Membaca Citra Perempuan dalam Film Aladdin

Membaca Citra Perempuan dalam Film Aladdin

Sudah nonton film Aladdin? Film Aladdin dan lampu ajaibnya kembali menjadi sorotan setelah diremake versi live action oleh Walt Disney Pictures. Film fantasi musikal Amerika Serikat ini mengambil latar tempat Timur Tengah dan merupakan adaptasi dari cerita rakyat Seribu Satu Malam berjudul “Aladdin dan Lampu Ajaib”.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk meresensi isi film, bukan pula membahas persoalan Aladdin yang meminta kepada Jin dan suka mencuri hak orang lain. Tapi mencoba membaca citra perempuan yang digambarkan melalui karakter Jasmine.

Jasmine merupakan seorang putri dari sultan yang berkuasa di Kerajaan Agrabah. Tidak seperti tokoh princess lain seperti Cinderella atau Aurora yang ditampilkan “lemah” dan begitu bergantung kepada laki-laki, tokoh Jasmine justru  dilukiskan sebagai perempuan pemberani, bebas, percaya diri, peduli kepada rakyat, dan mandiri.

Read More

Setidaknya ada tiga citra perempuan yang ditampilkan dalam film ini, yaitu:

Perempuan Harus di Rumah

Puteri Jasmine dan Aladdin tanpa sengaja bertemu di pasar Agrabah. Saat itu sang putri sedang melihat keadaan rakyatnya secara sembunyi-sembunyi. Aladdin tentu sangat familiar dengan kawasan pasar, baginya pasar adalah sumber penghidupan untuk mampu bertahan hidup. Bukan dengan berjualan, tapi di sanalah tempat Aladdin mencuri.

Tapi sebaliknya, pasar merupakan tempat yang tabu bagi Putri Jasmine. Sebab puteri Jasmine dibesarkan di dalam kastil besar, ia tidak diperbolehkan melihat dunia luar, bahkan sekedar menyapa rakyatnya. Maka tak heran bila rakyat Arghabah pun tak mengenali wajah sang putri, begitupun Aladdin. Di awal pertemuannya, Putri Jasmine justru mengaku bahwa ia hanyalah pelayan di istana.

Saat Aladdin berkata bahwa sang putri tak pernah keluar melihat rakyatnya, Jasmine pun membela diri dan menjelaskan alasannya. Ia berkata bahwa sang Ratu dibunuh oleh seseorang yang tak dikenal. Sejak saat itu, kastil menjadi tertutup. Sang putri tidak diperkenankan keluar dengan bebas. Rakyat pun tak dapat memasuki kastil sembarangan, ada penjagaan ketat yang harus dilalui. Bagi sang sultan, cara melindungi anak tercintanya adalah dengan mengekangnya di kastil. Dengan demikian sang putri akan aman dan jauh dari marabahaya.

Pemikiran seperti ini sesungguhnya banyak juga berkembang di sekitar kita. Misalnya perempuan sering kali disalahkan saat ada kasus pemerkosaan, karena pakaiannya yang ketat, karena keluar sendirian, pulang malam dan lain sebagainya.

Domestifikasi perempuan memang erat kaitannya dengan budaya patriarkhi ratusan tahun silam, bahkan dapat ditemukan pula dalam teks-teks agama yang menganjurkan perempuan di rumah, karena ia dianggap sebagai aurat dan sumber fitnah. Selain itu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah dan tidak dapat menjaga dirinya sendiri dan cara terbaik untuk melindungi mereka adalah dengan menyuruhnya berdiam di rumah.

Dalam kitab ‘Uyunul Akhbar bahkan disebutkan bahwa Umar bin Khattab berkata:

النساء عورة فاستروها بالبيوت، وداووا ضعفهن بالسكوت

Perempuan adalah aurat, maka lindungilah ia dengan rumah dan obatilah kelemahannya dengan diam (banyak mengalah).

Perempuan  Tidak Punya Hak untuk Bersuara

Suara Princess Jasmine seringkali dibungkam dan tidak didengarkan. Terlebih ketika Ja’far, sang wazir kerajaan Aghrabah berupaya merebut posisi Sultan dari tangan ayah Jasmine

Namun Princess Jasmine justru dengan berani menyatakan pendapatnya dan melawan Ja’far yang berlaku curang dan semena-mena. Ia bahkan meluapkan perasaannya melalui lagu “Speechless”.

Perempuan Tidak Boleh Menjadi Pemimpin

Dalam film ini ditampilkan bahwa posisi “Sultan” selalu ditempati oleh laki-laki, sedangkan perempuan tidak memiliki hak untuk menjadi pemimpin. Oleh karena itu, Putri Jasmine hendak dinikahkan oleh sang ayah, agar kelak suami Jasmine dapat menggantikan posisinya sebagai Sultan. Namun Jasmine senantiasa meyakinkan ayahnya bahwa ia mampu dan layak menjadi sultan.

Puteri Jasmine justru berupaya untuk menghancurkan dinding-dinding yang menyekatnya. Ia mencoba mendapatkan haknya. Ia tak diam begitu saja ketika geraknya dibatasi, ia berusaha keluar dari istana secara diam-diam untuk melihat keadaan rakyatnya.

Ia juga membuktikan bahwa perempuan juga memiliki hak bersuara dan hak untuk didengar. Jasmine juga membuktikan bahwa ia layak menjadi sultan, mampu memerintah rakyatnya. Di akhir film ini, akhirnya sang ayah percaya bahwa Putri Jasmine mampu menggantikan tahtanya, sang sultan pun akhirnya menyerahkan tampuk pemerintahan kepada putrinya.