Mengapa Orang yang Malas-malasan Saat Sekolah Malah Sukses, yang Pintar Malah Biasa-biasa Saja?

Mengapa Orang yang Malas-malasan Saat Sekolah Malah Sukses, yang Pintar Malah Biasa-biasa Saja?

Mengapa Orang yang Malas-malasan Saat Sekolah Malah Sukses, yang Pintar Malah Biasa-biasa Saja?

Suatu hari adalah seseorang bertanya kepada saya, “Mengapa temen-temen saya di sekolah yang dulunya rajin belajar, pintar, bahkan jenius sekali, tetapi selanjutnya, kok, kurang beruntung dalam penghidupan ekonominya, bahkan kurang diminati dan tidak laku ilmuanya di masyarakat?

“Sementara itu, mereka yang bermalas-malasan, bodoh, tukang melawan guru, bahkan ada juga yang masih suka ngompol, tetapi kelanjutannya, kok, malah penghidupan ekonominya bagus dan berlimpah-ruah, bahkan menjadi ustadz terkenal dengan bahasa Arab yang agak dipaksanakan, bahkan mereka disambut oleh masyarakat dan sangat sukses kehidupan sosialnya?”

Saya pun hanya bisa menjawab, “Itu Kehendak Allah Ta’ala.”

Saya sengaja tidak meneruskan pembahasan hal ini, juga tidak memperdalamnya, karena saya khawatir pemikiran semacam ini masuk ke dalam hati dan merusak fikiran. Sebab, hal seperti ini adalah ranah dan domainnya Allah Ta’ala.

Dalam kitab tauhid, Hasyiyatu Ad-Dasuqiy ‘Ala Mukhtashar al-Ma’ani, ada sebuah syair dari Ibnu Rawandhi (827-911M), yang menarik untuk kita cermati dan fikirkan dalam-dalam.

كَمْ عَاقِلٍ عَاقِلٍ أَعْيَتْ مَذَاهِبُهُ # وَجَاهِلٍ جَاهِلٍ تَلْقَاهُ مَرْزُوقًا

Banyak sekali cerdik-pandai dan berilmu, tetapi miskin secara ekonomi kehidupannya. Banyak sekali orang bodoh dan tidak mengerti apapun, tetapi selalu saja berlimpah rizkinya.”

هَذَا الَّذِي تَرَكَ الْأَوْهَامَ حَائِرَةً # وَصَيَّرَ الْعَالِمَ النِّحْرِيرَ زِنْدِيقًا

Justru inilah yang sering menimbulkan gundah-gulana, sebab bingung memikirkannya.
Bahkan, orang yang amat sangat pintar sekali pun mungkin bisa menjadi zindiq, ingkar kepada Taqdir Allah karenannya.”

Dalam kitab balaghah, Jauharul Maknun dengan gaya yang hampir mirip, juga disebutkan sebuah syair yang menarik.

كَمْ مِنْ قَوِيٍّ قَوِيٍّ فِي تَصَرُّفِهِ # مُهَذَّبُ الرَّأْيِ عَنْهُ الرِّزْقُ يَنْحَرِفُ

Banyak sekali orang yang bekerja keras dan memiliki Ide yang cemerlang, akan tetapi rezekinya malahan biasa saja, bahkan sering tidak beruntung.”

وَكَمْ ضَعِيفٍ ضَعِيفٍ فِي تَقَلُّبِهِ # كَأَنَّهُ مِنْ خَلِيجِ الْبَحْرِ يَغْتَرِفُ

Banyak sekali orang yang malas bekerja, dan terlalu santai. Akan tetapi rizkinya justru mudah menghampirinya, seakan-akan laksana ia sedang di tepi laut dan mudah mengambil airnya.

هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْإِلَهَ لَهُ # فِي الْخَلْقِ سِرٌّ خَفِيٌّ لَيْسَ يَنْكَشِفُ

Ini adalah bukti bahwa Allah ta’ala memiliki rahasia yang tak terungkap, bagi mahluknya.”

Dari semua syair di atas, kita bisa ambil kesimpulan bahwa masa depan seseorang adalah kehendak dan kuasa Allah SWT. Namun kita tetap harus berusaha dan bekerja keras untuk meraih takdir tersebut. Dan jangan terlalu berfikir negatif seperti itu. Yakinlah pada firman-Nya;

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرًۢا بَصِيرًا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki dan menyempitkannya, (untuk suatu hikmah yang agung). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Al-Israa’: 30) (AN)

Wallahu a’lam.