad, lebih dikenal dengan panggilan Ibnul Khassyab. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Ahmad bin al-Khasysyab al-Hanbali al-Baghdadi, ia lahir pada tahun 492 H dan wafat tahun 567 H. Ia adalah pakar di bidang nahwu, bahasa Arab, tafsir, qira’at dan hadis, sekaligus seorang sastrawan. tidak mengamalkan ilmunya

Sebagai ulama yang ahli di bidang ilmu nahwu pada masa itu, tidak sedikit yang mensejajarkannya dengan Abu Ali al-Farisi ulama bahasa kenamaan pada zamannya.

Ia belajar ilmu nahwu dari Abu Bakar bin Jaumurdi al-Qaththan, kemudian kepada Abul Hasan bin Zaid al-Fashihi al-Astarabadzi, lalu belajar kepada Asy- Syarif Abu as-Sa’adat asy-Syajari. Namun, ia memutuskan untuk berhenti belajar dari gurunya yang terakhir ini lantas menulis bantahan terhadap pendapat-pendapat gurunya tersebut dalam kitab al-Amali.

Syekh yang banyak berdomisili di Irak ini belajar ilmu bahasa dan sastra dari Abu Manshur al-Jawaliqi, dan ulama yang lainnya. Ia juga mempelajari perawi Hadis baik yang derajatnya tinggi maupun rendah, terus belajar sehingga mampu mengungguli rekan-rekannya. Syekh ini senantiasa belajar kepada para ulama hingga masa tuanya.

 

Pembaca Hadis yang Enak Didengar

Ciri khasnya adalah mampu membaca hadis dengan bacaan yang sangat cepat, tepat dan mudah dipahami. Imam Abu Syuja’ Umar bin Abdul Hasan al-Bustami menuturkan saat berada di Bukhara, “Tatkala aku memasuki kota Baghdad, Abu Muhammad bin Khassyab membaca di hadapanku kitab Gharibul Hadis, karya Muhammad al-Qutaibi dengan bacaan yang belum pernah aku mendengar sebelumnya, baik dari sisi ketepatan dan kecepatannya. Sejumlah orang terpandang telah menghadiri majelisnya untuk mendengar bacaannya. Mereka ingin sekali menirukannya, namun mereka tidak sanggup melakukannya. Ia gemar membaca tanpa merasa jemu,”

Satu sumber lagi menyebutkan, yaitu muridnya al-Hafidz Abu Muhammad bin Akhdar, “Suatu hari aku menemuinya saat ia sakit, sedangkan di atas dada ia terdapat sebuah kitab yang senantiasa ia perhatikan. Apa yang engkau lakukan ini?’ tanyaku. Ia menjawab ‘Ibnu Jinni menyebutkan sebuah masalah tentang ilmu Nahwu. Ia telah berusaha keras untuk menguatkannya dengan sebuah bait syair, namun ia tidak sanggup melakukannya. Sedangkan, aku telah mengetahui masalah ini sebagaimana tercantum dalam 70 bait syair. Setiap bait syair tersebut sangat tepat untuk dijadikan dalil masalah tersebut,”

Banyak orang yang berguru padanya dalam rentang waktu yang sangat lama. Sejumlah ulama telah lulus dari menimba ilmu kepada ia, baik dalam ilmu nahwu maupun lainnya. Tak sedikit pula yang banyak meriwayatkan Hadis. Ia seorang yang terpecaya dalam Hadis, jujur, cerdas, dan memiliki hujjah yang sangat kuat. tidak mengamalkan ilmunya

Bila ia menulis kitab dengan tulisan tangannya, maka kitab tersebut dihargai ratusan dinar. Orang-orang pun berlomba-lomba untuk membelinya. Ulama yang disegani masyarakatnya ini telah mengoleksi banyak kitab yang tak terhitung jumlahnya. Juga mengoleksi banyak manuskrip dari orang-orang yang memiliki keutamaan dan sejumlah juz kitab hadis.

Ibnu Najjar menyebutkan, bahwa setiap kali ada seorang ahli ilmu dan ahli Hadis meninggal dunia, maka ia akan membeli seluruh kitabnya. Sehingga, ia mampu mengoleksi kitab-kitab para syaikh.

tidak mengamalkan ilmunya

Karya dan Prestasi 

Ia menyusun syarah kitab Al-Luma’ karya Ibnu Jinni, namun belum sempat ia sempurnakan. Secara sekilas, ia men-syarahi kitab Al-Jumal karya -Az-Zujaji. Selain itu, ia men-syarahi mukaddimah yang ditulis oleh menteri Yahya bin Hubairah al-Hanbali tentang ilmu nahwu, namun ia berhenti sebelum menyempurnakannya.

Ada yang mengatakan bahwa ia mendapatkan upah dari sang menteri atas usahanya tersebut senilai seribu dinar. Sebagai seorang dermawan, Ibnul Khassyab telah mewakafkan kitab-kitabnya kepada para ahli ilmu sebelum wafat. Ia dimakamkan di pekuburan Imam Ahmad, di Bab Harb, Baghdad.

Konon, beberapa waktu setelah ia meninggal, ada yang bermimpi melihat ia dalam bentuk yang sangat baik. Lalu, ditanyakan kepadanya,

“Apa yang diberikan oleh Allah kepadamu?”

Ia menjawab, “Allah telah mengampuniku.”

“Apakah engkau telah masuk surga?”

“Ya. Namun, Allah berpaling dariku.”

Sang penanya heran. “Allah berpaling darimu?”

“Ya. Allah juga berpaling dari sebagian ulama yang tidak mengamalkan ilmunya. Rupanya banyak ulama yang sedemikian itu,” terang Ibnul Khassyab.

Demikianlah kiprah Ibnul Khassyab. (AN)

Wallahu a’lam.

 

Artikel ini sebelumnya dimuat di Majalah Nabawi Edisi 117: Ramadhan-Syawal 1438 H.