Membincang Relasi Indonesia-China

Membincang Relasi Indonesia-China

Membincang Relasi Indonesia-China

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (LBM PWNU) Provinsi DKI Jakarta mengadakan Diskusi Publik bertema “Membincang Relasi Indonesia – China” di Aula The Wahid Institute, Matraman, Jakarta, pada hari Kamis 16 Januari 2020, dengan menghadirkan narasumber Budy Sugandi (kandidat Doktor Southwest University, China), Azmi Abu Bakar (pakar literasi China), dan Ardhitya Eduard Yeremia Lalisang, Ph.D. (Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia)—dipanggil Yeremia.

Menurut KH. Mukti Ali Qusyairi, Ketua LBM PWNU DKI Jakarta, bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi keprihatinan Pengurus LBM akibat memanasnya kembali isu anti China di Indonesia yang disebabkan isu Uyghur, Natuna, dan utang Indonesia terhadap China. Sehingga LBM sebagai thintank dan pengkaji berbagai persoalan kekinian ingin mengkaji relasi Indonesia-China bersama ahlinya, agar tidak terjebak hoax dan melihatnya secara komprehensif.

Sesuai dengan prinsip-prinsip NU dalam menyikapi berbagai persoalan dengan tawasuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), i’tidal (asas keadilan), tasamuh (toleran), dan al-muhafadzhah ‘ala qadim as-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan hal yang lama yang maslahat, dan mengambil hal baru yang lebih maslahat). Menyikapi berbagai persoalan tidak secara sporadis dan reaksional, akan tetapi terlebih dahulu dikaji secara serius untuk dijadikan bahan rumusan sikap yang matang dan maslahat.

Budy Sugandi menjelaskan bahwa berdasarkan statistik 2010 jumlah muslim di China sekitar 25 juta jiwa, dan saat ini 30 juta jiwa. Berdasarkan statistik 2015 jumlah masjid 35 ribu. Masjid pertama di China yang masih terawat yaitu Masjid Huaisheng berdiri pada 635 M, terdapat komplek makam Saad bin Abi Waqqash, seorang ulama penyebar Islam pertama di China. Terdapat 10 etnis muslim di China dan terdapat 10 institusi Islam yaitu China Islamic Institute (1955), Beijing Islamic Institute, Shenyang Islamic Institute, Xinjiang Islamic Institute, Xining Islamic Institute, Qinghai Islamic Institute, Hebei Islamic Institute, Lanzhou Islamic Institute, Kunming Islamic Institute, Zhenzhou Islamic Institute.

Menurut Budy Sugandi bahwa pemerintah China merealisasikan Pasal 36 Konstitusi Republik Rakyat China (RRC), “Warga Negara Republik Rakyat China menikmati kebebasan beragama. Tidak ada organ Negara, organisasi publik atau individu yang dapat memaksa warga untuk percaya, atau tidak percaya, apapun agama, atau mungkin mereka mendiskriminasi warga yang percaya, atau tidak percaya, agama apa pun.” Dengan berpijak pada konstitusi ini, umat Muslim dilindungi secara Undang-Undang dan memiliki kebebasan dalam mengekspresikan keberagamaannya. Sehingga pertahun umat Muslim China memberangkatkan 15 ribu jiwa. Di bidang politik, meski Partai Komunis berkuasa namun tercatat dari 2987 anggota Kongres Rakyat China atau National People’s Congres (NPC), sebanyak 97 di antaranya adalah beragama Islam.

Pada Pasal 36 Konstitusi RRC juga menetapkan bahwa “Tidak seorang pun boleh menggunakan agama untuk terlibat dalam kegiatan yang mengganggu ketertiban umum, mengganggu kesehatan warga negara atau mengganggu sistem pendidikan Negara,” dan bahwa “Badan-badan agama dan urusan agama tidak tunduk pada kontrol asing.”

Berpijak pada konstitusi ini, pemerintah RRC menindak tegas kepada The Eastern Turkistan Islamic Movement (ETIM), sebuah gerakan organisasi sparatis dan terorisme yang dibentuk oleh para militant Muslim Uyghur di barat Tiongkok dan gerakan sparatis lainnya. Tujuan mereka adalah mendirikan negara Islam di Xinjiang dan merdeka dari Tiongkok. RRC tidak sedang menindak seluruh umat Muslim, akan tetapi hanya menindak mereka yang terlibat dalam gerakan sparatis dan terorisme.

Ardhitya Eduard Yeremia Lalisang, Ph.D. menjelaskan bahwa China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, investor asing terbesar ke-2. Posisi utang luar negeri Indonesia terhadap Cina: 18 milyar USD (4,5 %). Perkembangan dalam bidang politik-strategis, yaitu kemitraan strategis (2005) dan Kemitraan Strategis Komprehensif (2013). Presiden Jokowi telah bertemu dengan Presiden Xi sedikitnya 7 kali. Tersedia mekanisme dialog bilateral level menko/wakil perdana menteri bidan politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Aktivitas IUU Fishing di ZEE Indonesia di perairan Natuna. Dilakukan kerjasama pertahanan dan keamanan non-tradisional, dan menyelesaikan perselisihan soal perbatasan perairan Natuna dengan dialog dan sejajar.

“Kebijakan luar negeri Indonesia terhadap China dekat, namun tetap berjarak dengan melihat tiga hal, yaitu politik domestik (ancaman Tionghoa sebagai pilar utama legitimasi politik order baru dan fungsional sebagai instrumen mobilisasi politik demi insentif elektoral di era pasca Reformasi, dan di sisi lain Cina menawarkan kerjasama ekonomi), psikologis (dampak pembekuan hubungan diplomatic selama 23 tahun, ketiadaan pertukaran informasi dan interaksi langsung), dan politik birokrasi, “ kata Yeremia.

Terdapat 7 Pusat Bahasa Mandarin/Kongzi Xueyuan; puluhan pusat studi Indonesia/pusat belajar Bahasa Indonesia di Cina Daratan; 2017, diplomasi Panda: Cai Tao dan Hu Chun; 2018, 15 ribu pelajar Indonesia di Cina; +/- 500 pelajar Cina di Indonesia; Kerjasama sister city dan sister province; Manifestasi minimal. Berdirinya PCI NU dan Muhammadiyah di Cina Daratan.

Memperluas cakupan interaksi dengan diplomasi multi-jalur: militer, akademisi, organisasi non-pemerintah, warga, dan kelompok bisnis, budaywan, seniman. ”Peran NU dapat memperluas cakupan interaksi Indonesia dan China, terkhusus interaksi komunitas Muslim China dan Indonesia, meningkatkan kualitas interaksi. PCI NU Tiongkok mengambil peran dalam menjembatani, menghubungkan, memediasi, memunculkan diskursus alternatif, dan memperkaya diskusi tentang China”, tutur Yeremia.

Menurut Azmi Abu Bakar, pakar literasi China dan pendiri Musium Peranakan Tionghua, bahwa hubungan Indonesia-China sudah berlangsung ribuan tahun. Pengaruh China terlihat dalam pakaian, kiliner, dan tradisi. Soekarno sendiri mengidolakan Doktor Sun Yat Sen, baik cara berorasinya maupun pemikirannya. Sebab Soekarno di masa muda pernah diajar oleh Dokter Sun Yat Sen. Bahkan Soekarno dalam pidatonya 1 Juli 1945 menyatakan bahwa ideologi Pancasila terinspirasi terhadap Weltanschauung Sun Yat Sen, yaitu San Min Chu I—Mintsu, Minchuan, Min Sheng (nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme).

“Bukan hanya China berjasa dan memberi pengaruh kepada Indonesia. Sebaliknya, Indonesia pun berjasa kepada China. Raja Sriwijaya membantu China dalam membangun sebuah kuil besar dan pembangunan infrastruktur pertanian untuk mensuport perekonomian warga setempat. Universitas Nanyang di Singapore dan universitas Xiamen China yang didirikan oleh Tan Kah kee yang dalam sejarahnya pernah diselamatkan oleh penduduk Indonesia di saat Tiongkok dijajah Jepang. Ia lari ke Indonesia dan bermukim di Batu Malang. Setelah Jepang menyerah, dan Tan Kah Kee diantar pulang ke Singapora.” Tutur Azmi Abu Bakar.